loading...
Listya Endang Artiani, Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia. Foto: Dok SindoNews
Listya Endang Artiani
Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia
Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah mungkin hanya dipahami sebagai naiknya harga dolar. Namun bagi investor dan pelaku pasar keuangan, depresiasi rupiah merupakan sinyal yang jauh lebih serius: meningkatnya risiko ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda.
Tekanan terhadap rupiah memang tidak terjadi dalam ruang kosong. Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve Amerika Serikat yang bertahan lebih lama dari perkiraan pasar membuat arus modal global kembali mengalir menuju aset berbasis dolar. Investor internasional melihat instrumen keuangan AS sebagai pilihan yang lebih aman sekaligus lebih menguntungkan.
Di saat bersamaan, ketegangan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, hingga kekhawatiran resesi di berbagai kawasan memperkuat fenomena flight to quality. Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor cenderung meninggalkan aset berisiko di negara berkembang dan memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih stabil seperti obligasi pemerintah AS dan dolar Amerika.
Namun, menyalahkan faktor global semata tentu tidak cukup. Pelemahan rupiah saat ini juga menunjukkan bahwa pasar sedang menguji kekuatan fundamental ekonomi Indonesia sekaligus membaca arah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia. Di sinilah konsep Impossible Trinity atau Trilemma dalam ekonomi makro internasional menjadi relevan untuk memahami situasi yang sedang terjadi.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa sebuah negara tidak mungkin secara bersamaan menjaga tiga hal sekaligus yaitu mempertahankan nilai tukar tetap stabil, membiarkan arus modal asing bebas keluar-masuk, dan menjalankan kebijakan moneter independen melalui pengaturan suku bunga sesuai kebutuhan domestik. Negara hanya bisa memilih dua dari tiga tujuan tersebut secara bersamaan.
.png)

















































