Morowali (ANTARA) – GEM Co., Ltd. bersama PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) memfasilitasi pembentukan sejumlah perusahaan milik desa di sekitar kawasan International Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari upaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Dengan mengusung semangat “satu orang bekerja, satu keluarga sejahtera, satu desa berkembang”, GEM dan BNSI mengembangkan model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui pembentukan perusahaan milik desa di Sambalagi, Were'ea, dan desa-desa lainnya. Melalui skema ini, masyarakat tidak hanya memperoleh kesempatan kerja yang lebih luas, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pemegang saham sehingga dapat menikmati manfaat langsung dari pertumbuhan industri.
Hingga kini, inisiatif tersebut telah menciptakan lebih dari 500 lapangan kerja dan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat yang mencapai lebih dari Rp20 miliar.
"Filosofi pembangunan GEM adalah co-development and shared prosperity—bertumbuh bersama dan berbagi kesejahteraan. Kami tidak ingin hanya membangun kawasan industri, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih sejahtera. Ketika masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak, memiliki perusahaan sendiri, menguasai keterampilan baru, dan menikmati infrastruktur yang lebih baik, saat itulah investasi benar-benar memberikan nilai bagi daerah. Itulah komitmen yang terus kami wujudkan di sekitar kawasan IGIP," kata Chairman GEM, Prof. Xu Kaihua.
Sejak 2025, GEM dan BNSI memetakan berbagai kebutuhan operasional kawasan IGIP, mulai dari transportasi, konstruksi, logistik hingga layanan penunjang lainnya. Kebutuhan tersebut kemudian dipadukan dengan potensi masyarakat melalui pendampingan pembentukan badan usaha yang dikelola oleh warga desa.
Salah satu perusahaan yang telah beroperasi adalah PT Cakrawala Mandiri Morowali, perusahaan transportasi lokal yang melayani mobilitas pekerja di kawasan IGIP. Perusahaan ini menyediakan layanan penjemputan dari Bandara Halu Oleo Kendari hingga transportasi harian bagi karyawan. Kehadirannya turut membuka peluang kerja bagi puluhan pengemudi lokal dengan pendapatan yang lebih stabil.
Selain perusahaan transportasi, sejumlah perusahaan konstruksi, penyedia tenaga kerja, dan distribusi bahan pangan juga telah dibentuk dan mulai beroperasi di Desa Sambalagi dan Desa Were'ea. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya memperluas kesempatan kerja, tetapi juga memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Dewi Rahmawati, warga Desa Sambalagi, mengaku memperoleh manfaat nyata sejak kawasan IGIP mulai berkembang.
"Dulu saya mengandalkan hasil melaut dan bertani dengan pendapatan yang tidak menentu. Setelah kawasan IGIP beroperasi, saya mendapat pekerjaan di perusahaan konstruksi milik desa dan kini memiliki penghasilan tetap setiap bulan," katanya.
Perwakilan GEM, BNSI, pemerintah desa, aparat kepolisian, dan masyarakat berfoto bersama usai kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan tenaga kerja lokalUntuk memastikan perusahaan-perusahaan lokal mampu berkembang secara mandiri, GEM dan BNSI juga menyelenggarakan berbagai program peningkatan kapasitas bagi masyarakat. Sejak 2025, hampir 100 program pelatihan telah dilaksanakan dengan melibatkan lebih dari 500 peserta, mencakup keterampilan konstruksi, operasional alat, manajemen proyek, hingga pendampingan teknis oleh para insinyur perusahaan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Morowali, Tasrun, menilai pendekatan yang diterapkan kawasan IGIP telah membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh bersama industri.
"Kehadiran IGIP memberikan peluang kerja sama yang lebih besar bagi pengusaha lokal, khususnya di sektor logistik, transportasi, dan konstruksi. Model seperti ini memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Selain membuka lapangan kerja, perusahaan juga terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal melalui pendidikan vokasi, pendampingan teknis, serta program beasiswa di bidang metalurgi bagi putra-putri Sulawesi Tengah. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk membangun ekosistem industri yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara industri, pemerintah desa, dan masyarakat, GEM dan BNSI berharap model pemberdayaan berbasis perusahaan milik desa dapat menjadi contoh bagaimana hilirisasi mineral tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi industri nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan operasional.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
.png)

















































