Jakarta -
Ada kalanya kesabaran Bunda sudah mulai habis karena harus mengulang hal yang sama berkali-kali. Anak terlihat seperti tidak mau mendengar, meskipun sudah diajak bicara dengan baik.
Di momen seperti ini, suasana di rumah bisa terasa melelahkan, terlebih jika terjadi dalam rutinitas sehari-hari. Namun, kondisi ini ternyata cukup biasa terjadi pada anak.
Seorang pendidik orang tua di Institute for Parenting, Adelphi University, New York, Doreen Miller, menjelaskan bahwa anak-anak sering merasa lelah untuk terus memperhatikan berbagai hal dalam kesehariannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Antara sekolah dan rumah, anak-anak biasanya lelah memperhatikan dan memutuskan mereka perlu mengabaikan semuanya," kata Miller, dikutip dari laman Parents.
Meski begitu, anak yang tampak mengabaikan ini bukan berarti tidak bisa diarahkan ya, Bunda. Para ahli menilai ada pendekatan yang bisa membantu membangun komunikasi yang lebih baik dengan Si Kecil.
Cara sederhana agar anak mau mendengarkan tanpa harus marah
Dikutip dari laman Parents, terdapat beberapa cara sederhana yang bisa membantu anak mau mendengarkan tanpa harus marah. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Berikan arahan yang sederhana
Dalam keseharian, Bunda mungkin suka tanpa sadar memberikan terlalu banyak arahan dalam satu waktu. Hal seperti ini justru bisa membuat mereka bingung dan akhirnya tidak melakukan semuanya dengan baik.
Otak anak sebenarnya hanya mampu memproses informasi dalam jumlah yang terbatas, Bunda. Jadi, terlalu banyak instruksi bisa membuat mereka kehilangan fokusnya.
Misalnya, dengan mengatakan, "Matikan TV, lalu naik ke atas, ganti baju, sikat gigi, dan sisir rambut," kemungkinan besar anak tidak akan mengingat apa pun setelah langkah pertama atau kedua. Akhirnya, arahan berikutnya jadi tidak dijalankan dengan baik.
Miller menyarankan agar permintaan kepada anak tidak diberikan sekaligus. Bunda bisa mengatakan, "Saat ini waktunya mematikan TV dan bersiap-siap tidur". Setelah itu, ketika TV sudah dimatikan, barulah dilanjutkan dengan arahan berikutnya.
Selanjutnya Bunda bisa berkata, "Oke, sayang, selanjutnya adalah memakai piyama dan menggosok gigi. Kamu mau langsung ke kamar mandi atau tidak?".
2. Sampaikan pesan secara singkat dan jelas
Sering kali anak tidak langsung menangkap apa yang diminta oleh orang tuanya. Hal ini kerap terjadi ketika arahan yang diberikan Bunda terlalu panjang dan berbelit.
Misalnya dengan mengatakan, "Sayang, kita akan bertemu Julius di taman dan kamu pasti ingin bermain panjat tebing di taman bermain. Jadi, kamu harus mengganti sandalmu sebelum kita berangkat dari rumah," kemungkinan besar anak tidak segera mengganti sandal seperti yang diminta.
Sebaiknya, Bunda sampaikan langsung permintaan itu di awal. Contohnya dengan mengatakan, "Sayang, pakai sepatu olahragamu sekarang karena kita akan pergi ke taman bermain,".
3. Gunakan cara penyampaian yang lebih dekat
Selanjutnya, anak lebih mudah menangkap pesan ketika cara menyampaikannya terasa lebih dekat dan jelas. Tidak hanya lewat kata-kata saja, tapi juga dari perhatian yang diberikan saat berbicara.
Direktur Pusat Anak dan Keluarga di Institut Erikson, Chicago, Margret Nickels, PhD, mengatakan pendekatan yang melibatkan lebih dari satu indera bisa membantu anak lebih fokus. Mereka jadi lebih mudah mengerti apa yang Bunda maksudkan.
4. Hindari mengulang saat memberi arahan
Saat anak tidak langsung merespons, orang tua suka mengulang kalimat yang sama berkali-kali. Namun, kebiasaan ini justru bisa bikin mereka terbiasa menunggu sampai benar-benar ditegur berulang.
Jika hal ini terus terjadi, pesan yang disampaikan bisa kehilangan arti, Bunda. Anak jadi menganggap suara orang tua hanyalah sebagai hal yang lewat begitu saja.
Menurut Nickels, instruksi yang diberikan sebaiknya tidak diulang terlalu sering. Cukup sampaikan dengan jelas, lalu beri konsekuensi yang konsisten jika tidak dipatuhi.
Misalnya, saat meminta anak merapikan mainannya, Bunda bisa berkata, "Silakan naik ke atas dan masukkan mainan ke dalam wadah biru". Setelah itu, berikan batasan yang jelas jika tidak diikuti.
Jika anak tetap tidak mengikuti, maka konsekuensi perlu dijalankan dengan tegas. Namun, ketika anak mau mendengarkan, berikan apresiasi seperti ucapan terima kasih ya, Bunda.
5. Jadikan momen mendengarkan jadi lebih menyenangkan
Anak-anak sering menerima banyak sekali arahan sepanjang hari, sehingga mereka bisa merasa lelah untuk terus mendengarkan. Karena itu, suasana ini sebaiknya dibuat lebih tenang dan tidak terasa seperti perintah yang terus-menerus.
Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengajak anak berjalan santai di luar rumah. Sambil itu, Bunda bisa mengajak mereka memperhatikan suara-suara di sekitar seperti burung atau angin.
6. Berikan perhatian penuh
Berikutnya, anak belajar dari cara orang tua mendengarkan mereka setiap harinya. Saat perhatian terbagi, anak bisa merasa tidak benar-benar didengarkan.
Bicara soal ini, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak, bahkan sejak usia prasekolah, sudah bisa menyadari ketika orang dewasa tidak sepenuhnya terlibat dalam percakapan mereka.
"Penelitian saya menunjukkan bahwa anak-anak, sejak usia prasekolah, menyadari ketika orang dewasa tidak sepenuhnya terlibat dalam percakapan mereka," kata seorang penulis buku Learning to Listen, Listening to Learn, Mary Renck Jalongo, PhD.
Menurut Jalongo, anak akan lebih merasa dihargai ketika Bunda dan Ayah benar-benar hadir dalam percakapan. Karena itu, sebaiknya Bunda fokus pada satu hal saat sedang berinteraksi dengan anak.
Hindari melakukan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatian saat mereka sedang berbicara, ya.
Itulah penjelasan tentang beberapa cara sederhana agar anak mau mendengarkan tanpa harus marah menurut para pakar. Sudahkah Bunda menerapkannya di rumah?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
.png)
2 hours ago
1















































