Jakarta -
Kehamilan membuat seorang ibu lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk saat berhubungan intim. Ada kekhawatiran hubungan intim dapat membahayakan janin di dalam kandung.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah berhubungan saat hamil 2 bulan bolehkan sperma masuk ke dalam kandungan?
Sebenarnya, kekhawatiran ini cukup wajar. Banyak ibu hamil yang takut sperma dapat mengganggu perkembangan janin atau dapat menyebabkan keguguran. Kabar baik untuk Bunda yang hamil tanpa komplikasi, hubungan seksual umumnya aman dilakukan. Termasuk ketika sperma masuk ke vagina saat ejakulasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah sperma bisa membahayakan janin 2 bulan?
Sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi umumnya dianggap aman untuk ibu hamil dan bayi di kandungan. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Carolyn Kay, M.D., menjelaskan bahwa sperma tak hanya aman, tapi juga memiliki beberapa manfaat.
"Sperma dan hubungan seks vaginal dapat membantu memicu persalinan ketika saatnya tiba. Oksitosin, salah satu hormon kunci yang terlibat dalam kemajuan persalinan, dilepaskan selama hubungan seksual, dan orgasme meniru kontraksi. Selain itu, prostaglandin dalam sperma dapat membantu mematangkan serviks," kata Kay dilansir dari Healthline.
Salah satu mitos yang masih sering dipercaya hingga kini adalah hubungan intim pada trimester pertama dapat memicu keguguran. Padahal, berbagai organisasi kesehatan menegaskan bahwa hubungan seksual bukan penyebab keguguran pada kehamilan normal.
Menurut Mayo Clinic, sebagian besar keguguran terjadi karena janin tidak berkembang sebagaimana mestinya, umumnya akibat kelainan kromosom yang terjadi sejak proses pembuahan.
Sekitar 10 persen kehamilan berakhir dengan keguguran dan mayoritas terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu. Namun, hubungan seksual maupun sperma yang masuk ke vagina bukanlah penyebabnya.
Jika Bunda memutuskan untuk berhubungan seks selama kehamilan, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa infeksi menular seksual (IMS) masih dapat ditularkan saat hamil, jadi perlindungan yang tepat harus dilakukan.
Perlindungan dari infeksi sangat penting selama kehamilan, karena peradangan panggul yang terjadi dapat menyebabkan persalinan dini, keguguran, atau komplikasi kesehatan lainnya bagi ibu dan bayi.
Ke mana sperma pergi jika Bunda hamil?
Kay mengatakan kebanyakan orang khawatir sperma yang dikeluarkan saat berhubungan seks dapat memengaruhi bayi yang sedang tumbuh, atau akan melukai bayi ketika berhubungan seks. Sebuah survei dari tahun 2014 menunjukkan bahwa 80 persen pria khawatir akan melukai calon anaknya karena penetrasi pada ibu.
"Jika itu yang Anda rasakan saat ini, Anda dapat bernapas lega. Air mani dan sperma yang masuk ke dalam vagina selama hubungan seks penetratif tidak akan membahayakan bayi. Sebagian besar akan dikeluarkan dari tubuh melalui lubang vagina," ujar Kay.
Berkat plasenta, kantung amnion, dan sumbat lendir yang menutupi serviks, kata Kay, bayi memiliki sistem perlindungan yang sangat spesifik tentang apa yang masuk dan tidak masuk. Selain menghalangi sperma, bayi yang sedang tumbuh terlindungi dari kontak dengan penis, tidak peduli seberapa dalam penetrasinya.
Kapan seks selama kehamilan tidak aman?
Seks aman dilakukan selama kehamilan, kecuali tenaga kesehatan menunjukkan Bunda memiliki kehamilan berisiko tinggi. Meskipun ada beberapa alasan untuk menghindari seks selama kehamilan, ada beberapa situasi dokter maupun bidan mungkin menunjukkan bahwa seks harus dihindari seperti dilansir dari American Pregnancy.
Situasi-situasi ini meliputi:
- Riwayat kelahiran prematur atau persalinan prematur.
- Riwayat keguguran.
- Jika ketuban pecah.
- Mengalami perdarahan atau keputihan vagina yang tidak dapat dijelaskan.
- Memiliki plasenta previa atau plasenta yang sangat rendah.
- Memiliki serviks yang tidak kompeten atau jika serviks telah melebar.
- Bunda atau Ayah memiliki penyakit menular seksual.
Salah satu hal yang perlu diingat selama kehamilan adalah berhubungan seksual anal tidak dianggap aman selama kehamilan dan harus dihindari.
Sebenarnya, berhubungan saat hamil 2 bulan boleh dan sperma yang masuk ke dalam vagina umumnya aman, selama kehamilan berlangsung normal dan dokter tidak memberikan larangan khusus.
Sperma tidak akan mencapai janin karena bayi terlindungi kantung ketuban, rahim, dan sumbat lendir pada leher rahim. Selain itu, hubungan seksual juga tidak terbukti menyebabkan keguguran pada kehamilan sehat.
Namun, jika Bunda memiliki riwayat kehamilan berisiko tinggi, perdarahan, plasenta previa, atau komplikasi tertentu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan sebelum melakukan hubungan intim.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
4 hours ago
5

















































