7 Cerita Dongeng Anak Kecil Sebelum Tidur yang Mengajarkan Sikap Baik

23 hours ago 10

Jakarta -

Membacakan dongeng sebelum anak tidur menjadi salah satu kegiatan baik yang bisa dilakukan orang tua bersama Si Kecil. Di sela waktu sebelum istirahat, momen ini jadi waktu yang tepat untuk santai sambil bercerita.

Kalau dibiasakan, Bunda dan Ayah bisa menyisihkan sedikit waktu setiap malamnya untuk membacakan cerita dongeng minimal satu atau dua cerita. Banyak penelitian membuktikan bahwa membacakan dongeng sebelum tidur dapat memberikan banyak manfaat.

Salah satu penelitian dari National Institutes of Health (NIH) menyebutkan bahwa membaca dongeng di tempat tidur sebelum tidur bisa membantu meningkatkan kualitas tidur anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Karena itu, Bunda bisa mulai memilih cerita dongeng yang bukan hanya berisikan kisah yang menarik saja, tetapi juga menanamkan sikap baik kepada Si Kecil.

Cerita dongeng anak kecil sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik

Dilansir dari buku Kumpulan Dongeng untuk Anak karya Stella Ernes, berikut ini beberapa cerita dongeng anak kecil sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik.

1. Akal Cerdik Kelinci

Rubah yang sombong dan jahat ingin berkuasa di sebuah hutan. Ia lalu menganggap dirinya menjadi raja para binatang. Tidak ada satu pun yang berani melawan Rubah. Ia pasti marah bila ada yang menuruti aturannya.

Di tepi hutan, di dalam sebuah lubang pohon yang hangat, Kelinci tinggal sendiri. Suatu hari ia keluar dari lubang untuk mencari kol. Ia melompat ke sana ke mari sampai menemukan sebuah ladang kol. Namun, ketika Kelinci bersiap memetik kol kesukaannya, berdirilah Rubah jahat di depannya.

"Berani benar kau masuk dan mau mencuri kol di ladang ini!" ucap Rubah geram.

"Aku tidak suka dengan perbuatanmu. Aku akan melukaimu sekarang juga!".

Kelinci sangat ketakutan. Ia berpikir cepat, mencari cara agar bisa terlepas dari kekejaman Rubah.

"Siapa bilang? Ini ladang milik Peri Sungai, sahabatku," kata Kelinci. Ia berusaha keras agar suaranya tidak bergetar karena rasa takut.

"Aku baru akan menemuinya. Namun, aku butuh bantuan agar cepat bertemu dengannya. Maukah kau mengantarku? Sahabatku pasti akan senang dan memberimu banyak sekali hadiah," kata Kelinci.

Rubah tertarik dengan iming-iming hadiah. Ia pun mempersilakan Kelinci naik ke punggungnya. Kelinci lalu memacu Rubah seperti seekor kuda. Semua binatang hutan yang melihat tertawa melihatnya.

Sesampainya di tepi sungai, Rubah meminta hadiah yang dijanjikan.

"Tunggulah. Sahabatku sangat pemalu. Aku akan mencarinya. Sementara itu, celupkan ekormu ke air. Ia akan menggantungkan banyak hadiah untukmu. Jangan berdiri sebelum ekormu berat dengan hadiah-hadiah," kata Kelinci sambil berlalu.

Rubah duduk di tepi sungai, lalu mencelupkan ekornya ke sungai.

"Bbbrrr... dingin sekali!" seru Rubah.

"Tunggu saja, nanti kamu pasti akan dapatkan hadiahnya!" kata Kelinci mengingatkan. Ia meninggalkan Rubah sendirian.

Rubah sabar menunggu hadiah yang akan digantungkan pada ekornya. Pagi menjelang siang, siang berganti sore, sampai akhirnya malam yang dingin menghampiri.

Rubah masih tetap duduk di tepi sungai. Ia merasa hadiah yang digantung di ekornya belum cukup banyak. Saat tengah malam, udara bertambah dingin dan air sungai mulai membeku. Saat itulah Rubah merasa sudah waktunya pergi menikmati hadiahnya karena ekornya terasa amat berat sekarang.

Namun, apa yang terjadi? Ekornya membeku! Ia tidak bisa menarik ekornya dari air sungai. Rubah tak berani bergerak. Ia takut kehilangan ekor dan hadiah yang dipikirnya tergantung di ekornya.

