Gawat! Malware Indonesia Bisa Intip WhatsApp dan Curi OTP

16 hours ago 11

Selular.ID – Pengguna Android di Indonesia perlu semakin berhati-hati menginstal aplikasi dari luar Google Play Store.

Peneliti keamanan siber menemukan malware Android bernama Mantax Otax yang diduga dikembangkan pelaku asal Indonesia dan memiliki kemampuan berbahaya, mulai dari mengintip chat WhatsApp, mencuri kode OTP, merekam layar hingga mengunci file korban untuk meminta tebusan.

Temuan tersebut diungkap tim peneliti keamanan siber zLabs dari Zimperium. Mereka menemukan dua varian malware Mantax Otax, yakni V1 dan V2, yang beredar dalam bentuk file APK di luar toko aplikasi resmi.

Malware tersebut didistribusikan melalui sumber pihak ketiga, termasuk layanan berbagi file, Telegram, forum dan kanal lainnya.

Pelaku kemudian mengandalkan teknik phishing dan social engineering untuk membujuk calon korban memasang APK berbahaya tersebut.

Bisa Baca Chat WhatsApp hingga Curi OTP

Bahaya Mantax Otax muncul setelah korban memberikan hak administrator perangkat dan izin Accessibility Service.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Izin tersebut membuat malware memperoleh kemampuan luas untuk mengawasi aktivitas pada perangkat. Mantax Otax dapat membaca informasi yang muncul melalui WhatsApp dan Telegram serta mengambil sejumlah data sensitif.

Yang lebih mengkhawatirkan, malware ini juga dapat menangkap kode OTP dari SMS, selain mengincar PIN layar, kontak, log panggilan, riwayat browser, akun Google hingga informasi lokasi pengguna.

Baca juga:

Kemampuan membaca percakapan WhatsApp tersebut tidak berarti Mantax Otax berhasil membobol sistem enkripsi WhatsApp.

Malware bekerja dari sisi perangkat korban dengan menyalahgunakan Accessibility Service. Ketika percakapan sudah tampil pada perangkat, malware dengan izin tersebut dapat membaca elemen antarmuka yang ditampilkan di layar.

Ini menjadi pembeda penting. Enkripsi percakapan tidak otomatis menyelamatkan pengguna apabila perangkat yang digunakan sudah dikuasai malware.

Kamera HP Bisa Diaktifkan Diam-diam

Kemampuan Mantax Otax tidak berhenti pada pencurian pesan.

Malware dilaporkan dapat mengakses kamera depan maupun belakang untuk mengambil foto tanpa sepengetahuan pengguna. Aktivitas pada layar juga dapat direkam menjadi video dan dikirim ke infrastruktur yang digunakan pelaku.

Kombinasi tersebut membuat Mantax Otax lebih berbahaya dibandingkan malware pencuri data biasa.

Zimperium menemukan malware ini menggabungkan beberapa karakteristik ancaman sekaligus, termasuk infostealer, remote access trojan (RAT), backdoor dan ransomware. Kombinasi banyak fungsi berbahaya dalam satu malware Android relatif tidak biasa.

Sudah Curi Data, File Korban Ikut Dikunci

Setelah mengumpulkan informasi, Mantax Otax juga dapat menjalankan fungsi ransomware.

Malware mengenkripsi foto, video, dokumen, database dan sejumlah file lain menggunakan algoritma AES dengan kunci unik pada setiap perangkat. Setelah itu, korban dapat dihadapkan pada permintaan tebusan dan sarana komunikasi untuk melakukan negosiasi dengan pelaku.

Serangan tersebut pada dasarnya membuka kemungkinan terjadinya pemerasan ganda. Korban bukan hanya kehilangan akses terhadap file, tetapi juga menghadapi risiko data yang telah dicuri digunakan sebagai tekanan agar membayar tebusan.

Fungsi enkripsi ransomware Mantax Otax terutama efektif pada Android 9 atau versi lebih lama. Android 10 dan versi setelahnya memiliki mekanisme Scoped Storage yang membatasi kemampuan aplikasi mengakses file di luar ruang penyimpanannya sendiri.

Namun bukan berarti pengguna Android lebih baru dapat mengabaikan ancaman ini. Kemampuan pencurian informasi dan penyalahgunaan izin tetap menjadi alasan untuk menghindari APK mencurigakan.

Pengguna Android Indonesia Jadi Sasaran

Peneliti menemukan indikasi bahwa kampanye Mantax Otax secara khusus berkaitan dengan Indonesia. Petunjuk tersebut antara lain berasal dari penggunaan bahasa dan file korban yang dianalisis.

Varian terbaru bahkan menggunakan protokol WebSocket, menunjukkan malware masih dikembangkan dan kemampuan komunikasinya terus berevolusi.

Bagi pengguna Android, pertahanan paling sederhana justru dimulai sebelum malware masuk ke ponsel. Hindari menginstal APK dari tautan tidak dikenal, pesan WhatsApp, Telegram, media sosial maupun situs yang tidak dapat diverifikasi.

Pengguna juga perlu curiga ketika aplikasi yang fungsi normalnya tidak membutuhkan akses luas tiba-tiba meminta Accessibility Service, Device Administrator, akses SMS, kamera atau perekaman layar.

Kasus malware Mantax Otax sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman terhadap WhatsApp dan kode OTP tidak selalu membutuhkan pembobolan sistem layanan tersebut. Ketika pengguna memberikan izin berbahaya kepada aplikasi yang salah, ponsel itu sendiri dapat berubah menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mengawasi hampir seluruh aktivitas digital korban.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online