Jakarta -
Orang yang suka playing victim atau berpura-pura menjadi korban biasanya sangat dijauhi dari pergaulan. Banyak orang tidak mau berteman dengan orang-orang ini lantaran sikapnya yang manipulatif, Bunda.
Menurut psikoterapis Erin Leonard, Ph.D., seseorang yang berperan sebagai korban secara aktif memanipulasi orang lain dengan mencari perhatian. Mereka sering menimbulkan rasa bersalah pada orang lain dan cenderung menghindari tanggung jawaban.
"Seseorang yang manipulatif mungkin berpura-pura menjadi korban untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," kata Leonard, dilansir Psychology Today.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang-orang ini seolah-olah menikmati ketika memonopoli perhatian orang lain dengan kisah-kisah kesengsaraan pribadinya."
Memahami ciri kepribadian orang yang suka playing victim sangat penting. Selain berguna untuk menjalin relasi, kita dapat berjaga-jaga agar tak menjadi korban manipulasi yang dapat menyakitkan hati.
Ciri kepribadian orang yang suka playing victim
Melansir dari beberapa sumber, berikut 10 ciri kepribadian orang yang suka playing victim atau berperan sebagai korban.
1. Menghindari tanggung jawab
Orang yang suka berperan sebagai korban sering kali lari dari tanggung jawab. Orang-orang ini suka menyalahkan orang lain dan suka membuat alasan untuk menghindari tanggung jawab, Bunda.
"Dapat dimengerti bahwa banyak orang yang menghadapi satu kesulitan demi kesulitan lainnya mungkin mulai percaya bahwa dunia ingin menjatuhkan mereka. Tetapi banyak situasi terjadi melibatkan tingkat tanggung jawab pribadi yang tidak bisa dihindari," ungkap pakar Timothy J. Legg, PhD, PsyD, dikutip dari healthline.
2. Tidak suka mencari solusi
Orang yang menganggap dirinya korban mungkin menunjukkan sedikit minat untuk mencoba melakukan perubahan. Mereka menolak tawaran bantuan, dan mungkin tampak seperti hanya tertarik untuk mengasihani diri sendiri.
Meluangkan sedikit waktu untuk meratapi kesedihan tidak selalu buruk karena dapat membantu dalam mengakui dan memproses emosi yang menyakitkan. Tetapi di periode ini, kita harus memiliki titik akhir yang pasti dengan mau terbuka dan menerima bantuan untuk mencari solusi.
Banyak orang yang merasa menjadi korban percaya bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengubah situasi. Mereka tidak menikmati perasaan tertindas dan ingin segala sesuatunya berjalan dengan baik.
Namun, kehidupan terus melemparkan situasi kepada mereka yang dianggap sulit untuk diatasi atau dihindari. Pada akhirnya mereka merasa seperti korban yang membuat pilihan sadar untuk mengalihkan kesalahan.
4. Rasa kepercayaan diri yang kurang
Orang yang memandang diri mereka sebagai korban mungkin kesulitan dengan kepercayaan diri dan harga diri. Hal ini dapat memperburuk perasaan mereka dan semakin menyudutkan mereka sebagai 'korban'.
"Mereka mungkin berpikir seperti, 'Saya tidak cukup pintar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik' atau 'Saya tidak cukup berbakat untuk sukses'. Perspektif tersebut dapat mencegah mereka untuk mencoba mengembangkan keterampilan mereka atau mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan baru yang dapat membantu mereka mencapai tujuan," ungkap Legg.
5. Suka memanipulasi
Beberapa orang yang suka playing victim mungkin tampak menikmati saat menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka sebabkan. Mereka lalu melampiaskan kemarahan dan membuat orang lain merasa bersalah, atau memanipulasi orang lain untuk mendapatkan simpati dan perhatian.
Pada tingkat yang serius, perilaku beracun seperti ini mungkin lebih sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian narsistik.
6. Suka mengkhianati kepercayaan
Pengkhianatan kepercayaan, terutama pengkhianatan yang berulang, juga dapat membuat orang merasa seperti korban. Hal itu menyulitkan mereka untuk mempercayai siapa pun. Orang-orang ini jarang menepati komitmennya kepada orang lain.
7. Sering merasa frustrasi dan marah
Mentalitas sebagai orang yang suka playing victim dapat berdampak buruk pada kesejahteraan emosional seseorang. Orang dengan pola pikir ini sering merasa frustasi dan marah pada situasi yang tampaknya menentang mereka.
Emosi-emosi tersebut dapat membebani orang yang percaya bahwa mereka akan selalu menjadi korban. Seiring waktu, perasaan ini dapat menyebabkan ledakan amarah, depresi, isolasi, dan kesepian.
8. Suka menyabotase diri sendiri
Orang yang hidup dengan mentalitas sebagai korban mungkin menginternalisasi pesan-pesan negatif dalam dirinya. Perasaan sebagai orang yang playing victim dapat berkontribusi pada keyakinan seperti, 'Semua hal buruk terjadi pada saya' atau 'Tidak ada yang peduli pada saya'.
Pembicaraan diri negatif seringkali berjalan beriringan dengan sabotase diri. Jika pembicaraan diri itu negatif, mereka mungkin lebih cenderung secara tidak sadar menyabotase setiap upaya yang dapat dilakukan untuk berubah.
Demikian delapan ciri kepribadian orang yang suka playing victim. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)
.png)
14 hours ago
10

















