"Tolong akuuu!" Rubah berteriak ketakutan.

"Cepat, tolong akuuu!" teriak Rubah berkali-kali.

Kelinci iba mendengar teriakan Rubah. Ia segera memanggil para binatang untuk menolong Rubah. Mereka datang menghampiri Rubah, tetapi hanya memandanginya saja. Mereka khawatir Rubah akan berbuat jahat lagi bila berhasil ditolong.

"Tolong aku! Aku berjanji tak akan melukai kalian," pinta Rubah dengan wajah memelas.

Pesan moral:

Kita perlu berpikir cepat dan cerdas saat menghadapi situasi berbahaya agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah. Selain itu, sifat sombong dan jahat pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri.

2. Burung Unta yang Malas

Dahulu, semua burung dapat terbang, termasuk burung unta. Suatu ketika, bulan mempunyai telur emas raksasa. Telur emas itu menetas menjadi ribuan ayam-ayam emas. Begitu menetas, ayam-ayam emas berpencar ke seluruh penjuru langit. Dari bumi, ayam-ayam itu terlihat seperti bintang.

Matahari ingin mengadakan pesta bagi ayam-ayam emas itu. Maka, ia menulis surat pada Bulan, yang menjadi ibu mereka, untuk mengabarkan hal ini. Matahari meminta tolong kepada Burung Pipit untuk membawa surat itu kepada Bulan.

"Tolong berikan surat ini kepada Bulan. Pesta akan diadakan minggu depan," kata Matahari kepada Burung Pipit.

"Baik, Matahari. Akan kusampaikan surat ini kepada Bulan secepatnya," jawab Burung Pipit.

Perjalanan menuju bulan sangat jauh dan sulit. Suatu ketika, sayap Burung Pipit terluka sehingga ia tidak dapat terbang. Burung Pipit bingung, surat itu harus segera disampaikan. Saat itulah ia melihat Burung Unta dan meminta bantuannya.

"Burung Unta, tolong gantikan aku menyampaikan surat ini pada Bulan. Sayapku terluka dan aku tidak bisa terbang," pinta Burung Pipit.

Burung Unta melihatnya dengan pandangan yang tidak suka. Ia sedang bermalas-malasan dan tak ingin diganggu.

"Aku besar dan berat. Tidak dapat kubayangkan harus terbang sejauh itu. Bisa-bisa sayapku juga terluka," tolaknya.

Burung Pipit terus memohon, sampai akhirnya Burung Unta mau menolongnya asalkan Burung Pipit ikut dalam perjalanan itu. Namun, Burung Unta tetap tidak mau terbang. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tentu saja perjalanan jadi lama sekali. Apalagi Burung Unta berjalan dengan sangat perlahan, karena ia tidak senang dengan perjalanan ini.

Akhirnya surat berhasil disampaikan ke Bulan, tetapi acara pesta sudah selesai. Tentu saja Bulan tidak menghadiri acara itu. Matahari jadi kesal dan marah. Apalagi setelah ia tahu alasan surat itu terlambat sampai.

"Kalau kau sangat malas terbang, apa gunanya sayap di tubuhmu?" tanya Matahari pada Burung Unta dengan kesal.

Begitulah, sejak saat itu tidak ada burung unta yang bisa terbang.

Pesan moral:

Kita tidak boleh bersikap malas saat diminta membantu orang lain, apalagi jika tugas itu harus segera diselesaikan. Sikap malas dan tidak peduli dapat merugikan orang lain dan akhirnya kita akan menyesal di kemudian hari.

3. Rubah Betina Berbohong

Di sebuah hutan, hiduplah Rubah Betina yang cantik. Bulunya yang lembut berwarna kemerahan. Ekornya panjang dan lebat. Tatapan matanya sangat memikat. Tingkah lakunya juga anggun. Semua binatang di hutan mengagumi kecantikannya.

Rubah Betina merasa dirinya sangat terkenal dan diingini semua binatang. Ia selalu diundang ke setiap pesta. Ia berdandan layaknya putri bangsawan dengan pakaian indah dan perhiasan mewah. Berjalan tegak, dagu diangkat, dan langkah kakinya diatur dengan anggun.

"Aku adalah hewan tercantik di hutan ini. Aku juga pintar. Aku ingin tahu, apakah ada yang bisa menandingiku?" katanya sombong. Ia selalu bertanya hal yang sama setiap ada kesempatan mengobrol dengan hewan lain.

