Selular.ID – Sejak lama Huawei dikenal sebagai perusahaan teknologi, khususnya jaringan telekomunikasi dan enterprise.
Seiring dengan kebangkitan China dalam manufaktur ponsel, perusahaan juga terjun ke industri yang terkenal sangat kompetitif.
Sebagai pemain baru, Huawei menantang Nokia, Samsung, Blackberry, dan Sony Ericsson yang saat itu tengah kuat-kuatnya mencengkram pasar.
Sejarah smartphone Huawei dimulai sekitar 2003, berkembang dari produsen peralatan jaringan menjadi raksasa smartphone global terkemuka di bidang teknologi pada 2018.
Melongok ke belakang, ponsel Android pertama Huawei adalah Huawei U8220, yang dipamerkan pada ajang Mobile World Congress (MWC) Barcelona, akhir Februari 2009.
Ponsel ini memiliki layar sentuh 3,5 inci, Android 1.5, dan kamera 3,2 megapiksel, menandai masuknya perusahaan ke pasar Android.
Setelah varian U8220, Huawei memperkenalkan seri Ascend pada 2010. Huawei Ascend P1, yang diumumkan di CES pada Januari 2012 dan dirilis pada Mei 2012, secara luas dianggap sebagai model unggulan.
Ini adalah ponsel pintar Android 4.0 ultra-tipis (7,69 mm) yang penting, menampilkan layar Super AMOLED 4,3 inci dan prosesor dual-core 1,5 GHz.
Berkat Ascend, popularitas Huawei semakin meningkat. Pengiriman handset perusahaan menembus sekitar 108 juta unit pada 2015.
Pencapaian itu menjadikan Huawei sebagai produsen smartphone terbesar ketiga di dunia, setelah Samsung dan Apple. Di tahun yang sama, produk dan layanan Huawei tersedia di lebih dari 150 negara dan wilayah.
Setelah Ascend yang belakangan disuntik mati, Huawei memperkenalkan Nova Series untuk segmen menengah. Perusahaan juga meluncurkan Honor sebagai sub brand untuk segmen budget.
Demi menantang Samsung dan iPhone (Apple) Huawei memperkuat pasar pada segmen premium, lewat P dan Mate Series.
Duet flagship ini terbilang laris manis di banyak negara, termasuk Eropa dan AS yang merupakan kiblat industri telekomunikasi dunia.
Kolaborasi dengan produsen kamera terkemuka asal Jerman, Leica, yang dibenamkan pada P dan Mate Series, membuat pamor smartphone besutan Huawei semakin melonjak, mendorong penguasaan pasar yang signfikan.
Di sisi lain, kebangkitan Huawei, sekaligus mengancam dua vendor terkemuka, iPhone (Apple) dan Samsung yang juga kuat di segmen premium.
Baca Juga: Selain Fitur EKG, Huawei Watch Fit 5 Pro Bisa Pantau Risiko Diabetes

Selangkah Lagi Jadi Raja Ponsel Dunia
Dengan inovasi dan teknologi terdepan, Huawei bukan lagi pemain pinggiran. Rakasasa teknologi yang berbasis di Shenzhen itu, selangkah lagi menjadi produsen ponsel nomor satu dunia.
Berbagai laporan data pasar menunjukkan, pada kuartal II-2020, raksasa teknologi China itu berhasil menjadi raja smartphone dunia dengan menggeser Samsung.
Huawei tercatat menguasai hingga 21,4% pangsa pasar smartphone global pada April 2020, melampaui Samsung yang saat itu berada di posisi kedua dengan 19,1%.
Riset lain menunjukkan Huawei pernah mencapai 19% dibanding Samsung 17%. Kesuksesan ini didorong oleh pertumbuhan masif di pasar China dan inovasi teknologi produk flagship mereka yang sangat kompetitif.
Sayangnya, posisi tersebut tidak bertahan lama karena Huawei terkena sanksi Amerika Serikat yang memutus akses mereka ke layanan GMS (Google Mobile Service) yang merupakan jantung sistem operasi Android dan teknologi chipset penting lainnya.
Hal ini menyebabkan penjualan globalnya anjlok dan memaksa mereka menjual Honor, merek smartphone untuk segmen budget.
Meski sempat jatuh, Huawei mulai bangkit kembali. Lewat strategi kemandirian teknologi, kolaborasi domestik, dan investasi besar-besaran pada riset (R&D).
