loading...
Ruang Soekarno yang terletak di lantai satu House of Tugu Old Town Jakarta. Foto-foto: Armydian Kurniawan
JAKARTA - Di momentum HUT ke-499 Jakarta, Kota Tua kembali mengingatkan bahwa sejarah Ibu Kota tidak hanya tersimpan dalam buku-buku dan bangunan kuno. Di sejumlah sudut kota, kisah hampir lima abad perjalanan Jakarta masih hidup melalui artefak, ruang-ruang bersejarah, dan kisah para tokoh yang pernah mewarnai zamannya. Jejak itu antara lain banyak ditemukan di House of Tugu Old Town Jakarta.
Dari ballroom yang menghidupkan kembali kejayaan Gedung Harmoni yang telah lama hilang dari wajah Jakarta, kamar yang terinspirasi kunjungan Charlie Chaplin ke Hindia Belanda pada 1927, hingga.ruang yang menyimpan kenangan Presiden Soekarno.
Perjalanan sejarah itu dimulai dari Ruang Soekarno di lantai satu. Hampir di setiap properti Tugu Group terdapat ruang khusus yang didedikasikan untuk Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta, Indriana Amanda Ticoalu, mengatakan, pendiri Tugu Hotels and Restaurants, Anhar Setjadibrata, merupakan pengagum Bung Karno. Karena itu, berbagai foto, dokumen, hingga benda pribadi Sang Proklamator banyak dikoleksi.
Baca Juga : Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua
Sebuah lukisan setengah jadi karya Soekarno terpajang di salah satu sisi ruangan. Foto-foto dokumentasi kegiatan kenegaraan memenuhi dinding. Di atas gebyok besar terlihat potret Bung Karno mengenakan jas kebesaran presiden. Pada sisi lain terpampang foto lautan manusia yang mengiringi Soekarno menuju mimbar Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Tak jauh dari foto tersebut terdapat dokumentasi pelantikan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat pada 17 Desember 1949 di Keraton Yogyakarta. Sebuah celana milik Bung Karno juga tersimpan rapi dalam pelindung khusus. Meja panjang dengan taplak biru dan putih disiapkan untuk private dining maupun pertemuan eksklusif berkapasitas 25 hingga 30 orang.
Dari Ruang Soekarno, perjalanan berlanjut menuju Sumba Room. Ruangan ini menghadirkan representasi berbagai budaya Nusantara dalam satu tempat. Alunan gamelan terdengar samar dari kejauhan. Di berbagai sudut tampak ornamen Dayak Kalimantan, rumah adat Tongkonan Toraja, motif kain Sumba, hingga artefak dari Maluku dan Papua.
Siang itu meja-meja masih tersusun rapi setelah jamuan makan. Gelas, piring, dan peralatan makan belum sepenuhnya dibereskan. Justru pemandangan tersebut memberi gambaran bagaimana ruangan ini digunakan untuk berbagai acara.
Charlie Chaplin Suite
Lift kemudian membawa perjalanan menuju lantai tiga. Di sinilah salah satu kamar paling unik berada, kamar 307. Namanya Charlie Chaplin Suite. Kamar ini didedikasikan untuk mengenang kunjungan sang legenda film bisu ke Hindia Belanda pada 1927, tepatnya ke Jakarta, Bogor dan Garut.
Sebuah bathtub berdiri di tengah ruangan. Di depannya terdapat tulisan Sultan's Harem Bath, 1001 Nights as Imagined by Chaplin. Bak mandi tersebut dinaungi gazebo kayu bertuliskan Mooi Indie. Di atasnya terdapat lukisan burung yang konon pernah dilihat Chaplin saat berkunjung ke Bogor.
Di samping bathtub berdiri tempat tidur dengan gazebo kayu lain bertuliskan Circus Charlie Chaplin. Dominasi kayu terlihat hampir di seluruh bagian kamar. Sebuah ruang duduk kecil melengkapi area istirahat. Dinding televisi dapat dilipat sehingga tamu bisa menonton dari tempat tidur.
.png)














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)

