Jakarta -
Ada kalanya pengalaman masa kecil anak meninggalkan jejak yang cukup dalam di hati mereka. Terlebih ketika anak tumbuh di lingkungan yang bahkan cenderung toxic, hal ini membuat mereka bingung hingga dewasa nanti.
Bunda perlu tahu, anak biasanya belum mampu menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan di dalam hati. Anak hanya mengikuti keadaan, sambil mencoba memahami dari orang-orang terdekatnya.
Saat masih kecil, anak lebih banyak belajar dari respons yang ia terima setiap harinya. Cara orang tua berbicara, menanggapi, atau menunjukkan perhatian dapat terekam kuat dalam pikirannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lambat laun, pengalaman itu tidak hanya menjadi kenangan saja, tapi juga membentuk cara anak menilai dirinya sendiri. Bahkan, hal ini pun bisa meninggalkan kesan yang cukup lama bagi mereka.
Bicara soal ini, ada beberapa keyakinan menyedihkan yang sering dimiliki anak dari orang tua yang toxic. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
5 Hal menyedihkan yang diwarisi anak dari orang tua toxic
Jika anak dibesarkan oleh orang tua yang toxic, ia mungkin tumbuh dengan beberapa keyakinan menyedihkan tentang dirinya sendiri. Berikut penjelasan selengkapnya yang dilansir dari laman Your Tango:
1. Anak sulit percaya bahwa dirinya bisa dicintai dengan tulus
Ada anak yang tumbuh dengan perasaan sulit percaya bahwa dirinya benar-benar bisa dicintai. Hal ini biasanya muncul sejak kecil dan terbawa hingga ia dewasa nanti.
Meski ada orang yang menunjukkan kasih sayang, anak tetap merasa ragu dan tidak sepenuhnya yakin. Pengalaman dari lingkungan yang kurang mendukung membuat perasaan itu terbentuk.
Dalam beberapa kondisi, pola asuh yang toxic membuat anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang lain. Akibatnya, ia lebih mudah meragukan ketulusan cinta dari orang lain.
2. Anak percaya bahwa setiap orang menyembunyikan sesuatu
Anak sebenarnya ingin sekali percaya pada orang lain, tapi tak jarang ada pertanyaan yang mengganggu di pikirannya seperti, "Apakah aku salah? Apakah aku keliru?".
Meski orang lain terlihat jujur dan sikapnya sesuai, ia tetap saja merasa ragu. Saat mulai menjalin hubungan dengan orang lain, ia juga ingin percaya sepenuhnya.
Namun, begitu ada sedikit keraguan muncul, semua perasaan itu ikut goyah, Bunda. Mereka pun mulai dipenuhi rasa curiga seperti:
- "Di mana mereka?"
- "Apakah mereka berbohong padaku?"
- "Apakah mereka selalu berbohong padaku?"
- "Apakah aku bodoh?"
- "Aku selalu tahu mereka sebenarnya tidak bisa dipercaya"
3. Anak menganggap lengah itu berbahaya
Rasa aman dalam hubungan seharusnya membuat seseorang merasa tenang, diterima, dan dihargai. Namun pada sebagian anak, hal ini justru sulit dirasakan sepenuhnya.
Dalam kondisi ini, anak cenderung sulit benar-benar percaya pada orang lain. Anak belajar sejak kecil bahwa situasi bisa berubah cepat, sehingga mereka harus siap menghadapi kemungkinan buruk.
Seorang psikolog asal New York City, Amerika Serikat, Daniel S. Lobel, Ph.D., menjelaskan bahwa pola asuh dari orang tua yang toxic dapat membuat anak merasa harus selalu menyenangkan orang lain.
"Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang toxic umumnya mendekati orang lain dengan perasaan bahwa mereka perlu menyenangkan orang lain agar merasa aman atau diterima," ujar Daniel.
"Ketika orang lain tidak senang, mereka menjadi takut akan dihukum atau ditinggalkan. Mereka perlu tahu bahwa orang lain senang dengan mereka, dan mereka memiliki kebutuhan untuk diakui atau dihargai ketika mereka memberi kepada orang lain," tambahnya.
4. Anak percaya bahwa nilai diri bergantung pada persetujuan orang lain
Dalam beberapa pengasuhan yang tidak sehat, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya hanya ada ketika mendapat persetujuan dari orang lain, Bunda.
Akhirnya, ia jadi sulit merasa yakin dengan dirinya sendiri tanpa validasi dari luar. Pada beberapa situasi, orang tua yang bersikap toxic bahkan seperti "bersaing" dengan anaknya sendiri.
Pujian yang diberikan pun menjadi tidak konsisten, terkadang memuji, tapi kemudian menarik kembali dengan kalimat yang membuat anak bingung.
Hal ini tentu saja membuat anak menjadi terus meragukan dirinya sendiri, karena apa yang ia lakukan terasa tidak pernah benar-benar cukup. Walaupun sudah berusaha, tetap saja ada rasa kurang di mata orang tuanya.
Misalnya saat orang tua berkata, "Kamu sudah melakukan itu dengan baik, tapi seharusnya kamu bisa lebih di semua hal," anak bisa merasa semua pencapaiannya tidak pernah benar-benar dihargai.
5. Anak merasa bahwa dirinya tidak penting dalam hubungan
Dalam situasi keluarga yang tidak sehat, anak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya kurang penting. Kadang, ada orang tua yang memilih diam atau ikut setuju hanya untuk menjaga suasana tetap tenang.
Kondisi seperti ini tentu bikin mereka semakin bingung karena tidak tahu apakah dirinya benar-benar dihargai atau hanya diabaikan secara halus, Bunda.
Banyak anak yang akhirnya merasa bahwa hubungan yang tidak sehat adalah sesuatu yang wajar bagi mereka. Mereka jadi terbiasa menerima perlakuan yang kurang baik karena merasa itulah yang pantas didapatkan.
Itulah beberapa keyakinan menyedihkan yang sering dimiliki anak dari orang tua toxic yang bisa terbentuk tanpa disadari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
.png)
5 hours ago
3












