Hasilnya, perusahaan sepenuhnya terlepas dari GMS, Huawei menciptakan sistem operasi sendiri, HarmonyOS (HMOS). Ini mencakup ekosistem aplikasi sendiri, yaitu HUAWEI AppGallery.
Huawei juga mengembangkan chipset sendiri, yaitu Kirin yang tak kalah dengan Snapdragon milik Qualcomm. Chipset Kirin dari Huawei dikenal dengan performa tinggi, efisiensi energi yang superior, dan keunggulan dalam pemrosesan AI (Artificial Intelligence).
Kelebihan utamanya meliputi teknologi fabrikasi canggih, integrasi modem 5G yang hemat daya, teknologi GPU Turbo untuk gaming, serta kemampuan pemrosesan gambar (ISP) yang tajam, sehingga mampu bersaing ketat dengan chipset flagship lainnya.
Baca Juga: Ada Peran Krusial Fanny Ghassani Dalam Peluncuran Berbagai Produk Inovatif Terbaru Huawei di Bangkok

Bangkit di Pasar Dalam Negeri
Strategi itu membuat Huawei bangkit, khususnya di pasar dalam negeri lewat seri premium. Hebatnya, penjualan Huawei bahkan melampau iPhone pada Agustus 2024.
Setelah sempat tercecer, Huawei kembali meraih posisi puncak, seperti yang pernah diraih pada kuartal kedua 2020, meski hanya di pasar domestik.
Momentum pertumbuhan Huawei terus berlanjut. Merek yang identik dengan segmen high-end itu, sukses menduduki posisi teratas di pasar smartphone China pada kuartal pertama 2026 dengan pangsa pasar tertinggi dalam lima tahun, mengugguli vendor lainnya, termasuk Apple.
Menurut laporan dari Counterpoint Research yang diterbitkan pada Jumat (17/4/2026), Huawei memegang pangsa pasar 20 persen dalam tiga bulan pertama, tertinggi sejak kuartal keempat 2020.
Duet seri premium berkinerja tinggi menjadikan Huawei raja di kelas high end. Keduanya adalah seri Huawei Pura 90 (berfokus pada pencitraan AI) dan seri Huawei Mate 80 (berfokus pada produktivitas dan perangkat keras canggih).
Kedua seri ini diposisikan di puncak pasar, menampilkan prosesor Kirin 9030, HarmonyOS 6.1, dan elemen desain premium.
Teknologi ponsel lipat yang inovatif dan kemampuan kamera kelas atas, mengatasi kurangnya layanan Google melalui dominasi pasar domestik dan adopsi HarmonyOS yang cepat.
Hingga kuartal kedua 2026, Huawei menjadi pemimpin di pasar ponsel lipat, dengan pangsa pasar 35% di China, sebagian besar didorong oleh ponsel lipat tiga Mate XT yang inovatif.
Dengan berbagai kelebihannya, varian Mate XT sukses menarik minat konsumen, meskipun harganya premium, seringkali melebihi $2.800.

Kuasai Pasar Wearable Device
Bukan Huawei jika mudah menyerah. Tak lagi leluasa di industri smartphone karena sanski AS, Huawei justru semakin berotot di industri wearable devices yang semakin berkembang pesat.
Faktanya, berbagai perangkat yang dikenakan besutan Huawei benar-benar mencapai puncak kesuksesan global, melampaui semua merek lain seperti Xiaomi, Apple, Samsung, dan lainnya.
Laporan IDC menunjukkan, sepanjang Q3-2025, Huawei memimpin pasar smartwatch global dengan pengiriman tertinggi.
Model-model unggulan perusahaan, seperti Watch Ultimate 2, Watch D2, dan seri GT 6, turut mendukung pertumbuhan ini.
Bahkan jam tangan FIT yang terjangkau pun membantu Huawei memperluas jejaknya di segmen wearable pintar di pasar-pasar utama.
Menurut grafik, perangkat wearable Huawei mencetak penjualan dan pangsa pasar tertinggi secara global dalam tiga kuartal pertama tahun ini, mengungguli Xiaomi, Apple, dan lainnya.
IDC telah membagikan analisis berdasarkan dua kategori wearable: smartwatch dan fitness tracker. Selama ketiga kuartal tersebut, Huawei mendapatkan daya tarik berkat model wearable HarmonyOS 6.0 dan fitur kesehatan + kebugaran yang ditingkatkan.