Suatu hari Kucing terkagum-kagum melihat Rubah Betina. Langkahnya terhenti seketika.

"Hei, kamu kelihatan begitu luar biasa. Bagaimana kamu bisa terlihat begitu sempurna, Rubah? Aku sangat ingin seperti dirimu," kata Kucing dengan mata penuh kekaguman.

Mendengar itu, rasa bangga dan sombong memenuhi hati Rubah Betina.

"Tentu saja, begitulah diriku. Aku cantik, pintar, dan anggun. Sedangkan kamu, apa saja keahlian yang kamu miliki?" tanya Rubah Betina pada Kucing dengan pandangan mencemooh.

"Oh, aku hanya... Um... Aku hanya punya satu keahlian," jawab Kucing.

Hanya satu? Yah, kuharap saja itu keahlian yang mengagumkan. Memangnya keahlian apa yang kamu miliki?" tanya Rubah Betina sambil tertawa mengejek.

"Aku hanya bisa melompat ke atas pohon saat Serigala mengawasiku".

"Ya ampun! Melompat ke pohon? Keahlianmu hanya melompat ke pohon untuk menghindari Serigala? Aku punya banyak sekali cara untuk menghindari Serigala. Bukan hanya menghindari, tapi juga untuk membujuknya untuk tidak menangkapku," kata Rubah makin sombong.

"Oh, begitu? Bagaimana caranya?" tanya Kucing ingin tahu.

"Ayo, ikut aku! Akan kuberi tahu cara menjebaknya," lanjut Rubah Betina sambil tertawa mengejek.

Kucing mengikuti langkah Rubah Betina. Selama berjalan Rubah Betina memamerkan cerita kehebatannya. Karena terlalu sibuk bercerita, Rubah tidak menyadari kalau ada sekelompok Serigala yang mengintai.

"Gggrr....." suara sekelompok Serigala terdengar dari balik semak-semak.

Menyadari keadaan yang berbahaya, Kucing segera melompat ke pohon tinggi. Sangat cepat dan tanpa suara. Bahkan sekelompok Serigala itu tidak menyadari gerakan Kucing.

"Hei, ayo keluarkan salah satu cara untuk kabur," bisik Kucing pada Rubah Betina dari atas pohon. Ia berharap bisa melihat salah satu cara pintar Rubah Betina.

Kucing tak ingin membahayakan diri. Keahliannya hanya melompat ke pohon secepat mungkin. Tak dibandingkan dengan Rubah Betina yang punya begitu banyak keahlian saja.

Namun, apa yang terjadi? Rubah Betina tidak dapat melakukan apa pun. Ia diam tak bergerak dan tampak sangat panik. Semua cerita kehebatan Rubah Betina tak terbukti.

Pesan moral:

Kita tidak boleh sombong dan berbohong tentang kemampuan diri sendiri, karena pada akhirnya kebenaran akan terlihat juga. Sikap jujur dan rendah hati lebih penting daripada terlihat hebat di depan orang lain.

4. Berlian Tikus dan Katak

Tikus dan Katak bersahabat. Mereka tinggal bersama di sebuah batang pohon. Mereka tidur sepanjang hari, lalu bangun saat bintang pertama mulai berpijar di langit malam. Biasanya mereka akan duduk berdua di tepi sungai, melihat bintang-bintang bermunculan sambil bercerita tentang dongeng-dongeng indah.

Suatu hari di bulan purnama, mereka bercerita sambil menikmati bulan bersinar terang dan bintang-bintang bertaburan. Karena terlalu banyak bercerita, Katak merasa haus. Perlahan ia mencelupkan daun untuk mengambil air di sungai. Saat itulah ia melihat sesuatu yang luar biasa.

"Tikus, lihat! Kita ini kaya! Ada banyak berlian yang berkilau di air," seru Katak memanggil Tikus.

Tikus takjub melihatnya. Berdua, mereka mengagumi titik-titik berlian di sungai. Sampai suatu saat Katak mengantuk dan pergi tidur. Tinggallah Tikus di tepi sungai, sendirian mengagumi berlian di air. Lama-kelamaan Tikus pun mengantuk dan tanpa sadar tertidur pulas. Ia terbangun karena teriakan Katak.

"Berlian kita hilang! Kamu pasti mencurinya!" tuding Katak kepada Tikus.

