Selular.ID – Nutanix mengungkap bahwa adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor layanan keuangan terus meningkat, namun sebagian besar organisasi masih menghadapi tantangan dalam memperluas implementasinya.
Temuan tersebut dipublikasikan melalui laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 yang dirilis pada 23 Juni 2026 dan menyoroti persoalan tata kelola, kesiapan infrastruktur, serta kepatuhan terhadap regulasi sebagai hambatan utama penerapan AI dalam skala besar.
Laporan tahunan kedelapan yang diterbitkan Nutanix itu menunjukkan industri jasa keuangan kini memasuki fase baru dalam transformasi digital.
Setelah banyak organisasi mulai memanfaatkan AI generatif dan teknologi otomatisasi, fokus bergeser pada kemampuan menjalankan teknologi tersebut secara aman, konsisten, dan sesuai regulasi yang berlaku di masing-masing negara.
Jay Tuseth, Vice President & General Manager APJ Nutanix, mengatakan persaingan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan oleh kemampuan organisasi memperluas implementasi AI secara bertanggung jawab.
Menurutnya, lembaga keuangan harus mampu menyelaraskan infrastruktur TI dengan kebutuhan kepatuhan regional dan aturan kedaulatan data agar investasi AI dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Temuan Nutanix menunjukkan penggunaan AI yang tidak mendapat persetujuan resmi atau dikenal sebagai shadow AI menjadi salah satu tantangan terbesar.
Sebanyak 66 persen eksekutif TI yang menjadi responden mengaku karyawan di organisasinya menggunakan layanan AI di luar kebijakan perusahaan.
Dari kelompok tersebut, 86 persen menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko bisnis, mulai dari kebocoran data hingga pelanggaran kepatuhan terhadap regulasi.
Laporan juga menunjukkan bahwa tantangan implementasi AI tidak semata-mata berasal dari keterbatasan teknologi.
Sebanyak 38 persen responden menyebut kompleksitas proses bisnis menjadi penghambat terbesar dalam meningkatkan skala penggunaan AI.
Sementara itu, 34 persen lainnya menilai faktor organisasi seperti kepemimpinan, koordinasi lintas tim, dan keterbatasan sumber daya manusia memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan persoalan teknis yang hanya disebut oleh 28 persen responden.
Aspek kedaulatan data atau data sovereignty juga menjadi perhatian utama industri. Sebanyak 79 persen organisasi menyatakan perlindungan lokasi penyimpanan dan pengelolaan data merupakan prioritas strategis.
Namun di sisi lain, 62 persen responden masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di lingkungan public cloud.
Kondisi tersebut dinilai Nutanix menciptakan fenomena yang disebut sebagai sovereignty debt, yaitu meningkatnya risiko kesenjangan antara kebutuhan kepatuhan terhadap regulasi data dengan implementasi infrastruktur cloud yang digunakan organisasi.
Di sisi teknologi, laporan mencatat tren adopsi kontainer atau containerization terus meningkat.
Teknologi ini memungkinkan aplikasi dijalankan dalam lingkungan yang lebih fleksibel dan konsisten di berbagai platform cloud maupun pusat data internal.
Sebanyak 90 persen responden menyatakan AI mendorong percepatan penggunaan teknologi kontainer, sementara 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan sebagai fondasi bagi implementasi AI modern.
Meski demikian, kesiapan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak organisasi layanan keuangan.
Sebanyak 68 persen responden mengakui infrastruktur yang dimiliki belum sepenuhnya mampu mendukung beban kerja AI yang dijalankan secara on-premises, yaitu di pusat data milik sendiri.
Keterbatasan kapasitas komputasi, penyimpanan data, hingga pengelolaan sistem menjadi beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Akibatnya, hampir dua pertiga responden atau sekitar 64 persen memilih memanfaatkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutup kesenjangan kemampuan infrastruktur.
Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat implementasi AI, namun pada saat yang sama menuntut organisasi memastikan aspek keamanan data, kepatuhan regulasi, dan tata kelola tetap terjaga.
Jay Tuseth mengatakan keberhasilan implementasi AI tidak lagi hanya bergantung pada investasi perangkat keras atau kapasitas komputasi yang besar.
Menurutnya, organisasi perlu membangun platform berbasis kontainer yang mampu mengelola berbagai beban kerja secara terpadu di lingkungan hybrid cloud, sehingga penerapan AI dapat berjalan lebih fleksibel tanpa mengabaikan kebutuhan kepatuhan dan perlindungan data.
Laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index 2026 disusun berdasarkan riset global yang dilakukan Wakefield Research pada November 2025.
Survei tersebut melibatkan 1.600 eksekutif bidang cloud, teknologi informasi, dan engineering dengan jabatan minimal manajer dari organisasi yang memiliki sedikitnya 500 karyawan.
Responden berasal dari 14 negara, yaitu Australia, Brasil, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Meksiko, Belanda, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.
Melalui temuan tersebut, Nutanix menilai organisasi layanan keuangan perlu menyelaraskan kesiapan infrastruktur, tata kelola, serta proses operasional agar implementasi AI dapat berkembang dari tahap adopsi awal menuju pemanfaatan dalam skala yang lebih luas.
Pendekatan tersebut dipandang penting untuk mendukung kebutuhan transformasi digital sekaligus memenuhi tuntutan regulasi dan perlindungan data yang terus berkembang di industri jasa keuangan.
Baca Juga: Kemendagri Akselerasikan Smart Governance dengan Nutanix
.png)












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5746528/original/013133300_1778645752-foto_media__78__2.jpg)