Cloudera: Ketahanan Telekomunikasi Bergantung pada AI Tepercaya

7 hours ago 6

Selular.ID – Cloudera menilai ketahanan industri telekomunikasi di era kecerdasan buatan atau AI tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga jaringan tetap aktif.

Dalam pandangan yang disampaikan Athul Prasad, Global Director AI Industry Solutions Telco, Media & Entertainment Cloudera, ketahanan kini bergantung pada kemampuan operator mengelola data, mengorkestrasi jaringan yang semakin kompleks, serta menerapkan AI secara aman dalam skala besar.

Pandangan tersebut disampaikan bertepatan dengan tema World Telecommunication and Information Society Day (WTISD) 2026, yaitu “Strengthening resilience in a connected world”.

Tema itu menyoroti pentingnya membangun konektivitas yang lebih tangguh di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap infrastruktur digital global.

Menurut Cloudera, tantangan ketahanan jaringan semakin kompleks seiring pertumbuhan trafik data dan perluasan ekosistem telekomunikasi modern.

Jaringan saat ini tidak hanya bergantung pada infrastruktur terestrial atau menara seluler, tetapi juga melibatkan kabel bawah laut, satelit, pusat data, hingga sistem AI yang bekerja secara real-time untuk mendukung operasional.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan kebutuhan kapasitas jaringan secara global.

Berdasarkan proyeksi Ericsson, trafik data seluler dunia diperkirakan mencapai 280 exabyte per bulan pada 2030, sementara jumlah pelanggan 5G diproyeksikan menembus 6,3 miliar pengguna atau sekitar dua pertiga dari seluruh pelanggan seluler global.

Di Indonesia, implementasi jaringan 5G juga terus berkembang dengan jangkauan yang disebut telah hadir di 48 kota.

Ekspansi tersebut mendorong operator untuk mengelola volume data yang semakin besar dan infrastruktur yang semakin terdistribusi.

Athul Prasad menjelaskan bahwa ketahanan di era AI akan ditentukan oleh tiga fondasi utama, yakni kedaulatan data, orkestrasi jaringan yang cerdas, dan pengoperasian AI yang dapat dipercaya.

Aspek pertama yang disoroti adalah kontrol terhadap data atau data sovereignty.

Menurut Cloudera, operator telekomunikasi kini menghadapi tantangan yang lebih besar terkait pengelolaan arus data di berbagai lingkungan digital.

Kondisi tersebut muncul karena operator tidak lagi sekadar menyediakan layanan konektivitas.

Perusahaan telekomunikasi mulai mengembangkan layanan berbasis AI, network API, hingga model pemrosesan data yang berjalan secara terdistribusi.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan harus mengetahui ke mana data bergerak, bagaimana data diproses, serta siapa yang memiliki akses terhadap data sensitif.

Faktor ini menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global dan meningkatnya perhatian terhadap keamanan data.

Cloudera menilai teknologi seperti data lineage dan data fabric dapat membantu operator memahami alur data secara lebih menyeluruh.

Data lineage berfungsi melacak perjalanan data sejak sumber awal hingga pemanfaatannya, sementara data fabric memungkinkan integrasi data yang lebih konsisten di berbagai sistem.

Selain data, kompleksitas jaringan juga menjadi perhatian berikutnya.

Menurut Cloudera, ketahanan masa depan akan sangat dipengaruhi kemampuan operator mengelola jaringan yang semakin berlapis, termasuk integrasi antara jaringan terestrial dengan jaringan non-terestrial seperti satelit.

Integrasi satelit mulai dipandang sebagai lapisan cadangan yang penting ketika terjadi gangguan konektivitas, masalah lingkungan, atau gangguan pada jaringan backhaul.

Namun tantangan utama bukan sekadar menghubungkan jaringan tersebut, melainkan mengelolanya agar pengguna tidak merasakan gangguan layanan.

Dalam konteks ini, AI berperan mengatur perpindahan konektivitas, mengelola mobilitas pengguna, dan mengoptimalkan proses signaling secara otomatis.

Cloudera juga mengutip temuan Data Readiness Index terbarunya yang menunjukkan tiga dari lima responden industri telekomunikasi menyebut kinerja infrastruktur masih menjadi penghambat utama bagi inisiatif operasional.

Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sektor industri lain yang disurvei.

Tantangan berikutnya berada pada tahap implementasi AI dalam operasional jaringan.

Meskipun AI semakin banyak dibicarakan di industri telekomunikasi, sebagian besar operator masih berada pada tahap awal adopsi.

Laporan McKinsey yang dikutip Cloudera menunjukkan sekitar 50 persen eksekutif tingkat C di industri telekomunikasi telah melihat dampak AI dan AI generatif terhadap bisnis.

Namun sekitar 45 persen responden masih menganggap data sebagai hambatan utama dalam pengembangan sistem AI berbasis agen atau agentic AI.

Temuan serupa juga muncul dalam IDC InfoBrief untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Studi tersebut menunjukkan bahwa AI dipandang mampu mendorong transformasi bisnis secara signifikan, namun keterbatasan akses dan pengelolaan data masih menjadi tantangan utama implementasi.

Cloudera menilai pengembangan AI pada industri telekomunikasi tidak cukup hanya berfokus pada otomatisasi.

Operator juga perlu membangun fondasi tata kelola yang kuat, termasuk sistem pengawasan, explainability atau kemampuan menjelaskan keputusan AI, observability, dan akuntabilitas sistem.

Bagi industri telekomunikasi, perubahan menuju jaringan berbasis AI dipandang bukan sekadar peningkatan teknologi operasional.

Perubahan ini juga menyangkut bagaimana operator menjaga keseimbangan antara otomatisasi, keamanan, dan kepercayaan pengguna ketika kecerdasan buatan semakin tertanam di seluruh ekosistem jaringan.

Baca Juga: Cloudera Klaim Cetak Kinerja Terbaik FY26, Perkuat Strategi Data Hybrid dan AI

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online