Ciri Anak Punya Kecerdasan Emosional Tinggi, Sering Ditanya 9 Hal Ini Menurut Pakar

6 hours ago 6

Jakarta -

Sebagai orang tua, kita tahu bahwa membesarkan anak yang cerdas secara emosional akan membantu mereka lebih siap menghadapi masa depan. Namun, banyak dari kita yang tidak pernah diajarkan keterampilan itu sejak kecil.

Dahulu, kita mungkin suka mendengar kalimat seperti "jangan menangis" atau "harus kuat" saat sedang sedih. Seiring waktu, pesan itu bikin kita lebih sering menekan perasaan daripada benar-benar memahaminya.

Padahal, anak-anak zaman sekarang justru belajar mengenal emosinya melalui keseharian mereka bersama orang tua. Mulai dari cara berkomunikasi, berdiskusi, hingga rasa aman yang mereka rasakan di rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Parenting coach asal Amerika Serikat, Reem Rouda, menemukan bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang cukup konsisten dalam membangun kecerdasan emosional dan empati anak.

"Setelah bertahun-tahun mempelajari lebih dari 200 hubungan orang tua-anak, saya menemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan tertentu secara konsisten membantu anak-anak membangun kesadaran emosional, ketahanan, dan empati," kata Rouda, dikutip dari CNBC Make It.

Oleh karena itu, Bunda bisa menyimak beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan orang tua kepada anak yang memiliki ciri kecerdasan emosional tinggi.

Pertanyaan yang sering diajukan orang tua pada anak dengan kecerdasan emosional tinggi

Menurut Rouda, ada sejumlah pertanyaan orang tua yang menjadi ciri anak dengan kecerdasan emosional tinggi. Berikut penjelasan selengkapnya yang dilansir dari CNBC Make It:

Anak-anak biasanya sudah merasakan emosi tertentu melalui reaksi tubuh mereka jauh sebelum mereka bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Itulah sebabnya, mereka bisa menunjukkan reaksi yang berbeda saat sedang merasakan sesuatu.

Rouda menjelaskan bahwa anak yang sedang merasa gugup kerap mengeluhkan rasa tidak nyaman pada bagian perutnya, Bunda. Sementara itu, rasa gembira bisa terlihat dari detak jantungnya yang terasa lebih cepat.

"Anak yang gugup mungkin menyebutkan sakit perut. Kegembiraan mungkin ditunjukkan dengan wajah yang memerah atau detak jantung yang cepat," kata Rouda.

"Mengenali sensasi-sensasi ini membantu anak-anak membangun kesadaran akan keadaan emosional mereka," lanjutnya.

2. "Apa satu perasaan yang kamu alami hari ini, dan apa yang memicu perasaan itu?"

Selanjutnya, anak-anak mulai belajar bahwa setiap emosi biasanya punya alasan di baliknya. Dari sini, mereka perlahan mengerti bahwa perasaan tidak terjadi begitu saja.

Dengan mengungkapkan ini, anak menjadi lebih mudah mengaitkan emosi dengan pengalaman yang mereka alami, Bunda.

Misalnya, seorang anak bisa merasa bangga setelah menyelesaikan tugas atau merasa kecewa saat terjadi pertengkaran dengan teman. Dari pengalaman itu, mereka mulai paham hubungan antara peristiwa dan emosinya.

3. "Bagaimana kamu tahu kapan seseorang merasa bahagia atau sedih?"

Bunda perlu tahu, bahwa empati itu bisa tumbuh ketika anak-anak mulai belajar memperhatikan perasaan orang lain, Bunda. Dari situ, mereka jadi lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka.

Lewat pertanyaan ini, anak pun mengenali tanda-tanda emosi seperti ekspresi wajah, intonasi suara, dan perilaku. Lambat laun, mereka mengerti bahwa emosi tidak hanya ada pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain.

4. "Apa sesuatu tentang dirimu yang membuatmu merasa bangga?"

