Mengapa Orang Baik Memilih Diam?

12 hours ago 12

loading...

Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi

Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN "Veteran" Jakarta

SETIAP hari kita menyaksikan pemandangan yang menarik. Banyak orang dengan ringan hati melakukan kebaikan: membantu tetangga, menyumbang korban bencana, menghibur teman yang sedang berduka, atau sekadar tersenyum kepada orang yang tidak dikenal. Namun, ketika di hadapan mereka terjadi ketidakadilan, perundungan, korupsi, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan, jumlah orang yang bersedia bersuara tiba-tiba menyusut drastis.

Sebagian memilih diam. Sebagian lagi berpura-pura tidak melihat. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat kompleks: mengapa berbuat baik jauh lebih mudah daripada melawan kejahatan?

Neurosains (ilmu otak dan perilaku) memberikan penjelasan yang menarik. Otak manusia bukanlah organ yang pertama-tama dirancang untuk menjadi pejuang dan pahlawan moral.

Selama jutaan tahun evolusi, tugas utama otak adalah mempertahankan kehidupan. Karena itu, sistem saraf kita berkembang menjadi mesin pendeteksi ancaman yang sangat sensitif.

Sedikit saja muncul kemungkinan bahaya, katakanlah seperti ditolak kelompok, kehilangan status, dimusuhi orang lain, atau menghadapi konflik, maka secepat kilat otak segera mengaktifkan sistem kewaspadaan. Respons ini berlangsung sangat cepat, bahkan sering kali lebih cepat daripada proses berpikir rasional.

Dalam bahasa neurosains, jalur ancaman langsung menuju ke area otak bernama amygdala yang emosional. Tidak melalui korteks otak yang rasional.

Itulah sebabnya mengapa keberanian bukanlah kondisi alami otak. Keberanian justru muncul ketika bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif mampu mengendalikan sinyal ancaman tersebut.

Seseorang yang tetap membela kebenaran meskipun menghadapi risiko bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Ia justru mampu mengelola rasa takut itu sehingga tidak menguasai keputusannya. Dengan kata lain, melawan kejahatan merupakan pekerjaan yang jauh lebih berat dibandingkan sekadar melakukan kebaikan.

Psikologi sosial memperlihatkan kenyataan yang sama melalui fenomena yang dikenal sebagai bystander effect. Semakin banyak orang menyaksikan suatu pelanggaran, semakin kecil kemungkinan seseorang bertindak.

Setiap individu berharap orang lainlah yang akan mengambil langkah pertama. Tanggung jawab menjadi tersebar.

Akibatnya, semua orang merasa tidak memiliki kewajiban langsung. Ironisnya, kehadiran banyak saksi justru dapat menghasilkan keheningan bersama.

Fenomena ini menjelaskan mengapa begitu banyak bentuk ketidakadilan dapat berlangsung lama di tengah masyarakat. Bukan karena tidak ada orang baik, melainkan karena orang baik sering kali memilih tetap menjadi penonton.

Mereka tidak setuju terhadap kejahatan, tetapi juga tidak cukup berani untuk menghentikannya. Dalam banyak kasus, diam akhirnya menjadi bentuk persetujuan yang tidak diucapkan.

Namun, bystander effect hanyalah salah satu bagian dari cerita. Psikologi sosial mengenal sebuah konsep lain yang disebut spiral of silence.

Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung enggan mengemukakan pendapatnya apabila ia merasa berada di pihak yang minoritas atau berisiko ditolak oleh lingkungan sosialnya. Ketakutan terhadap isolasi sosial ternyata merupakan salah satu kekuatan paling besar yang memengaruhi perilaku manusia.

Fenomena spiral itu menjelaskan mengapa dalam banyak organisasi, institusi, bahkan negara, begitu banyak orang sebenarnya mengetahui adanya penyimpangan, tetapi memilih diam. Bukan karena mereka setuju, melainkan karena mereka memperkirakan bahwa biaya sosial untuk berbicara jauh lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online