Intelijen AS: Iran Butuh 9 Bulan untuk Membuat Bom Nuklir

3 hours ago 2

loading...

Penilaian intelijen AS menyatakan Iran butuh sembilan bulan hingga satu tahun untuk membangun senjata nuklir setelah Iran diserang AS dan Israel. Foto/X @drhossamsamy65

WASHINGTON - Penilaian intelijen Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun senjata nuklir tidak berubah sejak musim panas lalu, yakni antara sembilan bulan hingga satu tahun ke depan.

Ini menjadi penegasan bahwa serangan Amerika dan Israel, baik pada perang Juni 2025 maupun perang baru-baru ini, tidak benar-benar melenyapkan program nuklir republik Islam tersebut.

Baca Juga: AS dan Iran yang Perang, Mengapa UEA yang Diserang Teheran?

Penilaian intelijen Amerika terhadap program nuklir Teheran secara umum tetap tidak berubah bahkan setelah dua bulan perang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump—yang diklaim untuk menghentikan Republik Islam Iran mengembangkan bom nuklir.

Serangan terbaru AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari berfokus pada target militer konvensional, tetapi Israel telah menyerang sejumlah fasilitas nuklir penting.

Jangka waktu yang tidak berubah menunjukkan bahwa menghambat program nuklir Teheran secara signifikan mungkin memerlukan penghancuran atau penghapusan persediaan uranium yang diperkaya tinggi (HEU) Iran yang tersisa.

Perang telah terhenti sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 7 April untuk mengejar perdamaian. Ketegangan tetap tinggi karena kedua belah pihak tampak sangat terpecah, dan karena Iran telah mencekik lalu lintas di Selat Hormuz, memblokir sekitar 20% pasokan minyak dunia dan memicu krisis energi global.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menyatakan secara terbuka bahwa AS bertujuan untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir melalui negosiasi yang sedang berlangsung dengan Teheran.

Badan intelijen AS telah menyimpulkan sebelum perang 12 hari pada bulan Juni 2025 bahwa Iran kemungkinan dapat memproduksi uranium tingkat bom yang cukup untuk sebuah senjata dan membangun bom nuklir dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Demikian diungkap dua sumber AS, yang semuanya meminta anonimitas untuk membahas intelijen AS.

Menyusul serangan AS pada bulan Juni yang menghantam kompleks nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan, perkiraan intelijen AS menggeser jangka waktu tersebut menjadi sekitar sembilan bulan hingga satu tahun, kata dua sumber dan seseorang yang mengetahui penilaian intelijen Amerika.

Serangan tersebut menghancurkan atau merusak parah tiga pabrik pengayaan uranium Iran yang diketahui beroperasi pada saat itu. Namun, badan pengawas nuklir PBB atau Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum dapat memverifikasi keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Mereka percaya bahwa sekitar setengahnya disimpan di kompleks terowongan bawah tanah di Pusat Penelitian Nuklir Isfahan, tetapi mereka belum dapat mengonfirmasi hal itu karena inspeksi ditangguhkan.

IAEA memperkirakan total persediaan HEU (uranium yang diperkaya hingga 60%) akan cukup untuk 10 bom jika diperkaya lebih lanjut.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online