PT Rumah Tani Nusantara Serap 38.000 Ton Panen Per Tahun demi Kesejahteraan Petani

3 hours ago 1

loading...

Rumah Tani berhasil menyerap sekitar 38.000 ton komoditas pertanian per tahun langsung dari tangan petani di berbagai daerah. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - PT Rumah Tani Nusantara (Rumah Tani) menunjukkan komitmen nyatanya sebagai penampung hasil panen (offtaker) terdepan di Indonesia. Melalui strategi pemotongan rantai distribusi yang panjang, perusahaan ini berhasil menyerap sekitar 38.000 ton komoditas pertanian per tahun langsung dari tangan petani di berbagai daerah. Langkah ini sekaligus menjadi solusi konkret atas ancaman anjloknya harga saat musim panen raya.

Direktur Operasional Rumah Tani, Mohammad Dwijanuarto, menegaskan bahwa kehadiran perusahaan bertujuan untuk memberikan nilai tambah nyata bagi para petani. "Kami hadir untuk memotong rantai pasok yang selama ini terlalu panjang dan merugikan petani. Dengan menyerap langsung 38.000 ton komoditas setiap tahunnya, kami ingin memastikan petani mendapatkan harga yang adil dan terlindungi dari ancaman anjloknya harga saat panen raya ," katanya, Senin (10/8/2026). Baca juga: Daya Beli Petani Terjaga, NTP Juli 2026 Naik ke Level 127,84

Untuk komoditas jagung, Rumah Tani menyediakan fasilitas pengering (dryer) guna mengatasi kendala tingginya kadar air saat musim hujan dan menggunakan mesin pipil jagung (corn sheller). Desain mesin yang dilengkapi roda penggerak memungkinkannya memiliki mobilitas tinggi untuk menjangkau titik-titik panen mitra tani. Hal ini akan secara signifikan mempercepat proses pemipilan dan menjaga kualitas komoditas sebelum masuk ke tahap distribusi untuk efektifitas mencegah kejatuhan harga di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).

Sementara pada komoditas kentang asal Aceh, Karo, dan Dieng, Rumah Tani membeli seluruh hasil panen dengan harga standar pasar. Dwijanuarto menyampaikan bahwa skema ini terbukti membebaskan para petani dari jeratan tengkulak yang kerap memanfaatkan besarnya biaya operasional budidaya.

Rumah Tani juga menyiasati fluktuasi ekstrem harga cabai dengan memberikan jaminan harga minimum bagi mitra tani. Ketika harga pasar merosot tajam, perusahaan tetap membeli cabai sesuai harga kesepakatan awal agar petani tidak merugi. Cabai tersebut kemudian meluncur cepat ke sejumlah pasar induk daerah dan jaringan ritel ternama seperti Mie Gacoan, Rumah Sayur, hingga AgriPost.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online