Indonesia dan Timor-Leste, Bersama Merangkai Cita

19 hours ago 10

INFO TEMPO - Megawati menegaskan penghargaan tersebut bukan sekadar simbol penghormatan, melainkan amanat untuk terus merawat persahabatan kedua negara lintas generasi. Mengenang momen bersejarah kemerdekaan Timor-Leste pada 2002 sebagai awal lahirnya persaudaraan baru.

Selama tiga hari di Timor-Leste, Megawati berpesan agar hubungan persaudaraan diwujudkan melalui penyelesaian perjanjian perbatasan yang adil, pertukaran pelajar, serta penguatan kerja sama di tingkat ASEAN. Megawati juga berziarah ke Taman Makam Pahlawan Seroja, bertemu WNI, dan mantan kader PDIP Timor Timur.

"Selalu ingin terus melanggengkan persahabatan (kekeluargaan maupun politik) antara Republik Indonesia dan Republik Timor-Leste untuk selamanya."

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Demikian kalimat goresan tangan Presiden kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di buku tamu Istana Kepresidenan Nicolau Lobato di Dili, Timor-Leste. Presiden Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmão bersama-sama mengangkat buku tamu tersebut dengan kedua tangan mereka, kemudian membacanya dengan wajah haru sekaligus bangga.

Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Timor-Leste dengan agenda menerima penghargaan tertinggi Grande Colar da Ordem de Timor-Leste. Apresiasi itu diberikan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 72/2026 tentang Penganugerahan Gelar Kehormatan atas jasa Megawati dalam memajukan hubungan bilateral dan rekonsiliasi kedua negara.

Setelah medali Grande Colar da Ordem de Timor-Leste disematkan oleh Presiden Ramos-Horta, Megawati memulai pidato dengan sapaan hangat, "Bondia, Timor-Leste!". Dalam sambutannya, Megawati mengatakan penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah amanat dan janji masa depan yang harus terus dikerjakan oleh Indonesia dan Timor-Leste.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sekaligus Presiden kelima RI menerima penghargaan sipil tertinggi Timor-Leste, Grande Colar da Ordem de Timor-Leste dari Presiden José RamosHorta dalam upacara resmi di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili, TimorLeste, pada Kamis, 9 Juli 2026. DOK. PDIP

"Penghargaan ini bukan sekadar medali. Ini adalah sebuah mata rantai yang saling mengunci. Setiap mata rantai menopang mata rantai berikutnya," kata Megawati pada Kamis, 9 Juli 2026. "Bagi saya, di situlah makna persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang, dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus."

Pada kesempatan itu, Megawati sempat memanggil Kupa Lopez, anak muda asal Timor-Leste yang dulu sempat meminta izin kepadanya untuk masuk ke dunia politik dan kini sukses menjadi diplomat. Kupa Lopez pernah menjadi Duta Besar Timor-Leste untuk Kamboja.

Adapun Presiden José Ramos-Horta, dalam pidatonya, secara khusus memuji peran krusial Megawati selama masa transisi demokrasi Indonesia atau di era reformasi. Ramos-Horta menggarisbawahi keputusan berani Megawati pada Pemilu 1999 yang memilih menerima hasil konstitusional secara damai demi menjaga stabilitas lembaga negara.

"Ibu Megawati dengan tenang menerima keputusan konstitusional tersebut dan mengemban jabatan sebagai Wakil Presiden," kata Ramos-Horta. "Menempatkan kepentingan demokrasi di atas aspirasi pribadi yang sah. Pilihan itu mewakili salah satu pembuktian tertinggi dari sikap negarawan sejati."

Ramos-Horta juga mengapresiasi kebesaran hati Megawati saat menjabat sebagai Presiden RI pada 2001 yang sepenuhnya menerima realitas sejarah baru, mendukung transisi PBB (United Nations Transitional Administration in East Timor/UNTAET), serta membangun jembatan diplomasi yang kuat.

Megawati juga menyampaikan Kuliah Kepresidenan (Presidential Lecture) bertajuk "Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama". Membuka kuliahnya, Megawati mengenang momentum historis 24 tahun lalu, tepatnya tengah malam 20 Mei 2002 di Padang Tasitolu, saat ia menghadiri upacara restorasi kemerdekaan Timor-Leste selaku Presiden RI.

Megawati membagikan pergolakan batinnya kala itu yang harus menyaksikan bendera Merah Putih diturunkan. Bendera tersebut memiliki arti emosional mendalam karena dijahit pertama kali oleh ibundanya, Fatmawati. Kendati banyak pihak di masa itu mempertanyakan kehadirannya dan menganggap sebagai malam perpisahan, Megawati menegaskan pandangan sebaliknya.

"Selama 24 tahun saya menyimpan rapat jawaban itu. Peristiwa tersebut bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor-Leste sebagai saudara Indonesia. Itulah makna rekonsiliasi sejati," ucap Megawati. Megawati mengatakan, kini hubungan antara Indonesia dan Timor-Leste telah melampaui sekat-sekat konflik masa lalu dan menemukan jalan peradaban baru yang kokoh, yakni mengingat tanpa mendendam dan memaafkan tanpa melupakan.

