Guru Besar UI Desak Perlindungan Dokter Muda Diperkuat

14 hours ago 6

GURU Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat perlindungan terhadap dokter muda dan tenaga kesehatan setelah kembali muncul kabar meninggalnya seorang dokter peserta program internship.

Tjandra mengatakan wafatnya dokter berusia muda yang sedang menjalani program internship menambah deretan kematian dokter muda dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, sejak Februari 2026 sedikitnya enam dokter peserta internship meninggal dengan berbagai penyebab. Selain itu, terdapat pula tenaga medis muda lain yang turut wafat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Kita kembali amat mengharapkan agar para dokter usia muda ini dilindungi, demikian juga tenaga kesehatan yang lain," kata Tjandra dalam keterangan tertulis dikutip pada Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menilai perlindungan terhadap dokter dan tenaga kesehatan perlu mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam panduan Caring for Those Who Care: Guide for the Development and Implementation of Occupational Health and Safety Programmes for Health Workers. Selain itu, ia merujuk pada Resolusi Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) ke-74 tentang perlindungan dan investasi bagi tenaga kesehatan.

Menurut Tjandra, rekomendasi tersebut menekankan pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap risiko yang dihadapi tenaga kesehatan saat bekerja. Perlindungan itu mencakup paparan penyakit menular, persoalan psikososial seperti tekanan mental akibat pekerjaan, beban fisik termasuk kelelahan karena jam kerja yang panjang, hingga berbagai risiko lain yang muncul di fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia menyinggung bahwa kasus penyakit menular seperti campak maupun tekanan psikologis terhadap dokter telah beberapa kali menjadi sorotan publik. Karena itu, menurut dia, langkah perlindungan tidak boleh hanya bersifat administratif, melainkan diwujudkan melalui kebijakan yang konkret.

"Hanya dengan perhatian yang amat serius dan kerja perlindungan yang nyata maka kita dapat mencegah terus berulang meninggalnya para dokter di usia muda," ujar Tjandra.

Ia berharap peristiwa meninggalnya dokter-dokter muda menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Belum lama ini, kasus dokter internship meninggal kembali terjadi. Kali ini menimpa dokter internship yang bertugas di Cisalak, Depok. Dokter muda bernama Siti Zahra Maghfira meninggal setelah diduga jatuh dari apartemen di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan pada Ahad, 26 Juli 2026.

Selain Siti Zahra Maghfira, belum lama ada Kartika Ayu Permatasari yang meninggal pada Februari 2026. Ia merupakan dokter muda yang bertugas di RS Bina Bhakti Husada, Rembang. Ia dilaporkan meninggal setelah dideteksi terinfeksi campak.

Setelah Kartika, ada juga Edgar Bezaliel Hartanto yang meninggal pada Maret 2026. Ia meninggal di tengah menjalani program internship di RS Bhayangkara, Denpasar, Bali. Edgar meninggal setelah diketahui terpapar demam berdarah.

Kemudian, ada juga Andito Muhammad Wibisono. Dokter muda itu meninggal tak lama setelah Edgar meninggal, yakni pada 26 Maret 2026. Ia diduga terkena komplikasi ensefalitis dan miokarditis. Andito saat itu bertugas di RSUD Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat.

Selain itu, pernah viral kasus meninggalnya dokter muda Myta Aprilia Azmy. Dia bertugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Kasus meninggalnya Myta juga dilaporkan disebabkan penyakit.

Ada juga kasus dokter muda RSUD Sukadana, Lampung Timur, yakni Muhammad Zulfikar Drakel yang meninggal pada Juli 2026. Penyebab meninggalnya Zulfikar diduga karena ada riwayat penyakit penyerta dan infeksi.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online