RSHS Bandung Diminta Buka CCTV Kasus Bayi Nyaris Hilang

9 hours ago 3

KUASA hukum Nina Saliha mendesak pengelola Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung menjelaskan kasus bayinya yang nyaris hilang diambil orang. Anggota kuasa hukum, Krisna Murti, mengatakan RSHS Bandung meminta rumah sakit memecat perawat dan menghukum petugas keamanan yang terlibat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami juga meminta rumah sakit melakukan tes DNA dan membuka CCTV,” kata Krisna di lobby RSHS Bandung pada Senin, 13 April 2026. 

Tes DNA atau asam deoksiribonukleat itu, menurut Krisna, untuk memastikan bayi milik kliennya. Sebelum pemeriksaan itu perlu dibentuk tim independen. “Karena bayi itu sempat berpindah tangan ke orang lain, apakah bayi itu dipastikan milik klien kami atau bukan,” ujarnya.

Sementara rekaman kamera pengawas atau CCTV diperlukan untuk mengetahui siapa orang yang membawa bayi Nina. Jika tidak dibuka, menurut Krisna, kliennya akan melaporkan agar polisi yang mengungkapnya. “Dari orang ini motif peristiwanya bisa tergambar,” kata dia. 

Anggota kuasa hukum lainnya, Mira Widyawati, mengatakan kejadian itu diduga berkaitan dengan percobaan penculikan bayi dan unsur-unsurnya terpenuhi. “Seperti memindahkan bayi korban ke lokasi lain dan dalam kendalinya,” ujarnya.

Akibat kejadian itu, Nina disebutkan mengalami gangguan psikis. Nina dan keluarganya serta kuasa hukum hari ini mendatangi RSHS Bandung untuk menyampaikan permintaan secara tertulis.

Kedatangan mereka ditangani manajemen hukum RSHS Bandung disertai pertemuan tertutup. Seusai rapat, pihak RSHS Bandung menolak memberikan keterangan kepada jurnalis yang menunggu. Tim kuasa hukum telah meminta RSHS Bandung menanggapi permintaan yang telah disampaikan dalam waktu 3x24 jam. 

Sebelumnya, Nina Saliha, 27 tahun, lewat media sosial mengungkapkan peristiwa yang dialaminya di RSHS Bandung. Pada Rabu, 8 April, ketika menunggu kabar rencana kepulangan, bayinya sempat dibawa orang lain. "Kalau telat beberapa menit, mungkin anak saya bakal hilang," kata dia saat dihubungi pada Jumat, 10 April 2026.

Bayi Nina dirawat di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) RSHS setelah melahirkan di rumah sakit lain. 

Menanggapi masalah itu, pihak RSHS Bandung menyatakan permohonan maaf atas ketidaknyamanan pelayanan yang dialami Nina. RSHS Bandung akan melakukan evaluasi dan peningkatan layanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tim dari RSHS telah menemui Nina. “Keluhan tersebut telah terselesaikan dengan kekeluargaan,” kata manajemen RSHS Bandung lewat keterangannya secara tertulis, Kamis malam 9 April 2026.

RSHS menyatakan berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik serta melakukan perbaikan berkelanjutan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online