AI Melaju Pesat, Tapi Perusahaan Indonesia Masih Kesulitan Pantau Operasional TI

5 hours ago 4

Selular.id – Investasi Artificial Intelligence (AI) di Indonesia terus meningkat, namun banyak perusahaan masih menghadapi tantangan mendasar dalam mengelola operasional teknologi informasi (TI).

Kompleksitas sistem yang terus bertambah membuat organisasi memiliki data dalam jumlah besar, tetapi belum tentu mampu memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi infrastruktur TI secara real time.

Temuan tersebut diungkap ManageEngine dalam artikel terbarunya mengenai tantangan operasional di era AI. Perusahaan menilai persoalan yang kini dihadapi organisasi bukan lagi sekadar keterbatasan teknologi, melainkan munculnya operational blind spots, yakni titik buta dalam visibilitas operasional TI akibat data yang tersebar di berbagai sistem.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat proses identifikasi penyebab gangguan hingga pengambilan keputusan. Padahal, semakin banyak perusahaan mengandalkan AI untuk mendukung operasional bisnis, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap data yang terhubung dan dapat dianalisis secara cepat.

Transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor membuat lingkungan TI semakin kompleks. Aplikasi, server, jaringan, endpoint, hingga sistem keamanan menghasilkan ribuan log, telemetri, dan notifikasi setiap hari. Tanpa korelasi yang baik, seluruh informasi tersebut justru berubah menjadi “noise” yang menyulitkan tim TI menentukan prioritas penanganan.

ManageEngine menyebut kondisi tersebut memunculkan decision latency, yaitu jeda waktu sejak insiden terjadi hingga organisasi benar-benar memahami akar penyebabnya dan dapat mengambil tindakan yang tepat. Dalam bisnis digital, keterlambatan ini berpotensi memengaruhi kualitas layanan, pendapatan, hingga kepercayaan pelanggan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Tantangan tersebut diperkirakan akan semakin besar seiring meningkatnya adopsi AI di Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip ManageEngine, sebanyak 66 persen perusahaan di Indonesia telah berinvestasi atau berencana mengimplementasikan teknologi agentic AI, yaitu AI yang mampu menjalankan tugas secara lebih mandiri untuk mendukung proses bisnis. Angka tersebut menunjukkan AI mulai menjadi bagian penting dalam strategi transformasi digital perusahaan.

Meski demikian, kesiapan operasional belum berkembang secepat adopsi teknologi. ManageEngine mencatat sebanyak 69 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam satu tahun terakhir, tetapi hanya 16 persen yang memanfaatkannya setiap hari. Kondisi ini menunjukkan banyak organisasi masih berada pada tahap awal eksplorasi pemanfaatan AI.

AI sendiri membutuhkan data yang akurat, saling terhubung, dan tersedia secara real time agar mampu menghasilkan analisis yang tepat. Jika data masih tersimpan dalam berbagai sistem yang terpisah atau silo, hasil analisis AI berpotensi tidak lengkap sehingga memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Di saat yang sama, ancaman keamanan siber juga terus meningkat. ManageEngine mengutip bahwa sekitar 68 persen pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia kini menempatkan risiko siber sebagai salah satu dari tiga prioritas utama organisasi.

Hal tersebut membuat visibilitas terhadap seluruh lingkungan TI menjadi semakin penting, bukan hanya untuk menjaga operasional tetap berjalan, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan bisnis.

Menurut ManageEngine, pendekatan operasional TI kini mulai bergeser dari sekadar merespons setiap alert menuju kemampuan memahami hubungan antarinsiden secara menyeluruh. Organisasi semakin banyak memanfaatkan konsep AIOps, yaitu penerapan AI dalam operasional TI untuk menghubungkan berbagai sumber data, mengurangi alert yang tidak relevan, mengenali pola gangguan, hingga menghasilkan insight yang lebih cepat.

Dengan pendekatan tersebut, tim TI tidak lagi hanya bereaksi terhadap notifikasi yang masuk, melainkan dapat lebih fokus mengidentifikasi akar penyebab gangguan sebelum berdampak lebih luas terhadap layanan bisnis.

Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, mengatakan tantangan terbesar yang ditemui di lapangan bukanlah kompleksitas sistem, melainkan minimnya visibilitas terhadap keseluruhan lingkungan TI.

Menurut Hanief, ketika sebuah insiden terjadi, organisasi sebenarnya tidak kekurangan data. Persoalannya terletak pada waktu yang dibutuhkan untuk menghubungkan berbagai informasi yang tersebar di banyak sistem sebelum tim benar-benar memahami penyebab gangguan tersebut.

Ia menambahkan bahwa investasi AI tidak dapat berdiri sendiri. Organisasi juga perlu memastikan fondasi operasional TI memiliki visibilitas yang memadai sehingga setiap keputusan bisnis didasarkan pada informasi yang utuh, bukan potongan data yang tersebar di berbagai platform.

Sebagai bagian dari solusi, ManageEngine menawarkan platform yang menghubungkan data dari endpoint, jaringan, server, aplikasi, hingga lapisan keamanan dalam satu ekosistem.

Dengan memanfaatkan AI untuk mengorelasikan berbagai insiden, platform tersebut dirancang membantu organisasi mengurangi decision latency sekaligus mempercepat identifikasi akar masalah.

Seiring transformasi digital yang memasuki fase baru, keberhasilan implementasi AI tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya investasi teknologi.

Kemampuan organisasi memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap operasional TI diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan layanan, meningkatkan ketahanan siber, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat di masa mendatang.

Baca juga: Microsoft Bakal PHK Ribuan Karyawan di Tengah Investasi AI

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online