Dengan kaget Tikus melihat ke air. Benar saja, ada yang mencuri berlian-berlian mereka! Mereka terus bertengkar tentang berlian yang hilang dari pagi hingga sore. Tikus menuduh Katak mengambilnya saat ia tertidur. Sebaliknya, Katak mengatakan pasti Tikus menyembunyikannya karena Katak pergi tidur lebih dulu.

Akhirnya, saat bulan sudah tinggi dan bintang-bintang bermunculan, mereka bersepakat kalau persahabatan ini sudah selesai. Kedua mantan sahabat pergi ke arah berlawanan tanpa menoleh.

Ah, andai saja salah satu dari mereka haus setelah bertengkar, pasti mereka bisa melihat kalau berlian-berlian mereka sudah kembali ke sungai.

Pesan moral:

Kita tidak boleh mudah curiga dan menuduh orang lain tanpa adanya bukti. Selain itu, kesalahpahaman sering membuat kita kehilangan sesuatu yang sebenarnya berharga di depan mata.

5. Naga Pemusik

Raja Panda sering mengadakan pesta. Ia suka berbagi kebahagiaan dengan rakyatnya. Siapa pun boleh datang ke istana. Semua menikmati hidangan lezat, menari, dan bernyanyi bersama. Raja juga meminta para pemain musik menghibur tamu-tamunya.

Namun, sore itu pesta berlangsung tidak biasa. Saat semua sedang menari dan menyanyi bersama, ada seekor naga datang menyapa.

"Awas! Ada naga!" seru salah satu tamu.

Semua yang hadir di pesta berlarian menyelamatkan diri. Mereka takut kepada Naga. Suasana pesta menjadi kacau. Raja Panda juga ikut menyelamatkan diri dan diikuti oleh semua penghuni istana. Naga lalu meninggalkan tempat pesta dengan sedih.

Esok paginya, Raja Panda tampak bingung merenung di singgasananya. Raja Panda bergumam, "Naga itu tinggal di negeriku sekarang. Bayangkan, ia memiliki sepuluh kepala dan dua puluh mata yang menyeramkan! Rakyatku pasti ketakutan."

"Bagaimana kalau ia kelaparan lalu merusak negeriku? Apa yang harus kulakukan?" tambahnya dengan muram.

Begitulah, sepanjang hari Raja Panda hanya duduk di singgasananya. Ia membayangkan hal-hal menakutkan yang mungkin dilakukan Naga. Biasanya Raja Panda mendengarkan musik yang dimainkan oleh para pemain musik saat makan siang. Namun, siang itu suasana tampak sepi.

Raja memanggil Kepala Pemusik dengan suara kesal.

"Kepala Pemusik! Mengapa sepi sekali? Ke mana para pemain musik istana?" tanya Raja Panda.

"Yang Mulia, maafkan Hamba. Seluruh anggota pemusik mengundurkan diri. Mereka takut suara musik yang dimainkan terdengar oleh Naga. Mereka takut Naga datang lalu melukai mereka."

"Hmmm... Benar juga. Kemarin sore Naga datang saat musik dimainkan," kata Raja Panda.

"Namun, kenapa Naga tak mengamuk saat kita bubar? Naga malah sedih lalu pergi," lanjut Raja Panda.

Mendengar itu, Kepala Pemusik malah senang. Naga dengan sepuluh kepala sepertinya suka musik! Ia lalu punya ide cemerlang untuk mengatasi ketakutan seluruh penduduk negeri.

Kepala Pemusik segera pamit kepada Raja sambil membawa bermacam-macam alat musik. Ia lalu pergi ke gua yang dijadikan tempat tinggal oleh Naga. Ia berbicara sebentar kepada Naga, kemudian membagikan sepuluh alat musik untuk masing-masing kepala. Ada drum, bass, gitar, harmonika, seruling, dan alat musik lainnya.

Ia lalu mengayunkan tongkat ajaib yang biasa dipakainya untuk memimpin pertunjukan musik. Setiap kepala naga mulai memainkan alat musik dengan merdu. Kepala Pemusik lalu mengajak Naga ke istana untuk bertemu dengan Raja.

Raja menganggap musik yang dimainkan Naga di antara sepuluh kepala sangat indah. Ia pun mengadakan pesta untuk menyambut Naga menjadi penduduk di negerinya. Naga tak kalah gembira. Sepanjang malam ia bermain musik. Semua pun menari dengan riang, termasuk Raja Panda.

