Pola Makan Ibu saat Hamil Bisa Bikin Anak Doyan atau Susah Makan Sayur

7 hours ago 6

Jakarta -

Pola makan saat hamil tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin. Beberapa ahli menduga bahwa pola makan saat hamil bisa bikin anak doyan atau susah makan sayur. Atau dengan kata lain, pola makan ibu hamil dapat berpengaruh ke preferensi makanan anak setelah lahir. 

Beberapa penelitian menemukan bahwa bayi mungkin mulai mengenali rasa makanan sejak masih berada di dalam kandungan. Salah satunya sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychobiology yang meneliti bagaimana bayi bereaksi terhadap aroma makanan tertentu yang sudah dikenalkan sejak dalam kandungan.

Lantas, benarkah pola makan ibu hamil bisa bikin anak doyan atau susah makan sayur?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Penelitian diet ibu hamil dan selera makan anak di kemudian hari

Melansir dari Vice, peneliti dari Durham University melacak bagaimana reaksi anak-anak terhadap aroma sayuran tertentu dalam beberapa tahun setelah terpapar rasa yang sama sebelum lahir. 

Peneliti meminta sejumlah ibu hamil mengonsumsi kapsul bubuk wortel dan kale selama kehamilan. Sebelum lahir, pada usia kehamilan 32 dan 36 minggu, para peneliti menggunakan USG untuk merekam respons wajah janin setelah ibu mengonsumsi kapsul yang mengandung bubuk kale atau wortel. Kemudian melakukan beberapa pengujian lanjutan pada usia tiga tahun.

Hasilnya, anak-anak yang terpapar rasa wortel di dalam rahim secara konsisten bereaksi lebih positif terhadap aroma wortel di kemudian hari dan lebih sering meringis ketika terpapar kale. Sedangkan kelompok kale menunjukkan pola sebaliknya.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan bahwa janin mungkin membuat ingatan rasa jangka panjang, bahkan sebelum mereka lahir.

Janin bisa mengenali rasa sejak dalam kandungan

Janin bisa mengenali rasa sejak dalam kandungan mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi, jangan lupa bahwa janin sudah bereaksi terhadap suara dan cahaya.

Kita tahu bahwa janin akan merespons beberapa gerakan ibunya. Dengan mengetahui hal itu, mungkin tidak berlebihan untuk berasumsi bahwa berdasarkan bukti yang ada, janin mungkin lebih cenderung untuk secara sukarela memakan sayuran jika ibu mereka memakannya saat hamil.

Para peneliti berpendapat bahwa jika ini terbukti benar, tidak ada alasan untuk tidak percaya bahwa ini dapat digunakan sebagai alat untuk membiasakan anak-anak mengonsumsi makanan yang lebih sehat bahkan sebelum mereka lahir.

Bunda hanya perlu 'memaksa' anak makan saat masih berada di dalam rahim. Pada saat itu, ibu hamil hanya perlu menahan rasa sayuran yang biasanya dibenci anak-anak, seperti kale, brokoli, kembang kol, dan kacang polong.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition, rasa dari makanan yang dikonsumsi ibu dapat masuk ke cairan ketuban dan dikenali janin.

Janin diketahui mulai menelan cairan ketuban pada trimester kedua kehamilan. Karena itu, aroma dan rasa makanan tertentu diduga dapat dikenali bayi sejak di dalam rahim.

Profesor psikologi perkembangan dari Durham University, Nadja Reissland, mengatakan anak-anak cenderung menunjukkan respons lebih positif terhadap makanan yang sudah dikenalnya sejak di dalam kandungan

"Apa yang kita lihat dari waktu ke waktu adalah bahwa anak-anak masih lebih menyukai sayuran yang mereka konsumsi saat masih dalam kandungan," kata psikolog Reissland, melansir ScienceAlert.

Ia mengatakan, dari penelitian ada dapat disimpulkan bahwa paparan rasa tertentu di akhir kehamilan dapat menghasilkan memori rasa atau aroma yang bertahan lama pada anak-anak, yang berpotensi membentuk preferensi makanan mereka bertahun-tahun setelah lahir.

Seperti yang dilaporkan dalam sebuah studi tahun 2022, ada bukti bahwa bayi yang belum lahir bereaksi terhadap rasa dan aroma tersebut.

Pada trimester ketiga (sekitar 28 minggu kehamilan), manusia sudah cukup berkembang untuk merasakan dan mencium aroma cairan ketuban yang mengelilingi janin, yang disalurkan melalui plasenta dari ibu.

Namun, studi ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk ukurannya yang sangat kecil dan hanya melibatkan satu populasi. Para peserta muda sebenarnya tidak makan apa pun atau secara khusus memilih apa yang akan dimakan, dan tidak ada pemantauan yang dilakukan antara kelahiran dan usia tiga tahun untuk mengesampingkan pengaruh paparan selanjutnya.

Pentingnya pola makan sehat selama kehamilan

Meski penelitian soal preferensi rasa masih terus berkembang, para ahli tetap menyarankan ibu hamil mengonsumsi makanan sehat dan bervariasi selama kehamilan. Pola makan bergizi penting untuk mendukung tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ibu hamil dianjurkan mengonsumsi:

  • Sayur dan buah
  • Protein
  • Biji-bijian
  • Makanan kaya zat besi
  • Asam folat
  • Cairan yang cukup

Jika anak tetap tidak doyan sayur, jangan lupa bahwa pola makan saat hamil bukan satu-satunya faktor yang menentukan anak menyukai atau menolak sayuran.

Namun, membiasakan konsumsi makanan sehat selama kehamilan bisa menjadi salah satu langkah awal mengenalkan berbagai rasa pada anak sejak dalam kandungan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online