Jakarta -
Menurut sebagian Bunda, bulan ketiga menjadi masa-masa yang paling mendebarkan selama menyusui. Mengapa begitu, ya? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Saat awal menyusui, pasokan ASI biasanya sedang melakukan penyesuaian terhadap kebutuhan bayi sehingga kadang membuat produksi ASI berlimpah atau tiba-tiba menjadi lebih sedikit. Tak jarang, hal tersebut membuat para Bunda merasa panik dan gelisah.
Selain itu, memasuki bulan ketiga, ada kalanya bayi lebih rewel, sulit menyusu, atau tiba-tiba sering melepaskan puting. Perilaku yang tidak biasa ini juga sering membuat Bunda khawatir, seolah ada yang salah pada diri sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut para konsultan laktasi, kondisi tersebut bukan berarti sesuatu yang buruk, Bunda. Ini hanyalah fase yang sering disebut sebagai krisis menyusui yang umum terjadi seiring perkembangan bayi.
Meski begitu, fase ini bersifat sementara dan biasanya akan membaik dengan sendirinya seiring tubuh Bunda dan Si Kecil mulai menyesuaikan diri. Untuk memahami lebih lanjut terkait kondisi tersebut, simak penjelasannya menurut para ahli berikut ini, yuk.
Jangan khawatir, ketahui tanda Bunda sedang berada di fase krisis menyusui
Mengutip dari laman UNICEF, konsultan laktasi asal Inggris, Emma Pickett menyebut kondisi tersebut umumnya terjadi ketika bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan. Adapun tanda yang kerap dialami para ibu ketika memasuki fase tersebut sebagai berikut:
- Refleks pengeluaran ASI atau sensasi geli di awal menyusui mulai berkurang atau bahkan tidak terasa.
- Produksi ASI menurun.
- ASI tidak lagi sering keluar di jeda waktu menyusui.
- Payudara terasa lebih lembut dan tidak terlalu penuh seperti sebelumnya.
- Payudara tidak lagi terasa bengkak, meski jarak menyusui cukup lama.
Menurut Pickett, perubahan tersebut terjadi secara alami seiring tubuh mampu untuk mengatur kebutuhan produksi ASI-nya. Olivia Hinge yang merupakan rekan sesama konsultan laktasi, juga mengucapkan hal serupa, Bunda.
"Tubuh kita tidak tahu, di awal kehamilan, apakah kita akan memiliki satu bayi, dua bayi, atau tiga bayi. Namun, tubuh tahu persis apa yang dibutuhkan bayi, sehingga semakin banyak ASI yang kita minta, semakin banyak yang diberikan tubuh kepada kita," kata Hinge.
Selain itu, bukan berarti bayi sudah tidak ingin lagi mendapatkan ASI yang banyak, tetapi bayi sudah mulai paham kebutuhan dan kecakapan mereka dalam menyusu. Oleh karena itu, Bunda tidak perlu khawatir saat bayi merasa ‘cukup’ menyusui lebih cepat dari sebelumnya.
Fase bayi di usia tiga bulan yang cukup menguras energi
Selain fase krisis menyusui, perubahan kebiasaan bayi saat memasuki usia tiga bulan juga tidak jarang membuat para Bunda kewalahan. Melansir dari Butter Bean, pada usia ini bayi mulai lebih waspada, aktif, dan tertarik mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Waktu tidur siang pun akan berkurang dan bayi jadi lebih sering terbangun di malam hari yang membuat waktu istirahat Bunda juga berkurang. Di sisi lain, berat tubuhnya yang bertambah membuat aktivitas menggendong terasa lebih pegal dan melelahkan.
Ditambah, banyak Bunda yang mengira bahwa memasuki usia tiga bulan semuanya akan terasa lebih mudah. Harapan yang belum terpenuhi lewat kenyataan ini terkadang membuat Bunda merasa lelah atau bahkan sedikit kecewa.
Namun yang perlu diingat, pada momen ini bayi juga mulai menunjukkan sisi menggemaskannya, Bunda. Jadi, interaksi sederhana yang tercipta antara Bunda dan Si Kecil dapat mengurangi rasa lelah dan membuat hari terasa sedikit lebih hangat dan menyenangkan.
Apa yang harus dilakukan selama krisis menyusui bulan ketiga?
Saat pasokan ASI terasa berkurang, Bunda tidak perlu panik. Mulailah untuk memperhatikan perkembangan Si Kecil secara keseluruhan, terlebih berat badannya. Jika berat badan bayi tetap naik, sehat, dan berkembang, biasanya itu bukanlah kondisi darurat.
Menurut konsultan laktasi, Bunda juga tidak perlu tergesa-gesa memberikan susu botol atau susu formula ketika produksi ASI menurun. Lebih baik, Bunda pastikan kondisi bayi dengan berkonsultasi ke layanan kesehatan atau dokter anak agar lebih tenang dan pasti.
Namun, apabila Bunda masih merasa khawatir dengan produksi ASI, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan proses menyusui selama bulan ketiga. Berikut penjelasannya yang dikutip dari pernyataan Pickett dan Hinge:
- Tetaplah menyusui secara responsif dengan mengikuti tanda-tanda lapar dari bayi bukan berdasarkan jadwal.
- Jika memompa ASI, lakukanlah secara rutin dan cukup sering, bukan malah menguranginya.
- Perhatikan posisi dan perlekatan bayi saat menyusu karena ini sangat berpengaruh pada produksi ASI.
Faktanya, tak sedikit kasus menurunnya produksi ASI disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat, Bunda. Setelah posisi menyusui diperbaiki, produksi ASI pun biasanya dapat kembali normal.
Maka, penting juga untuk dipahami bahwa fase ini bukan berarti terdapat masalah pada ASI, melainkan karena perubahan yang terjadi pada Bunda maupun Si Kecil seiring tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, kondisi ini sangatlah normal dan tak perlu dirisaukan.
Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda. Semangat mengASIhi, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
12 hours ago
3
















































