Meksiko Mencekam, Piala Dunia 2026 Diwarnai Kekhawatiran Warga Lokal

14 hours ago 5

loading...

Gelombang kekerasan yang dipicu tewasnya bos kartel narkoba mengguncang Guadalajara dan sekitarnya, memunculkan keraguan soal kesiapan Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 . Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keamanan dan sektor pariwisata bisa terdampak menjelang turnamen besar tersebut.

Operasi militer yang menewaskan Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, pemimpin Jalisco New Generation Cartel, memicu bentrokan bersenjata di sejumlah wilayah. Sedikitnya puluhan orang dilaporkan tewas, sementara aksi balasan kartel berupa pembakaran kendaraan dan penutupan jalan membuat situasi mencekam, khususnya di negara bagian Jalisco.

Di tengah kondisi itu, warga lokal mulai mempertanyakan keputusan menjadikan Guadalajara sebagai salah satu kota tuan rumah. Seorang pemilik restoran, Hugo Alejandro Pérez, mengaku skeptis. Ia menilai pemerintah belum mampu menyelesaikan persoalan dasar, sementara kekerasan masih terjadi. Ia bahkan menyebut penyelenggaraan Piala Dunia di wilayah tersebut sebagai keputusan yang tidak tepat.

“Saya tidak berpikir mereka seharusnya menggelar Piala Dunia di sini,” kata Perez. “Kami punya begitu banyak masalah, dan mereka malah ingin berinvestasi untuk Piala Dunia? Dengan semua kekerasan yang terjadi, itu bukan ide yang baik.”

Meski demikian, pemerintah Meksiko berusaha meredam kekhawatiran. Presiden Claudia Sheinbaum menegaskan bahwa pihaknya memberikan “jaminan penuh” terhadap keamanan turnamen. Ia memastikan tidak ada risiko bagi para penggemar yang akan datang, sementara otoritas lokal juga menyebut tidak ada rencana memindahkan lokasi pertandingan.

Namun, kekhawatiran belum sepenuhnya mereda. Sejumlah pihak menilai kematian El Mencho justru berpotensi memicu konflik internal kartel atau perebutan wilayah baru. Di sisi lain, beberapa turis asing yang sempat terjebak dalam kekerasan mengaku trauma, bahkan enggan kembali ke Meksiko dalam waktu dekat.

Di lapangan, situasi mulai berangsur normal dengan aktivitas warga yang kembali berjalan dan persiapan stadion terus dilakukan. Namun bagi pelaku usaha kecil seperti Maria Dolores Aguirre, bayang-bayang kekerasan tetap menghantui. Ia khawatir citra buruk yang tersebar ke dunia akan membuat wisatawan berpikir dua kali untuk datang, tepat saat negaranya bersiap menyambut ajang sepak bola terbesar di dunia.

(sto)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online