Studi Terbaru Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Mual dan Muntah Hebat saat Kehamilan

7 hours ago 9

Jakarta -

Bunda dapat mengalami mual dan muntah hebat saat kehamilan hingga sulit melakukan aktivitas harian. Kondisi mual dan muntah hebat disebut juga hiperemesis gravidarum.

Sudah banyak pakar meneliti soal penyebab dari hiperemesis gravidarum. Salah satunya adalah studi yang mengungkap fakta terbaru soal kondisi mual saat kehamilan dan dikaitkan dengan genetik manusia.

Studi yang diterbitkan pada hari April 2026 di jurnal Nature Genetics ini memberikan bukti bahwa gen untuk hormon growth differentiation factor 15 (GDF15) adalah penyebab utama hiperemesis gravidarum. Penelitian ini juga mengidentifikasi enam gen tambahan yang terkait dengan kondisi tersebut, termasuk satu gen yang mungkin mengontrol produksi peptida mirip glukagon-1 (GPL-1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Perlu diketahui, GPL-1 merupakan gen yang berperan dalam mengatur insulin dan nafsu makan. Gen ini juga merupakan faktor risiko genetik terbesar untuk kondisi diabetes tipe 2, Bunda.

"Temuan ini akan sangat membantu dalam mengeksplorasi jalan baru untuk terapi dan mencari cara untuk memprediksi, mendiagnosis, mengobati, dan berpotensi mencegah hiperemesis gravidarum di masa depan," kata penulis utama studi, Marlena Fejzo, kepada Live Science.

Menyingkirkan penyebab yang berkaitan dengan hormon kehamilan

Perlu diketahui, hormon kehamilan, yakni human chorionic gonadotropin (hCG), adalah hormon pertama yang diproduksi plasenta setelah pembuahan. Hormon ini dulunya dianggap sebagai penyebab dari hiperemesis gravidarum karena kadarnya melonjak di awal kehamilan.

Selain hCG, hormon estrogen juga sempat dikaitkan sebagai penyebab hiperemesis gravidarum. Pasalnya, kadar hormon ini juga meningkat drastis selama kehamilan.

Namun, penelitian terbaru dari Fejzo dan rekan-rekannya telah memfokuskan perhatian pada GDF15 sebagai kemungkinan penyebab hiperemesis gravidarum. Peneliti setidaknya telah mengidentifikasi mutasi spesifik pada gen GDF15 yang secara signifikan meningkatkan risiko kondisi tersebut, dengan satu mutasi langka yang meningkatkan risiko hingga sepuluh kali lipat.

Para peneliti mengidentifikasi faktor risiko genetik ini menggunakan data dari orang-orang keturunan Eropa. Fejzo mengatakan bahwa dia ingin melihat apakah temuan tersebut dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih beragam.

Perlu diketahui, studi ini menggabungkan data dari sembilan studi independen tentang hiperemesis gravidarum dari seluruh Amerika Serikat dan Eropa. Para peneliti membandingkan seluruh genom dan autosom (kromosom selain kromosom seks X dan Y) dari hampir 11.000 orang yang didiagnosis mengalami hiperemesis gravidarum, dan lebih dari 420.000 orang dengan riwayat kehamilan tetapi tanpa hiperemesis gravidarum.

Sebagian besar data masih berasal dari individu keturunan Eropa. Tetapi, kumpulan data tersebut juga mencakup sekitar 13.000 orang keturunan Asia, lebih dari 1.200 orang keturunan Afrika, dan 75 orang keturunan Latin.

Dari hasil studi, peneliti lalu menemukan 10 gen yang terkait dengan peningkatan risiko hiperemesis gravidarum, dengan gen untuk GDF15 sebagai sinyal teratas di semua populasi.

"Ini adalah asosiasi, jadi kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa ini adalah hubungan sebab-akibat," ujar Fejzo.

"Namun, studi ini memberikan bukti tidak langsung untuk hubungan sebab-akibat antara hiperemesis gravidarum dan GDF15," sambungnya.

Pada akhirnya, temuan dari studi besar ini digabungkan dengan penelitian sebelumnya. Peneliti pun menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara GDF15 dan kondisi hiperemesis gravidarum pada kehamilan, Bunda.

"Penelitian yang 'sangat bagus' dan 'memperkuat' jalur GDF15 sebagai pendorong utama hiperemesis gravidarum di berbagai populasi yang luas dan beragam," kata dokter gawat darurat yang berspesialisasi dalam hiperemesis gravidarum, Dr. Andrew Housholder.

"Ini seharusnya mengakhiri diskusi tentang hiperemesis gravidarum sebagai sensitivitas terhadap hCG dan estrogen."

Rencana pengobatan dari hasil penelitian

Fejzo dan timnya berencana untuk meluncurkan uji klinis pada musim panas tahun ini, Bunda. Uji klinis akan melibatkan pemberian metformin atau obat diabetes yang dapat meningkatkan GDF15, kepada pasien dengan riwayat hiperemesis gravidarum.

Pasien yang direkrut berencana memiliki lebih banyak anak dalam waktu dekat, sehingga uji klinis ini akan menguji apakah metformin dapat mengurangi sensitivitas mereka terhadap GDF15 sebelum pembuahan. Harapannya adalah untuk mengurangi mual dan muntah mereka setelah hamil.

Demikian temuan studi terbaru tentang penyebab mual hebat saat hamil. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online