loading...
Muhammad Irfanudin Kurniawan Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto dok UDN
Muhammad Irfanudin Kurniawan,
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
TIGA pekan lalu, saya duduk di teras rumah menemani seorang kiai muda dari Jawa Barat. Beliau datang dengan wajah letih, bukan karena perjalanan, tapi karena beban pikiran. "Gus," katanya, "santri kami terus bertambah, bangunan makin perlu perbaikan, tapi donatur mulai menipis. Saya pusing tujuh keliling."
Saya hanya diam, memberi ruang untuk curhatnya mengalir. Setelah lama, saya buka laptop dan menunjukkan satu halaman. "Pernah baca ini?" tanya saya. "Di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, petugas zakat sampai kebingungan karena tidak menemukan orang miskin yang perlu diberi zakat" .
Matanya membelalak. "Masyaallah, mungkin jika dibayangkan dengan zaman sekarang rasanya tidak mungkin ya, Gus?" .
Pertanyaan itu yang mengantarkan kami pada diskusi panjang tentang zakat , tentang ekosistem, dan tentang bagaimana pesantren bisa belajar dari sejarah.
Umar bin Abdul Aziz: Sang Pembaru Ekosistem
Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya memerintah sekitar tiga tahun (717-720 M). Tiga tahun saja. Tapi warisannya luar biasa. Dalam catatan sejarah, beliau dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima, sejajar dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali . Julukan itu disematkan karena kesalehan dan akhlaknya yang luar biasa .
Apa yang beliau lakukan?
Beliau membersihkan pemerintahan dari pejabat korup. Melarang pejabat negara berbisnis. Menghapus pemandian umum campur laki-laki dan perempuan. Membebaskan pajak jizyah bagi mualaf. Dan yang paling penting: membangun sistem distribusi zakat yang adil dan tepat sasaran .
Baca juga: Kapan Idulfitri 1447 Hijriah? Hendaknya Berlebaran Mengikuti Ketetapan Pemerintah
Hasilnya? Di Irak, di Basrah, di Afrika, petugas zakat bernama Yahya bin Said berkeliling mencari mustahik, tapi tidak menemukan seorang pun yang layak menerima zakat . Semua rakyat hidup berkecukupan.
Bahkan, ketika gubernur Irak melaporkan masih ada sisa uang di Baitul Mal, Umar memerintahkan untuk mencari orang-orang yang terlilit utang, lalu membayarkan utang mereka. Masih ada sisa? Beliau suruh membantu para pemuda lajang yang ingin menikah dengan memberikan mahar .
Inilah puncak dari ekosistem zakat yang sehat: mustahik telah bertransformasi menjadi muzakki. Mereka yang dulu menerima, kini justru menjadi pemberi.
Yang lebih mencengangkan, kebijakan ini tidak membuat negara bangkrut. Justru sebaliknya, zakat yang terkumpul melimpah ruah karena kesadaran masyarakat membayar zakat sangat tinggi . Ada siklus keberkahan yang berputar.
Ekosistem Zakat dalam Organisme Pesantren
Dalam perspektif organisme pesantren, zakat produktif bisa kita tempatkan sebagai sistem pencernaan. Ia mengubah dana umat menjadi energi yang mengalir ke seluruh tubuh. Bukan sekadar bantuan konsumtif yang habis sekali pakai, tapi dikelola menjadi modal usaha, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan.
.png)

















































