Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara

5 hours ago 7

loading...

M Zikri Neva Nugraha, Wakil Bendahara Umum PB HMI /Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Foto/Dok. SindoNews

M. Zikri Neva Nugraha, S.H., M.H.
Wakil Bendahara Umum PB HMI
Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia.

ADA satu kalimat tua yang sampai hari ini masih menggetarkan siapa pun yang membacanya. Kalimat itu terekam dalam kitab Pararaton, diucapkan seorang mahapatih di hadapan para pembesar istana Majapahit sekitar tahun 1334 Masehi: "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa. Lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa."

Jika Nusantara telah takluk, barulah aku akan menikmati palapa. Begitu kira-kira maknanya. Gajah Mada bersumpah menahan diri dari segala kesenangan duniawi sebelum satu pekerjaan besar selesai: menyatukan kepulauan yang terserak dari Sumatra sampai kawasan timur di bawah satu panji.

Hampir tujuh abad kemudian, di sebuah upacara di Istana Kepresidenan Jakarta pada 21 Oktober 2024, seorang jenderal purnawirawan berusia 72 tahun mengucap sumpah jabatan sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Namanya Sjafrie Sjamsoeddin. Dan penulis kira, tidak berlebihan jika kita membaca perjalanan hidupnya dengan kaca mata yang sama: kaca mata Gajah Mada.

Ada satu tesis dalam khazanah historiografi kita yang layak direnungkan di sini, tesis yang kerap disebut sebagai siklus tujuh abad kebangkitan Nusantara. Bacaannya sederhana namun menggugah: pada abad ke-7 Masehi, Sriwijaya bangkit dari Sumatra menjadi imperium maritim yang menguasai jalur perdagangan dunia di Selat Malaka, dengan Nalanda-nya sendiri di Muara Jambi dan armada yang disegani dari Tiongkok sampai India.

Tujuh abad berikutnya, pada abad ke-14, giliran Majapahit yang mencapai puncak zaman keemasan di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Dan kini, tujuh abad setelah Majapahit, kita berdiri di abad ke-21 — abad yang oleh banyak pemimpin bangsa diyakini sebagai giliran ketiga: momentum kebangkitan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, tepat seabad kemerdekaannya.

Tesis siklus ini tentu bukan hukum besi sejarah; ia lebih merupakan cermin. Tetapi cermin itu memantulkan satu pesan yang sulit dibantah: setiap kebangkitan Nusantara selalu ditopang dua hal yang sama — kekuatan pertahanan yang terkonsolidasi dan gagasan persatuan yang dipikul orang-orang yang tepat.

Bekel yang Menyelamatkan Raja
Mari mundur dulu ke abad ke-14, karena di sinilah cerita ini harus dimulai. Gajah Mada bukan anak bangsawan. Pararaton tidak mencatat silsilah agungnya; ia muncul dalam sejarah sebagai seorang bekel, perwira rendahan dalam pasukan Bhayangkara, satuan pengawal pribadi raja Majapahit. Karier orang ini dibangun dari lumpur, bukan diwariskan dari singgasana.

Titik baliknya terjadi sekitar tahun 1319, ketika Ra Kuti, salah satu dari Dharmaputra Winehsuka, memberontak dan menguasai ibu kota. Raja Jayanegara terancam nyawanya. Dalam situasi yang nyaris tanpa harapan itu, Gajah Mada muda mengambil keputusan yang menentukan arah sejarah: ia menyelundupkan raja keluar istana, menyembunyikannya di Desa Badander, lalu kembali ke ibu kota sendirian untuk mengukur kekuatan lawan.

Ia menyebarkan kabar bahwa raja telah wafat, membaca reaksi para pembesar, memilah mana yang setia dan mana yang berkhianat, kemudian menggalang kekuatan untuk menumpas Ra Kuti. Pemberontakan padam. Raja kembali bertakhta. Dan seorang bekel naik pangkat.

Perhatikan baik-baik pola ini, karena ia akan berulang: kecerdasan intelijen, kesetiaan pada pemimpin negara, dan keberanian mengambil risiko di saat genting. Tiga hal itulah modal Gajah Mada, bukan darah biru.

Dari Bhayangkara, ia diangkat menjadi Patih Kahuripan sekitar 1321, lalu Patih Daha sekitar 1322. Ketika pemberontakan Sadeng dan Keta meletus tahun 1331 di masa Ratu Tribhuwana Tunggadewi, lagi-lagi Gajah Mada yang tampil memadamkannya, bahkan di tengah intrik para pejabat istana yang iri kepadanya.

Sesudah Sadeng takluk, Tribhuwana mengangkatnya sebagai Mahapatih Amangkubhumi, jabatan tertinggi setelah raja. Di momen pelantikan itulah Sumpah Palapa diucapkan, dan konon sebagian pembesar istana justru menertawakannya. Mereka menganggap sumpah itu terlalu muluk. Sejarah kemudian membungkam tawa mereka.

Nusantara yang Dirajut dengan Layar dan Tombak
Yang sering dilupakan orang: proyek Nusantara Gajah Mada bukan sekadar penaklukan darat. Majapahit adalah imperium maritim, dan Gajah Mada memahami betul bahwa menyatukan kepulauan berarti menguasai laut. Bersama Laksamana Mpu Nala, panglima armada Majapahit yang namanya kini diabadikan sebagai nama KRI, ia membangun kekuatan laut yang mampu memproyeksikan kekuasaan lintas pulau — sesuatu yang pada zamannya setara dengan membangun angkatan bersenjata multi-matra.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online