Di hadapan Presiden José Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão, dan pejabat tinggi setempat, Megawati menyatakan luka sejarah di antara kedua negara kini telah berhasil diubah menjadi ikatan persaudaraan yang kuat. Hubungan erat ini ditopang oleh keberanian moral dari dua negara yang memang ditakdirkan hidup berdampingan sebagai tetangga yang setara.

Dalam kuliahnya, Megawati memadatkan sejumlah isu krusial bagi masa depan kedua negara. Di antaranya urgensi kepemimpinan perempuan, aturan hukum teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga koridor strategis ekonomi.

Megawati memotivasi kaum perempuan Timor-Leste untuk tidak takut masuk ke ruang pengambilan keputusan. "Tuhan memberikan kekuatan biologis dan mental yang luar biasa kepada perempuan. Perempuan tidak hanya melahirkan anak manusia, tetapi juga melahirkan dan membesarkan bangsa," ucapnya.

Perihal teknologi, Megawati mengingatkan agar Timor-Leste agar mulai merancang undang-undang guna mengantisipasi penyalahgunaan AI. Dia menceritakan pengalaman pribadi saat menjadi korban manipulasi wajah dengan menggunakan kecerdasan buatan.

Perihal koridor strategis ekonomi, Megawati yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, menawarkan kerja sama riset untuk membangun kawasan pertumbuhan ekonomi di koridor Nusa Tenggara Timur (NTT), Dili, dan Papua. Dia pun menawarkan kerja sama kepartaian melalui program kaderisasi dan pelatihan kepemimpinan antara PDI Perjuangan dengan partai politik di Timor-Leste.

Menutup kuliah kepresidenannya, Megawati menitipkan pesan kepada generasi muda Indonesia dan Timor-Leste supaya tidak membiarkan hubungan persaudaraan ini hanya hidup sebagai kenangan para orang tua belaka. Megawati mendorong pelembagaan hubungan persaudaraan secara konkret melalui percepatan tuntasnya perjanjian perbatasan yang adil, program pertukaran mahasiswa dan guru, serta optimalisasi kerja sama di dalam kerangka ASEAN, di mana kini Timor-Leste telah berdiri sebagai anggota tetap dengan dukungan penuh dari Indonesia.

"Dari Dili, kota para pejuang, marilah kita kabarkan kepada dunia bahwa meski kini kita hadir sebagai dua negara, namun kita disatukan oleh cita-cita bersama membangun jalan peradaban bagi dunia. Merdeka!" pekik Megawati.

Selama tiga hari di Timor-Leste, Megawati yang didampingi keponakannya, Puti Guntur Soekarno dan Hendra Hartomo atau Romy Soekarno, berziarah ke Taman Makam Pahlawan Seroja dan bertemu dengan sejumlah mantan kader PDIP Timor Timur. TMP Seroja adalah pemakaman militer yang dikhususkan bagi prajurit ABRI (kini TNI) dan pejuang integrasi Timor Timur yang gugur selama konflik antara tahun 1975 hingga 1999. Di sana, Megawati mengikuti upacara penghormatan singkat, memimpin hening cipta, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa.

Di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Timor-Leste, Megawati beramah tamah dengan ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) dan eks pengurus PDIP Timor Timur. Di tengah suasana hangat, atmosfer berubah takzim ketika beberapa perwakilan eks pengurus PDIP masa lalu naik ke atas panggung untuk membagikan refleksi dan catatan sejarah mereka.

Ketua Umum PDIP yang juga Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri didampingi Anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno menaburkan bunga saat berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja, Dili, Timor-Leste, pada Jumat, 10 Juli 2026. DOK. PDIP

Mantan pengurus PDIP Timor Timur periode 1996–2000, Martin Anastasio Martin mengenang beratnya dinamika politik serta berbagai upaya tekanan dan intimidasi yang harus dihadapi para pengurus partai di daerah menjelang gejolak referendum 1999. "Saya tetap memilih jalan organisasi," ucapnya.

Ada pula Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDIP Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). Dia membuka catatan sebelum referendum 1999. Di pantai kawasan Farol, Megawati sempat menggelar pertemuan singkat untuk memberikan arahan internal. "Mama Mega berbicara begini, 'Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kita harus menghormati itu hak-hak mereka'," kata Cesar menirukan ucapan Megawati saat itu.

Mendengar kesaksian para mantan anak buahnya yang melintasi batas negara dan lini masa sejarah, Megawati mengaku sangat terharu dengan ikatan batin yang tidak pernah putus tersebut. Megawati lantas mengumumkan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDIP di Timor-Leste agar koordinasi komunikasi dengan kader lokal yang menetap di Dili dapat terwadahi secara demokratis dan terstruktur. (*)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online