Anak-anak sering menganggap rasa bangga hanya muncul dari kemenangan atau hasil yang baik saja. Padahal, ada banyak hal lain dalam diri mereka yang juga layak diapresiasi.

Pertanyaan seperti ini membantu mereka untuk melihat bahwa kebanggaan tidak selalu soal prestasi. Anak akan mulai menghargai sifat-sifat baik seperti kejujuran, ketekunan, hingga sikap suka menolong sesama.

"Anak-anak mulai mengenali hal-hal seperti kebaikan, ketekunan, atau kemurahan hati sebagai alasan untuk merasa bangga," tulis Rouda.

Nah, jika mereka kesulitan untuk menjawab, Bunda bisa mengatakan seperti:

  • "Apakah kamu bangga dengan kebaikan yang kamu tunjukkan hari ini?"
  • "Apakah kamu bangga dengan seberapa keras kamu berusaha?"
  • "Apakah kamu bangga telah membantu temanmu?"

5. "Saat kamu sedih, hal apa yang kamu harapkan dilakukan seseorang untukmu?"

Di momen ketika anak merasa sedih, mereka sebenarnya sedang mengenali apa yang mereka butuhkan. Kalau Bunda tanyakan hal ini kepada mereka, anak pun perlahan akan belajar menenangkan dirinya sendiri.

Mereka mungkin akan menjawab ingin dipeluk, ditemani, atau justru diberi waktu sendiri dalam suasana yang tenang.

6. "Saat kamu merasa gugup hari ini, apa yang membantu tubuhmu merasa aman kembali?"

Kecerdasan emosional juga mencakup kemampuan anak untuk menenangkan diri saat sedang merasa gugup atau tertekan. Dari sini, mereka belajar bahwa tubuh dan perasaan bisa dikendalikan dengan cara yang lebih tenang.

Anak-anak pun mulai mengenali cara yang paling cocok untuk membuat dirinya merasa lebih aman. Ada yang merasa lebih tenang dengan menarik napas dalam-dalam, ada juga yang butuh pelukan atau waktu sendiri.

7. "Apa yang kamu katakan pada diri sendiri ketika sesuatu terasa sulit?"

Selanjutnya, pertanyaan ini dapat membantu anak mengenali suara batin mereka sendiri. Mereka pun mengerti bahwa setiap orang punya cara berbicara dengan dirinya saat menghadapi kesulitan.

Anak-anak sering kali mendapat manfaat dari mendengar contoh-contoh afirmasi yang positif. Orang tua dapat mencontohkan kalimat seperti:

  • "Kamu bisa mencoba lagi"
  • "Kesalahan membantu kamu untuk belajar"
  • "Kamu aman"
  • "Kamu sudah melakukan yang terbaik"

Lewat ungkapan seperti ini, anak pun akan lebih kuat secara emosional dalam menghadapi situasi yang sulit, Bunda.

Anak-anak belajar bahwa empati tidak hanya soal perasaan saja, tetapi juga tentang tindakan. Kepedulian terhadap perasaan orang lain pun kerap tampak dalam perilaku sehari-hari.

Mereka mungkin saja akan menjawab dengan mendengarkan cerita teman lalu bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?" atau sekadar menemani teman yang sedang sedih.

9. "Apa sesuatu tentang dirimu yang membuatmu istimewa?"

Dalam menjalani peran sebagai orang tua, kita harus tahu bahwa anak-anak perlu belajar mengenali kualitas baik yang ada dalam dirinya sejak kecil, Bunda.

Orang tua bisa membantu dengan menyebutkan sifat seperti kreatif, pemberani, penuh perhatian, atau rasa ingin tahu yang tinggi. Setelah itu, anak dapat melihat sifat mana yang paling sesuai dengan dirinya.

Itulah beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada anak dengan ciri kecerdasan emosional tinggi. Semoga informasinya dapat bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online