Kepala Pemusik pun senang. Kini ia tidak perlu repot-repot mencari pemain pemusik pengganti. Cukup dengan satu Naga, sebuah pertunjukan musik bisa terlaksana.

Pesan moral:

Kita tidak boleh langsung takut dan berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum kita kenal, karena bisa jadi hal itu tidak seburuk yang kita bayangkan.

Selain itu, Bunda dan Ayah juga bisa membacakan cerita dongeng lainnya yang tak kalah menarik dan mengajarkan sikap baik, sebagaimana dirangkum dari buku Kumpulan Cerita Dongeng untuk Anak Usia Dini oleh Ardiansyah Anan.

6. Si Kancil dan Pasukan Semut Periang

Dongeng Si KancilDongeng Si Kancil/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi

Suatu hari di hutan yang lebat, hiduplah berbagai jenis hewan, di sana ada begitu banyak hewan yang berteman baik. Ada Kancil, semut, monyet, bebek, ayam dan banyak lagi. Mereka selalu bermain bersama dan mencari makan bersama. Tapi ada seekor hewan yang selalu jail dengan teman-temannya.

Hewan tersebut adalah Si Kancil, dia selalu saja menyembunyikan makanan milik teman-temannya. Si Kancil senang melihat teman-temannya sedih dan kebingungan mencari makanan mereka. Kancil akan lari dan bersembunyi di bawah jembatan hutan itu. Kancil juga suka mencuri makanan milik teman-temannya.

Teman-teman Kancil tidak mengetahui perbuatan Si Kancil, sampai suatu hari Si Sapi melihat Kancil yang sedang membawa makanan milik Pak Kelinci, Kancil mengantongi lima buah wortel. Sapi yang melihat Si Kancil kemudian menegurnya.

"Kenapa makanan milik Pak Kelinci ada di tanganmu Kancil?".

Si Kancil terkejut dan menjatuhkan wortel-wortel tersebut, kakinya gemetaran dan ingin segera berlari.

"Aku baru saja mau membantu Pak Kelinci untuk membawakan wortel miliknya," kata Si Kancil dengan kaki yang masih gemetaran.

Si Kancil ingin segera berlari, tapi badan Sapi yang besar menghalangi jalan di bawah jembatan itu.

"Jadi selama ini makanan kami selalu kau curi dan sembunyikan di sini ya, Si Kancil yang jail!" kata Si Sapi. Si Kancil yang jail hanya tersenyum ketika Si Sapi marah. Sapi semakin marah dan akan menyebarkan bahwa selama ini makanan mereka disembunyikan oleh Si Kancil yang jail. Akhirnya seluruh hutan mengetahui bahwa makanan mereka selalu disembunyikan oleh Kancil yang jail. Hewan-hewan lain pun tidak mau lagi berteman dengan Si Kancil yang jail.

Si Kancil sekarang tidak punya teman dan makanan yang lezat yang ia curi, Si Kancil hanya duduk di pinggir jembatan tempat ia biasa bersembunyi. Si Kancil sedih karena tidak memiliki teman. Ia selalu memperhatikan tempat penyimpanan makanan hasil curian tersebut.

Si Kancil melihat ada sekelompok semut yang sedang berjejer. Semut-semut tersebut terlihat senang dan bernyanyi riang sambil berpelukan ketika melihat semut yang lain. Kancil terharu melihat keramahan dan keceriaan mereka. Ketua pasukan semut tersebut melihat ada Si Kancil, ketua pasukan semut tersebut pun menyapa Si Kancil tanpa rasa takut dan marah.

"Kenapa kamu bersedih wahai Kancil yang malang?" kata ketua pasukan semut itu.

"Aku sedih karena hewan di hutan ini sudah tidak mau lagi berteman denganku. Padahal aku mencuri makanan mereka karena ingin bermain petak umpet dengan mereka," kata Si Kancil dengan perasaan sedih dan bersalah.

"Sudah tidak usah bersedih lagi Kancil, kamu harus mau berubah menjadi Kancil yang baik hati dan cerdas seperti Kancil yang lain. Kita akan bantu kamu minta maaf dengan hewan-hewan lain di hutan ini. Mereka pasti mau memaafkanmu," kata ketua pasukan semut.

