KETUA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani menilai pelatihan untuk calon manajer koperasi desa merah putih seharusnya berfokus pada aspek manajerial. Puan merespons lima peserta program sarjana lenggerak pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal saat latihan ala militer itu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Memang rangkaian hal yang dilakukan itu sebaiknya memang lebih fokus pada manajerial saja," kata dia di kompleks DPR, Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026.
Sebab, ujar dia, kemampuan manajerial lebih dibutuhkan untuk calon manajer koperasi dalam tugasnya nanti. Ia tak tegas meminta pelatihan dasar militer itu disetop.
Puan mengingatkan agar tidak ada lagi nyawa yang melayang dalam pelaksanaan pengadaan sumber daya manusia untuk Kopdes. Puan juga mewanti-wanti agar evaluasi pelatihan untuk calon manajer Kopdes ini dilakukan secara menyeluruh oleh pemerintah.
"Nanti akan kami tindak lanjut. Kami lihat dulu (evaluasinya)," ucap Ketua DPP PDI Perjuangan ini.
Lima peserta yang meninggal saat latihan dasar militer adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Nola Dya Sari yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan meninggal pada 26 Juni 2026 setelah mengeluhkan sesak napas dan demam. Pada hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando (Yonko) 465 Jakarta Timur, juga meninggal setelah mengalami keluhan serupa. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas.
Sementara itu, peserta di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026 akibat tuberkulosis aktif.
Selanjutnya, Anisa Muyassaroh meninggal sehari setelah pelatihan dimulai, yakni pada 18 Juni 2026, akibat heat stroke saat mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada hari pertama pelatihan, 17 Juni 2026, akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Kementerian Pertahanan memutuskan mengurangi intensitas kegiatan fisik dan taktis bernuansa militer terhadap calon manajer Kopdes. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan di sisa waktu pelaksanaan latihan dasar militer hanya dibatasi pada pembiasaan disiplin dan kebugaran dasar. Hal tersebut meliputi senam atau olahraga pagi, apel, baris-berbaris, pengenalan lingkungan, dan kegiatan lapangan ringan.
Rico mengatakan kementerian juga telah memetakan kemampuan fisik calon manajer koperasi desa merah putih. "Bagi peserta yang memiliki kondisi medis atau faktor risiko kesehatan sudah diberi penandaan khusus pita putih," ucapnya.
Rico menuturkan peserta yang memakai tanda khusus itu tidak akan dibebani kegiatan fisik yang berlebihan. Dia berujar peserta yang memiliki risiko kesehatan atau keluhan ini menjalankan kegiatan fisik berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Kementerian Pertahanan, kata dia, juga mengurangi tindakan fisik untuk kedisplinan. Dia berujar peserta yang melanggar aturan tidak akan diberikan hukuman fisik berlebihan.
"Sudah dibuat terukur. Penekanannya lebih pada pembinaan edukatif," kata jenderal bintang satu ini.
Dede Leni berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
.png)










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5746528/original/013133300_1778645752-foto_media__78__2.jpg)