Jakarta -
Bunda mungkin pernah mendengar bahwa kehamilan bisa menurunkan risiko kanker payudara. Hal ini memang benar, terutama jika seorang wanita hamil di usia muda dan menyusui setelah melahirkan. Namun, para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak berarti ibu hamil atau ibu yang sudah pernah melahirkan sepenuhnya bebas dari risiko kanker payudara.
Bahkan, dalam beberapa kondisi, perubahan hormon selama kehamilan justru dapat membuat kanker payudara lebih sulit dikenali sejak dini. Karena itu, penting bagi Bunda untuk tetap memahami tanda-tandanya dan rutin memeriksa kesehatan payudara.
Menurut para peneliti, kehamilan membantu sel-sel payudara mengalami pematangan sempurna sehingga lebih tahan terhadap perubahan abnormal yang dapat memicu kanker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menemukan bahwa kehamilan menyebabkan perubahan permanen pada jaringan payudara yang dapat membantu melindungi tubuh dari kanker payudara di kemudian hari.
Selain itu, kehamilan dan menyusui juga dapat mengurangi jumlah siklus menstruasi seorang wanita sepanjang hidupnya. Artinya, paparan hormon estrogen yang berlebihan salah satu faktor risiko kanker payudara menjadi lebih rendah.
Penelitian dari American Cancer Society juga menyebutkan bahwa perempuan yang melahirkan anak pertama sebelum usia 30 tahun cenderung memiliki risiko kanker payudara lebih rendah dibandingkan yang belum pernah hamil.
Meski begitu, perlindungan dari kehamilan bukan berarti risiko kanker payudara hilang total. Dalam beberapa tahun pertama setelah melahirkan, risiko kanker payudara justru dapat sedikit meningkat sementara waktu.
Sebuah studi besar yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine menemukan bahwa risiko kanker payudara dapat meningkat selama sekitar 5 hingga 10 tahun setelah melahirkan sebelum akhirnya menurun dalam jangka panjang. Para peneliti menduga perubahan hormon dan proses peradangan alami pada jaringan payudara setelah melahirkan berperan dalam kondisi ini.
Kanker payudara saat hamil bisa terjadi
Kanker payudara yang terjadi selama kehamilan dikenal sebagai pregnancy-associated breast cancer. Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi tetap mungkin dialami ibu hamil atau wanita yang baru melahirkan.
Masalahnya, perubahan payudara saat hamil sering membuat gejala kanker sulit dikenali. Payudara yang membesar, terasa lebih padat, atau nyeri sering dianggap sebagai perubahan normal kehamilan. Padahal, Bunda tetap perlu waspada jika menemukan tanda seperti:
- Benjolan yang tidak hilang
- Kulit payudara tampak seperti kulit jeruk
- Puting tertarik ke dalam
- Keluar cairan berdarah dari puting
- Payudara terasa sangat keras atau berubah bentuk
Jika mengalami tanda-tanda tersebut, segera konsultasikan ke dokter.
Menyusui juga berperan melindungi payudara
Selain kehamilan, menyusui juga diketahui dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Para ahli menyebut, semakin lama seorang ibu menyusui, semakin besar efek perlindungan yang bisa didapatkan.
Penelitian besar yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menemukan bahwa risiko kanker payudara dapat menurun sekitar 4,3 persen untuk setiap 12 bulan seorang ibu menyusui. Studi tersebut menganalisis data dari lebih dari 150 ribu perempuan di berbagai negara.
Para peneliti menduga ada beberapa alasan mengapa menyusui dapat membantu melindungi payudara dari kanker. Salah satunya karena menyusui membantu mengurangi jumlah siklus menstruasi selama hidup seorang perempuan sehingga paparan hormon estrogen menjadi lebih rendah. Paparan estrogen berlebih diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara.
Selain itu, selama proses menyusui, tubuh juga akan melepaskan sel-sel payudara secara alami. Proses ini diyakini membantu menghilangkan sel yang mungkin mengalami kerusakan DNA atau perubahan abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.
Menurut American Cancer Society, ibu yang menyusui dalam waktu lebih lama umumnya memiliki risiko kanker payudara yang lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak menyusui sama sekali.
Tak hanya bagi ibu, menyusui juga memberikan banyak manfaat untuk bayi, termasuk membantu membangun sistem imun, menurunkan risiko infeksi, dan mendukung tumbuh kembang optimal Si Kecil.
Meski demikian, penting dipahami bahwa menyusui bukan jaminan seseorang pasti terhindar dari kanker payudara. Bunda tetap dianjurkan menjalani pola hidup sehat dan rutin memeriksa kondisi payudara agar perubahan yang tidak normal bisa terdeteksi lebih awal.
Faktor risiko kanker payudara tetap perlu diperhatikan
Walaupun pernah hamil dan menyusui, beberapa faktor lain tetap dapat meningkatkan risiko kanker payudara, seperti:
- Riwayat keluarga dengan kanker payudara
- Obesitas
- Kurang aktivitas fisik
- Konsumsi alkohol
- Merokok
- Usia bertambah
- Paparan hormon dalam jangka panjang
Meski tidak semua kasus kanker payudara dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risikonya. Kebiasaan hidup sehat juga berperan penting menjaga kesehatan payudara dalam jangka panjang.
1. Menjaga berat badan tetap ideal
Berat badan berlebih, terutama setelah menopause, dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Hal ini karena jaringan lemak dapat memproduksi hormon estrogen yang berkaitan dengan pertumbuhan sel kanker payudara.
Menurut American Cancer Society, menjaga indeks massa tubuh tetap sehat dapat membantu mengurangi risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara.
2. Rutin berolahraga
Aktivitas fisik membantu menjaga keseimbangan hormon dan meningkatkan daya tahan tubuh. Bunda dianjurkan melakukan olahraga intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Oncology menunjukkan bahwa wanita yang aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara lebih rendah dibandingkan yang jarang bergerak.
3. Menyusui jika memungkinkan
Menyusui diketahui dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara, terutama jika dilakukan lebih lama. Semakin lama masa menyusui, efek perlindungannya juga dapat meningkat. Selain baik untuk kesehatan ibu, ASI juga membantu meningkatkan sistem imun dan tumbuh kembang bayi.
4. Konsumsi makanan bergizi seimbang
Perbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan protein sehat. Makanan tinggi antioksidan dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan.
Sebaliknya, batasi makanan ultra-proses, tinggi gula, lemak trans, dan makanan yang terlalu sering dibakar karena dapat memicu peradangan dalam tubuh.
5. Hindari merokok dan alkohol
Merokok dan konsumsi alkohol diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara. Studi dari World Health Organization menyebutkan bahwa tidak ada batas konsumsi alkohol yang benar-benar aman bagi risiko kanker.
6. Kenali perubahan pada payudara
Melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) secara rutin dapat membantu mendeteksi perubahan sejak dini. Bunda bisa memperhatikan apakah ada:
- Benjolan baru
- Kulit seperti jeruk
- Puting tertarik ke dalam
- Nyeri yang tidak biasa
- Keluar cairan dari puting
Jika menemukan perubahan yang mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter.
7. Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan payudara secara rutin penting dilakukan, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan tambahan seperti USG payudara atau mammografi sesuai usia dan faktor risiko masing-masing.
8. Kelola stres dan tidur cukup
Stres kronis dan kurang tidur dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, penting untuk menjaga kualitas tidur dan memiliki waktu istirahat yang cukup. Bunda bisa mencoba relaksasi ringan, meditasi, atau aktivitas yang membantu tubuh lebih rileks.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
17 hours ago
12

















