"Iya, aku janji akan berubah menjadi Kancil yang baik hati dan cerdas seperti ayahku. Terima kasih ketua pasukan semut," kata Si Kancil dengan wajah yang berseri-seri.

"Ayo teman-teman kita bantu Si Kancil ini meminta maaf kepada hewan-hewan di hutan ini," kata ketua pasukan semut dengan serempak.

Mereka pun menyebar untuk memberitahu hewan lain dengan bernyanyi riang. Pasukan semut tidak pernah sedih dan selalu saling menyayangi.

Setelah mereka berkumpul di pohon beringin, akhirnya ketua pasukan semut pun berbicara di depan semua hewan. Ketua pasukan semut berbicara dengan gagah berani.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu hewan di seluruh hutan ini, saya ketua pasukan semut akan mengajak kalian semua untuk kembali berteman dengan si Kancil. Dia ingin meminta maaf pada kalian," kata ketua pasukan semut dengan lantang.

"Teman-teman semuanya, maafkan saya karena telah mencuri dan menyembunyikan makanan milik kalian. Saya berjanji tidak akan mencuri dan jail lagi. Saya akan membantu kalian dan berbuat baik dengan kalian. Maafkan saya teman-teman. Saya akan jadi Kancil yang cerdas dan baik hati seperti ayah saya," kata Si Kancil sambil menangis.

"Kami memaafkanmu Kancil yang jail. Eh maksudku, Kancil yang cerdik dan baik hati," kata Singa, si Raja Hutan.

Mereka semua akhirnya berbaikan dan berteman lagi. Si Kancil berterima kasih kepada pasukan semut yang riang dan membantunya meminta maaf. Mereka semua bernyanyi dan berteman baik.

Pesan moral:

Sebagai makhluk hidup, kita tidak boleh berbuat jahat atau mengambil milik orang lain karena pada akhirnya akan membuat kita dijauhi dan kehilangan teman.

7. Anak Monyet yang Malang

Di sebuah rimba yang jauh dari hiruk pikuk kota, tinggallah seekor ibu monyet dengan anaknya. Ibu monyet tidak memiliki tangan kanan. Oleh karena itu, ibu monyet tak bisa memanjat. Pernah suatu ketika ibu monyet berusaha memanjat menggunakan sebelah tangan, namun usahanya selalu gagal. Ia selalu terjatuh dan terjatuh lagi.

Tak bisa memanjat, tak lantas membuat ibu monyet putus asa. Ia selalu memiliki banyak cara agar berhasil mendapatkan makanan untuk diri sendiri juga anaknya yang masih kecil.

Terkadang, ibu monyet menapak dengan sangat hati-hati dari dahan satu ke dahan lainnya, terkadang pula ibu monyet melompat-lompat kecil hingga tangan kirinya berhasil mencapai ranting yang terdapat banyak buah. Tentunya hal itu dilakukan pada pohon yang tidak terlalu tinggi. Hal itu dilakukan ibu monyet selama bertahun-tahun dan tanpa terasa kini sang anak monyet telah semakin besar. Ia telah pandai memanjat pohon sendiri dan mencari makanannya sendiri. Ibu monyet pun bangga melihat anaknya kini tumbuh dengan sehat.

"Mau ke mana, nak?" tanya ibu monyet di suatu pagi.

Anak monyet mendengus. Ia mulai bosan selalu ditanya hendak ke mana. "Yang pasti mau mencari makanan bu, memangnya mau ke mana lagi."

"Jangan terlalu jauh, nanti tersesat." Ibu monyet memperingatkan.

"Tidak akan tersesat ibu. Kalaupun nanti lupa jalan pulang, saya bisa memanjat pohon yang paling tinggi untuk menemukan gubuk kecil ini," jawab anak monyet kasar. Ibu monyet terdiam. Memang benar gubuk tempat mereka berteduh sangatlah kecil. Namun bukankah itu sudah cukup untuk mereka tinggal berdua?

"Toh, nanti juga saya akan bagi hasil pencarian buah pisangnya dengan ibu," sambung anak monyet.

Perlahan senyum ibu monyet mulai terlihat. Perasaannya menghangat. Ia senang jika anaknya masih mengingat ibunya.

"Tidak perlu repot nak, ibu bisa mencari sendiri, yang terpenting kamu pulang dengan selamat ibu sudah senang," katanya.