Pada periode itu, Huawei telah mengirimkan 28,6 juta smartwatch dengan pangsa pasar 18,6% di seluruh dunia dan 20,8 juta unit dengan pangsa pasar 35,5% di China.
Meski penjualan terbesar masih ditopang oleh pasar domestik (sebanyak 27,0%), namun Huawei mencatatkan pertumbuhan global sebesar 21,6%.
Pertumbuhan yang signifikan itu, menunjukkan upaya Huawei memperluas kehadirannya di luar Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan di pasar dalam negeri.
Setelah Huawei, Xiaomi berada di posisi kedua dalam kedua laporan tersebut dengan pengiriman 27,9 juta unit di pasar global dan 15,9 juta unit di Tiongkok.
Xiaomi memegang pangsa pasar yang signifikan di seluruh dunia dan di dalam negeri (18,1% secara global; 27,2% di Tiongkok). Bahkan disebut sebagai merek dengan pertumbuhan tercepat di antara semua pesaing dalam tiga kuartal pertama tahun ini.
Apple berada di peringkat ketiga secara global, namun berada di posisi keempat di China imbas ketatnya persaingan dengan vendor-vendor lain.
Vendor asal Korea Selatan, Samsung mengekor di peringkat keempat dengan pengiriman 11,8 juta unit dan pangsa pasar 7,6%.
Baca Juga: Huawei Konfirmasi Watch Fit 5 Series Mendarat di Indonesia

Huawei Watch Fit 5 Series
Demi memperkukuh posisi yang sudah diraih di pasar wearable device yang sangat kompetitif, Huawei mengadakan peluncuran serangkaian produk global di Bangkok, Thailand (7/5/2026).
Mengusung tema “Now Is Your Spark”, raksasa teknologi yang berbasis di Shenzhen itu, secara resmi memperkenalkan sejumlah produk inovatif.
Seperti Watch Fit 5 Series dan Watch GT Runner 2 Racing Legend Edition. Peluncuran smartwatch terbaru itu, disertai debut berbagai produk lainnya, yaitu MatePad Pro Max, Huawei Watch Ultimate Design, Huawei Watch Kids X1 Series, dan Huawei Nova 15 Max.
Dengan teknologi untuk semua skenario, perangkat-perangkat ini berfungsi sebagai perpanjangan sejati bagi pengguna global untuk menjelajahi dunia dan mengekspresikan diri mereka.
Khusus Watch Fit 5 Series, smartwatch terbaru ini dijadwalkan masuk pasar Indonesia mulai 12 Mei 2026 dengan membawa sejumlah peningkatan di sektor kesehatan dan olahraga, termasuk fitur Diabetes Risk Study yang diklaim sebagai yang pertama di industri wearable.
Melalui seri terbaru ini, Huawei menghadirkan dua model sekaligus, yakni Huawei Watch Fit 5 Pro dan Huawei Watch Fit 5.
Keduanya dirancang untuk pengguna dengan gaya hidup aktif yang membutuhkan perangkat wearable berfokus pada pemantauan kesehatan, kebugaran, dan aktivitas harian dalam desain yang tetap ringan dan modis.
Huawei menyebutkan bahwa pengembangan fitur kesehatan terbaru pada Watch Fit 5 Series dilatarbelakangi meningkatnya perhatian terhadap penyakit metabolik seperti diabetes.
Berdasarkan data Persatuan Diabetes Indonesia yang disampaikan perusahaan, satu dari sembilan orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes.
Kondisi tersebut mendorong Huawei menghadirkan teknologi pemantauan risiko kesehatan berbasis wearable yang dapat digunakan secara lebih praktis dalam aktivitas sehari-hari.
Fitur Diabetes Risk Study pada Watch Fit 5 Pro memanfaatkan teknologi PPG atau photoplethysmography, yakni metode pemantauan aliran darah melalui sensor optik pada pergelangan tangan.
Teknologi ini digunakan untuk menganalisis parameter tertentu yang berkaitan dengan risiko diabetes setelah perangkat digunakan dalam periode tertentu.
Baca Juga: Huawei Debutkan Serangkaian Produk Anyar, Membuka Babak Baru Kehidupan Cerdas
.png)
















































