Sering tanpa sadar melakukan presenteeism? Mari mengenal fenomena presenteeism di dunia kerja.
Budaya kerja modern yang serba cepat ternyata melahirkan fenomena di dunia profesional yang disebut presenteeism. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika karyawan merasa harus selalu terlihat sibuk, aktif, dan tersedia demi dianggap produktif oleh atasan maupun rekan kerja.
Salah satu bentuk yang kini paling sering ditemui adalah tekanan untuk membalas chat kerja dengan cepat, tetap online sepanjang hari, hingga terus memantau e-mail meski di luar jam kantor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, istilah presenteeism muncul pada pertengahan 1990-an untuk menggambarkan pekerja yang tetap masuk kantor saat sakit karena takut mendapat konsekuensi jika mengambil cuti. Namun seiring perkembangan teknologi dan pola kerja digital, maknanya meluas.
Kini presenteeism juga mencakup perilaku bekerja berlebihan demi 'terlihat bekerja', bukan semata menghasilkan kinerja terbaik. Fenomena ini semakin terasa sejak pandemi COVID-19 mengubah pola kerja menjadi hybrid dan remote working.
Banyak pekerja mengaku kesulitan memisahkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan karena komunikasi kantor dapat berlangsung kapan saja lewat aplikasi pesan instan maupun platform kolaborasi digital. Tak heran jika mereka berusaha tetap menjaga imej 'produktif' padahal sedang di luar jam kerja.
Mari memahami tentang fenomena presenteeism di sekitar Bunda.
Digital presenteeism
Presenteeism modern sering disebut sebagai digital presenteeism. Kondisi ini terjadi ketika pekerja merasa harus terus menunjukkan bahwa mereka sedang aktif bekerja, misalnya dengan menjaga status online tetap hijau di aplikasi kantor, cepat membalas pesan, hingga rutin hadir diberbagai agenda rapat virtual.
CEO Qatalog, Tariq Rauf, menyebut digital presenteeism sebagai perilaku pekerja yang berusaha memperlihatkan diri selalu online meski sebenarnya tidak selalu produktif. Menurutnya, banyak karyawan takut dicurigai tak bekerja cukup keras sehingga memilih mempertahankan kebiasaan 'selalu aktif' di ruang kerja digital.
Laporan gabungan Qatalog dan GitHub bahkan menemukan bahwa 54 persen pekerja berbasis pengetahuan merasa tertekan untuk menunjukkan kepada atasan dan rekan kerja bahwa mereka sedang online pada jam tertentu. Tidak hanya itu, karyawan rata-rata menghabiskan tambahan sekitar 67 menit per hari hanya untuk membuat pekerjaan mereka terlihat oleh orang lain.
Budaya ini membuat ukuran produktivitas bergeser. Bukan lagi soal kualitas hasil kerja, melainkan seberapa cepat seseorang merespon pesan atau seberapa sering terlihat aktif di platform komunikasi kantor.
“Tanpa pemisahan fisik yang jelas antara pekerjaan dan rumah, seseorang mungkin merasa kesulitan untuk melepaskan diri dan menetapkan batasan yang jelas,” ujar Peter Brown, yang memimpin praktik Global People and Organization di PwC, mengutip BBC.
Dampak digital presenteeism
Para ahli menilai presenteeism bukan sekadar kebiasaan kerja yang kurang sehat, namun juga dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental maupun fisik pekerja.
Stephen Bevan dari Institute for Employment Studies mengatakan presenteeism banyak terjadi di perusahaan yang menganggap cuti atau istirahat sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, karyawan tetap memaksakan diri bekerja saat sakit, sulit menjadwalkan pemeriksaan kesehatan, hingga mengalami kelelahan berkepanjangan.
Selain itu, budaya 'always on' membuat karyawan sulit benar-benar beristirahat. Banyak orang masih membalas e-mail kerja saat makan malam bersama keluarga atau mengecek notifikasi kantor hingga larut malam.
“Dalam banyak kasus memang menyebabkan jam kerja yang lebih panjang, peningkatan beban kerja, dan kesulitan untuk beristirahat atau cuti yang semuanya berkontribusi pada presenteeism (kehadiran di tempat kerja meskipun sakit)," papar Brown.
Peneliti budaya kerja Anne Helen Petersen menyebut presenteeism performatif muncul ketika keterlibatan yang terlihat lebih dihargai dibanding kualitas pekerjaan. Menurutnya, perilaku seperti aktif di percakapan online atau terus hadir di kantor bisa menjadi toksik ketika dilakukan semata-mata agar dianggap rajin.
Pandemi memperparah fenomena presenteeism
Hasil dari makalah penelitian akademis tahun 2021 juga menunjukkan lebih banyak alasan mengapa COVID-19 mungkin telah memperburuk digital presenteeism. Salah satu alasannya, menurut para peneliti, adalah meningkatnya jejak digital pekerja.
Meski pandemi membawa perubahan besar seperti kerja fleksibel dan work from home, budaya presenteeism justru dinilai semakin mengakar. Hilangnya batas jelas antara rumah dan kantor membuat banyak pekerja kesulitan memutus koneksi dari pekerjaan.
Lucy Kallin dari Catalyst mengatakan banyak orang kehilangan momen untuk beralih mode setelah bekerja karena tidak lagi memiliki perjalanan pulang dari kantor. Kondisi ekonomi yang tidak menentu juga memperparah situasi.
Sebagian pekerja merasa harus terus menunjukkan dedikasi agar posisi mereka tetap aman. Di sisi lain, menurunnya rasa percaya antara perusahaan dan karyawan membuat banyak pekerja takut kontribusinya tidak dihargai jika tidak terus terlihat aktif.
Solusi mengubah fenomena presenteeism
Para pakar menilai solusi presenteeism harus dimulai dari budaya perusahaan. Atasan dan manajemen perlu berhenti memuji kebiasaan lembur atau sikap 'selalu online' sebagai simbol loyalitas.
Perusahaan juga disarankan lebih fokus pada hasil kerja dibanding aktivitas yang terlihat di permukaan. Budaya kerja asynchronous atau async-first menjadi salah satu pendekatan yang mulai diterapkan sejumlah perusahaan teknologi, yakni menilai karyawan berdasarkan output dan nilai kerja yang dihasilkan, bukan kecepatan membalas pesan.
"Hal ini mungkin membutuhkan para manajer untuk benar-benar menggali akar masalah di perusahaan mereka. Misalnya, para pemimpin senior perlu berhenti memuji orang-orang karena 'selalu siaga' atau memuji orang-orang karena bekerja lembur," kata Kallin.
Selain itu, penetapan jam kerja yang jelas dinilai penting agar karyawan memiliki batas tegas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Pemimpin perusahaan juga perlu memberi contoh dengan tidak mengirim pesan di luar jam kerja atau menuntut respons instan setiap saat.
Meski budaya presenteeism masih banyak ditemukan diberbagai industri, terutama sektor keuangan, teknologi, dan konsultasi, perubahan pola kerja pascapandemi dinilai membuka peluang untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat.
Fokus pada produktivitas nyata, kepercayaan, dan keseimbangan hidup menjadi kunci agar pekerja tidak lagi merasa harus selalu online demi dianggap bekerja. Apa tanda sadar Bunda juga sudah masuk ke dalam fenomena presenteeism?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
.png)
4 hours ago
3

















