"Halah, ibu pasti senang jika kubawakan makanan. Ibu tidak punya tangan, pasti repot untuk mencari buah-buahan yang paling segar. Kebiasaan ibu hanya mengambil buah yang sudah jatuh."

"Buah yang baru saja jatuh dari pohonnya nak," ralat ibu monyet.

Anak monyet pun terdiam. Ibu monyet teringat sesuatu, ia meminta sang anak menunggu sebentar selagi dirinya mengambil sesuatu dari dalam gubuk.

"Ini!" Ibu monyet menyerahkan segenggam biji jagung pada anaknya. "Gunakan ini agar kamu tidak tersesat!" perintah ibu monyet.

Anak monyet mengambil malas-malasan dan tak lama pun ia berangkat tanpa mengucapkan lagi sepatah atau dua patah kata sebagai salam perpisahan sementara.

Tepat di langkahnya yang ke-20, ia melihat kawanan anak monyet tengah bermain. Berlarian, memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya. Si anak monyet tiba-tiba memiliki kemauan untuk bergabung bersama mereka. Anak monyet pun lupa akan tujuan awalnya mencari buah-buahan yang segar, terutama buah pisang. Tak hanya itu, anak monyet juga lupa menabur biji-biji jagung di jalan yang ia lalui sesuai perintah ibunya.

Rupanya, kecepatan anak monyet memanjat tak sehebat dan setangkas para kawanan itu. Si anak monyet telah tertinggal jauh, bahkan sekawanan monyet itu pun kini tak terlihat. Anak monyet kecewa. Ia menggaruk kepalanya dengan kesal.

Krukkkk, krukkk...

Bunyi itu berasal dari perut anak monyet yang mulai merasakan lapar. Pantas saja, anak monyet telah memanjat sedemikian jauhnya. Ketika ia berbalik, alangkah terkejutnya anak monyet ketika di belakangnya terdapat seekor harimau yang sedang mengeratkan gigi-gigi tajamnya. Terdengar erangan dari harimau itu.

Anak monyet mulai panik. Sebelumnya ia tak pernah berhadapan dengan makhluk buas seorang diri. Ketakutan mulai menyelimuti, tubuh anak monyet bergetar hebat. Alih-alih mendapatkan makanan, yang ada anak monyet menjadi santapan harimau hutan.

Harimau telah bersiap menerkamnya, spontan anak monyet melompat ke dahan tertinggi dan mulai melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Pontang-panting ia melarikan diri, di bawah pohon sana harimau masih setia mengikuti. Jika anak monyet nantinya terjatuh, sudah pasti harimau langsung menerkamnya.

Di tengah ketakutan itu, anak monyet tiba-tiba teringat sang ibu. Jika ada ibunya, ia tak akan setakut ini. Meskipun Ibu monyet tak memiliki tangan kanan, tetapi ia cerdas. Pasti ibu monyet memiliki banyak akal untuk mengelabui harimau kelaparan tadi. Seiring dengan pikirannya tentang sang ibu, anak monyet memiliki ide untuk berbalik saja dan memutuskan untuk pulang. Harimau pasti akan bingung jika ia tiba-tiba berbalik arah.

Biji-biji jagung yang menjadi bekal dari sang ibu terjatuh. Anak monyet berhenti di dahan pohon tertinggi. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Hutan yang ini berbeda dari hutan tempatnya tinggal. Entahlah, apa mungkin anak monyet terlalu jauh meninggalkan rumahnya atau ia telah keluar dari hutannya dan menuju hutan lain, anak monyet pun bingung. Ketika melihat ke bawah, seekor harimau rupanya telah hilang. Ia mendesah lega, namun kelegaan itu tak berlangsung lama ketika menyadari dirinya tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Ia menyesal tak menghiraukan perintah ibunya. Padahal maksud sang ibu memintanya menabur biji-biji jagung itu sepanjang jalan adalah agar anak monyet mudah menemukan jalan pulang. Anak monyet baru menyadari jika tempat ternyamannya adalah berada di dekat ibunya.

Pesan moral:

Kita harus selalu mendengarkan nasihat orang tua karena mereka memberi arahan yang baik untuk kita. Selain itu, sikap ceroboh dapat membuat seseorang tersesat dan menyesal di kemudian hari.

Itulah kumpulan cerita dongeng anak kecil sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik. Bunda sudah memilih mau membacakan cerita tentang apa?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online