Kebakaran Desa Adat Sade Lombok Tengah, 129 Rumah Tradisional Ludes

14 hours ago 5

RAKYAT MERDEKA — Kebakaran besar melanda kawasan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (22/8/2026) malam. Sedikitnya 129 rumah tradisional milik masyarakat Suku Sasak dilaporkan terbakar dan menyebabkan sekitar 320 warga terdampak.

Musibah tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian material bagi masyarakat, tetapi juga mengancam keberadaan bangunan tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Suku Sasak.

Pemerintah Provinsi NTB kini mulai menyiapkan langkah penanganan setelah kebakaran melanda kawasan permukiman adat tersebut. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk menentukan langkah darurat sekaligus rencana pembangunan kembali rumah-rumah yang terbakar.

“Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kami pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” ujar Lalu Muhamad Iqbal, Minggu (23/8), seperti dilansir Detik.

Rencana tersebut diharapkan tidak sekadar mengganti bangunan yang rusak, tetapi juga mempertahankan karakter arsitektur dan nilai budaya yang melekat pada permukiman tradisional Sade.

Mengenal Bale Tani, Rumah Tradisional Suku Sasak

Desa Adat Sade dikenal memiliki pola permukiman yang khas. Rumah-rumah tradisional berdiri cukup berdekatan dan membentuk kawasan yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Suku Sasak.

Salah satu bangunan utama di kawasan tersebut adalah Bale Tani, rumah tradisional yang memiliki pembagian ruang berdasarkan fungsi dan anggota keluarga.

Bagian dalam Bale Tani digunakan sebagai dapur sekaligus tempat tidur anak perempuan. Sementara itu, bagian luar sebelah kanan biasanya menjadi kamar tidur orang tua. Adapun bagian luar sebelah kiri digunakan sebagai kamar anak laki-laki sekaligus ruang untuk menerima tamu.

Keunikan Bale Tani juga terlihat dari bentuk pintu masuknya yang dibuat relatif rendah. Desain tersebut bukan tanpa alasan. Setiap orang yang memasuki rumah diharapkan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.

Atap Bale Tani juga memiliki karakteristik tersendiri. Masyarakat menggunakan alang-alang gajah yang disusun di atas anyaman bambu. Material tersebut dipilih karena dinilai kuat menghadapi kondisi cuaca sekaligus membantu menjaga suhu di dalam rumah tetap nyaman.

Kemiringan atap dibuat sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir ke bagian depan rumah. Sistem tersebut membantu mengurangi risiko erosi tanah di bagian belakang bangunan.

Bagian rangka dan dinding rumah memanfaatkan beberapa jenis bambu, seperti bambu galah, bambu pepit, dan bambu tutul. Penggunaan material tersebut membuat struktur bangunan relatif ringan sekaligus fleksibel.

Untuk menopang bangunan, masyarakat menggunakan sejumlah jenis kayu, di antaranya kayu ulin, kayu timus, dan kayu lipin. Tiang utama ditanam cukup dalam dan menggunakan sistem pasak agar konstruksi rumah lebih kuat serta tahan terhadap guncangan.

Tradisi Belulut Jadi Bagian dari Perawatan Rumah Adat

Keunikan Bale Tani tidak hanya terdapat pada bentuk bangunan, tetapi juga pada cara masyarakat merawat bagian dalam rumah.

Lantai rumah dibuat menggunakan campuran tanah liat, sekam padi, dan material kayu. Masyarakat Sade kemudian memiliki tradisi belulut, yaitu merawat lantai dengan menggunakan kotoran kerbau secara berkala.

Tradisi tersebut mungkin terdengar tidak biasa bagi masyarakat di luar Sade. Namun, bagi masyarakat setempat, belulut merupakan bagian dari cara menjaga kondisi lantai sekaligus warisan budaya yang telah dilakukan secara turun-temurun.

Secara praktis, campuran tersebut dipercaya membantu memperkuat permukaan lantai tanah dan menjaga kelembapannya. Penggunaan kotoran kerbau juga dipercaya dapat membantu mengusir serangga.

Selain fungsi praktis, tradisi belulut memiliki nilai budaya dan kepercayaan tersendiri bagi masyarakat Suku Sasak. Karena itu, keberadaan Bale Tani tidak bisa dipandang hanya sebagai bangunan tempat tinggal, melainkan juga bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Sade.

Kebakaran yang menghanguskan sebagian besar rumah adat tersebut pun menjadi pukulan besar bagi masyarakat setempat. Selain kehilangan tempat tinggal, warga juga menghadapi ancaman hilangnya sejumlah unsur fisik dari warisan budaya yang selama ini dipertahankan.

Komitmen Pemerintah Provinsi NTB untuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar menjadi langkah penting dalam proses pemulihan. Tantangannya bukan sekadar membangun rumah baru, tetapi memastikan karakter arsitektur, tata ruang, serta nilai budaya Desa Adat Sade tetap dipertahankan.

Dengan demikian, proses rekonstruksi nantinya diharapkan dapat memulihkan kawasan Sade tanpa menghilangkan identitas tradisional yang membuat permukiman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari budaya Suku Sasak.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online