BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda

4 hours ago 7

loading...

Berdasarkan data BI hingga posisi Kamis (16/7), akumulasi ekspansi likuiditas yang diguyurkan BI ke pasar melalui operasi moneter telah menembus Rp837,11 triliun. Foto/Dok

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melakukan injeksi likuiditas ke dalam sistem keuangan melalui pemanfaatan berbagai instrumen moneter strategis, seperti transaksi repurchase agreement (repo), valuta asing (swap), serta aksi pembelian Surat Berharga Nasional (SBN) di pasar sekunder. Berdasarkan data BI hingga posisi Kamis (16/7/2026), akumulasi ekspansi likuiditas yang diguyurkan BI ke pasar melalui operasi moneter telah menembus Rp837,11 triliun.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, langkah ini terbukti efektif menjaga momentum pertumbuhan uang primer (M0) tetap melaju di zona double digit, yakni tumbuh sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada akhir Juni 2026.

"Kondisi ini dipengaruhi strategi ekspansi likuiditas oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen moneter seperti repo, swap, dan pembelian SBN di pasar sekunder, dimana per 16 Juli ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter tercatat sebesar Rp837,11 triliun,” kata Destry dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Baca Juga: Dana Pemerintah Rp281 Triliun Dijamin Parkir di Bank BUMN hingga Desember 2026

Adapun BI menegaskan bahwa ketahanan kondisi likuiditas di industri perbankan domestik saat ini tetap berada dalam posisi yang terjaga dengan baik. Ketersediaan likuiditas yang memadai ini dinilai sangat penting untuk menopang pencapaian target intermediasi perbankan serta memperkuat stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Destry, indikator stabilitas ini salah satunya tecermin dari pergerakan indeks INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) yang merepresentasikan dinamika suku bunga transaksional antarbank di pasar uang.

Data BI menunjukkan indeks INDONIA yang sempat melonjak hingga menyentuh level 6,62% pada 18 Juni 2026, kini dilaporkan telah melandai ke posisi 6,17% pada pemantauan per 16 Juli 2026. BI menilai penurunan indeks ini menjadi sinyal positif bahwa tensi kebutuhan pendanaan jangka pendek di kalangan perbankan mulai berkurang.

"Penurunan INDONIA mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai,” jelas Destry.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online