Gigamon Soroti Tantangan Keamanan Cloud di Era Adopsi AI Indonesia

5 hours ago 6

Selular.ID – Gigamon menilai meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia membawa tantangan baru dalam pengelolaan keamanan cloud.

Seiring AI mulai digunakan pada lingkungan operasional dan bukan lagi sekadar tahap uji coba, perusahaan menghadapi kompleksitas yang lebih tinggi dalam menjaga visibilitas, kepatuhan, serta pengendalian risiko di infrastruktur digital yang semakin tersebar.

Pernyataan tersebut disampaikan Gigamon pada 7 Juli 2026 di Jakarta, di tengah percepatan transformasi digital nasional yang juga didorong oleh implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

Transformasi tersebut membuat AI semakin bergantung pada berbagai layanan cloud, aplikasi bisnis, alur pemrosesan data (data pipeline), hingga identitas mesin (machine identities) yang menghubungkan berbagai sistem. Kondisi ini menciptakan lingkungan hybrid yang mengombinasikan sistem lama (legacy), private cloud, public cloud, dan layanan Software-as-a-Service (SaaS), sehingga memperluas area yang harus diamankan oleh organisasi.

Steve Goudreault, Cloud Security Evangelist Gigamon, mengatakan bahwa peningkatan skala penggunaan AI menuntut perusahaan memiliki visibilitas yang lebih menyeluruh terhadap seluruh lingkungan cloud. Menurutnya, mengetahui lokasi penyimpanan data saja tidak lagi memadai karena organisasi juga harus mampu memastikan data tersebut terlindungi, dapat dipantau, dan dikelola secara konsisten.

Di Indonesia, isu tata kelola data semakin mengemuka setelah berakhirnya masa transisi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Regulasi tersebut mendorong organisasi, terutama di sektor yang memiliki kewajiban kepatuhan tinggi, untuk memperkuat akuntabilitas dalam pengelolaan data sekaligus meningkatkan ketahanan infrastruktur digital.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Situasi tersebut membuat banyak perusahaan mulai mempertimbangkan penggunaan sovereign cloud, cloud lokal, maupun hybrid cloud. Pertimbangan itu dipengaruhi oleh meningkatnya perhatian terhadap keamanan siber, kedaulatan data, serta kebijakan teknologi yang kini menjadi bagian dari strategi investasi digital perusahaan.

Meski demikian, Gigamon menilai lokasi penyimpanan data bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keamanan. Organisasi tetap membutuhkan visibilitas menyeluruh terhadap aktivitas di dalam lingkungan cloud, termasuk siapa yang mengakses data, bagaimana komunikasi antarsistem berlangsung, serta apakah kontrol keamanan berjalan sesuai kebijakan.

Steve menjelaskan bahwa keputusan terkait cloud kini telah berkembang menjadi isu bisnis, bukan sekadar persoalan arsitektur teknologi. Menurutnya, pilihan infrastruktur cloud berpengaruh terhadap kepercayaan regulator, pelanggan, dan keberlangsungan operasional perusahaan sehingga pengelolaan risikonya tidak dapat hanya dibebankan kepada tim teknologi informasi.

Gigamon juga mengaitkan tantangan tersebut dengan meningkatnya ancaman siber di Indonesia. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang 2024 tercatat lebih dari 609 juta serangan siber, sementara serangan malware meningkat 12,67 persen. Bagi organisasi yang mengelola data pelanggan, sistem pembayaran, maupun rantai pasok digital, kondisi tersebut menunjukkan besarnya risiko apabila aktivitas jaringan tidak dapat dipantau secara menyeluruh.

Tren serupa juga terlihat pada tingkat regional. Gigamon melalui laporan 2026 Hybrid Cloud Security Survey menyebutkan bahwa kebocoran data di organisasi yang disurvei di kawasan Asia Pasifik meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan yang sama menunjukkan lebih dari sembilan dari sepuluh pemimpin TI dan keamanan mulai berinvestasi pada teknologi keamanan baru untuk mengatasi keterbatasan visibilitas di lingkungan hybrid cloud.

Menurut Gigamon, salah satu tantangan terbesar adalah pergerakan lateral (lateral movement), yakni ketika ancaman berpindah dari satu sistem ke sistem lain melalui lalu lintas internal tanpa mudah terdeteksi oleh perangkat keamanan konvensional. Pada lingkungan berbasis AI, aktivitas berbahaya bahkan dapat menyamar sebagai lalu lintas sistem yang tampak normal sehingga membutuhkan pemantauan jaringan yang lebih mendalam.

Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan berbagai perangkat keamanan. Riset Gigamon menunjukkan tim keamanan rata-rata mengoperasikan sekitar 15 solusi keamanan pada lingkungan hybrid. Namun, sebanyak 55 persen responden mengaku kumpulan perangkat tersebut masih belum mampu memberikan visibilitas yang cukup untuk mendeteksi maupun merespons insiden kebocoran data secara efektif.

Persoalan lain yang dinilai semakin penting adalah kualitas data. Sebanyak 46 persen pemimpin TI dan keamanan yang disurvei menyatakan organisasi mereka masih kekurangan data yang bersih dan berkualitas tinggi untuk mendukung penerapan AI secara aman. Padahal, kualitas data menjadi faktor penting karena AI kini mulai dimanfaatkan dalam proses keamanan, kepatuhan, dan tata kelola. Data yang tidak akurat berpotensi menghasilkan analisis maupun keputusan yang keliru.

Gigamon melihat AI juga dapat menjadi bagian dari solusi apabila didukung data yang lengkap dan berkualitas. Analisis terhadap telemetri jaringan dalam skala besar memungkinkan AI mengidentifikasi anomali, menemukan potensi pelanggaran kepatuhan, serta membantu memprioritaskan risiko yang sebelumnya sulit dikenali secara manual. Pendekatan tersebut dinilai dapat mempercepat investigasi insiden sekaligus mendukung proses audit dan pelaporan regulasi.

Perusahaan menekankan bahwa observability atau kemampuan memperoleh visibilitas mendalam terhadap aktivitas jaringan menjadi fondasi penting dalam membangun bukti operasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Informasi tersebut dibutuhkan untuk memastikan pergerakan data sensitif, komunikasi antarsistem, dan efektivitas kontrol keamanan dapat diverifikasi sebelum terjadi insiden, audit, maupun pemeriksaan regulator.

Steve menambahkan bahwa keberhasilan implementasi AI ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan organisasi menjaga keamanan sekaligus membuktikan efektivitas kontrol yang diterapkan. Menurutnya, perusahaan yang mampu mempertahankan keamanan data, sistem, dan kepercayaan pemangku kepentingan akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam memperluas pemanfaatan AI di masa mendatang.

Baca Juga:

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online