AFTECH Klaim Pindar Jadi Pintu Masuk Keuangan Formal

8 hours ago 6

Selular.ID – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengungkapkan bahwa industri pinjaman daring (pindar) telah menyalurkan pendanaan dengan akumulasi lebih dari Rp1.388 triliun sejak mulai beroperasi di Indonesia.

Penyaluran tersebut telah menjangkau lebih dari 169 juta borrower aktif dan menjadi salah satu instrumen pendukung inklusi keuangan, terutama bagi masyarakat yang belum terlayani layanan perbankan formal.

Data yang disampaikan AFTECH menunjukkan bahwa sekitar 38 hingga 40 persen penerima pendanaan berasal dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sebagian besar di antaranya memperoleh akses pembiayaan formal untuk pertama kalinya melalui platform pindar yang berizin dan diawasi regulator.

Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal AFTECH,, mengatakan bahwa industri pindar selama ini kerap dinilai hanya dari sisi risiko, sementara kontribusinya terhadap akses keuangan dan aktivitas ekonomi masyarakat belum banyak disorot.

“Ada ketidakseimbangan narasi yang perlu dikoreksi, salah satunya tentang jutaan borrower yang berhasil tidak pernah jadi berita. Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh,” ujar Firlie.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Menurut AFTECH, lebih dari 90 persen borrower tercatat memenuhi kewajiban pembayaran sesuai perjanjian.

Angka tersebut disebut mencerminkan tingkat disiplin pembayaran yang relatif tinggi di tengah perluasan akses pembiayaan digital kepada masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan formal.

Firlie menambahkan bahwa AFTECH terus mendorong penerapan tata kelola yang bertanggung jawab di seluruh anggota yang bergerak di sektor pindar.

Upaya tersebut mencakup transparansi biaya dan bunga, perlindungan konsumen, serta mekanisme pengaduan yang dapat diakses publik.

“Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. AFTECH tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif. Kami adalah mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan itu,” kata Firlie.

Dampak pembiayaan digital juga terlihat dari pengalaman sejumlah penyelenggara pindar yang menjadi anggota AFTECH.

Nucky Poedjiardjo, Direktur Utama Easycash menilai bahwa akses pembiayaan digital sering kali menjadi langkah awal bagi pelaku usaha kecil untuk membangun rekam jejak keuangan dan kemudian masuk ke sistem perbankan formal.

Menurut Nucky, perusahaan melihat sejumlah borrower yang awalnya memanfaatkan pinjaman untuk kebutuhan usaha skala kecil, kemudian mampu mengembangkan bisnisnya dan memperluas aktivitas ekonomi dalam beberapa tahun berikutnya.

“Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya,” ujar Nucky.

Pandangan serupa disampaikan Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Yonathan Gautama.

Ia mengatakan bahwa pendanaan produktif yang disalurkan melalui platform digital tidak hanya berdampak pada penerima pinjaman, tetapi juga menciptakan efek berganda pada aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Yonathan menjelaskan bahwa akses modal bagi masyarakat yang sebelumnya belum memenuhi persyaratan lembaga keuangan formal dapat membantu meningkatkan perputaran ekonomi lokal, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan usaha pemasok di tingkat komunitas.

Saat ini AFTECH menaungi sembilan penyelenggara pindar aktif, yaitu Easycash, Samir, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana, dan Danai. Seluruh platform tersebut beroperasi dalam kerangka regulasi yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebagai bagian dari penguatan transparansi industri, AFTECH juga mendorong seluruh anggota untuk mempublikasikan data kinerja secara berkala.

Data tersebut mencakup tingkat pengembalian pinjaman (repayment rate), jumlah UMKM yang memperoleh pendanaan, serta laporan audit terkait aktivitas penagihan.

Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kontribusi industri pindar terhadap inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah meningkatnya adopsi layanan keuangan digital,

Baca Juga:Aftech dan Advance.AI Soroti Ancaman Deepfake Keuangan

AFTECH menilai transparansi dan tata kelola yang baik akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan industri fintech di Indonesia.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online