Selular.ID – Alibaba Cloud merilis hasil laporan survei bertajuk “The AI Business Application Readiness and Accessibility Survey yang mengungkapkan bahwa 90 persen perusahaan di Asia optimistis terhadap penerapan kecerdasan buatan (AI) di dalam organisasi mereka.
Feifei Li, Chief Technology Officer dan President of International Business Alibaba Cloud Intelligence Group, menjelaskan tingginya antusiasme tersebut mendorong 95 persen pelaku usaha yang disurvei untuk berencana meningkatkan investasi pada produk dan solusi AI.
Indonesia mencatatkan tingkat optimisme tertinggi mencapai 100 persen, sekaligus menjadi negara dengan tingkat adopsi infrastruktur awan (cloud) terbesar di kawasan tersebut.
Survei ini mencatat bahwa dorongan adopsi AI di Indonesia tidak lagi sekadar berfokus pada efisiensi operasional.
Sebanyak 75 persen responden di Indonesia menegaskan bahwa tujuan utama mereka mengadopsi AI adalah untuk memacu inovasi dan membuka peluang bisnis baru.
Selain itu, tingkat adopsi komputasi awan di tanah air tergolong sangat masif, di mana 91 persen responden menyatakan telah menjalankan infrastruktur teknologi informasi (TI) mereka secara penuh maupun sebagian besar di cloud.
Feifei Li, Chief Technology Officer dan President of International Business Alibaba Cloud Intelligence Group, menjelaskan bahwa temuan riset ini menguatkan pandangan perusahaan mengenai posisi AI sebagai fondasi teknologi utama dalam satu dekade mendatang.
“Memasuki era agentic AI, Alibaba Cloud mengalihkan fokus dari sekadar efisiensi model menuju penyediaan hasil yang dapat langsung diterapkan pelaku bisnis, melalui pengembangan agentic cloud yang komprehensif, termasuk penyediaan infrastruktur runtime sandbox dan orkestrasi,”terang Feifei.
Alokasi Investasi Infrastruktur dan Tujuan Strategis Adopsi AI
Meskipun model kecerdasan buatan seperti Model as a Service (MaaS) mulai diminati, mayoritas anggaran perusahaan di Asia masih teralokasi untuk infrastruktur dasar AI.
Laporan riset menunjukkan bahwa 69 persen responden berencana meningkatkan belanja Infrastructure as a Service (IaaS) lebih dari 20 persen.
Langkah ini disusul oleh investasi pada Platform as a Service (PaaS) sebesar 61 persen dan MaaS sebesar 58 persen.
Implementasi AI di kawasan Asia secara umum telah bergeser dari tahap eksperimen menuju operasional harian.
Sekitar 75 persen perusahaan melaporkan bahwa AI telah terintegrasi dalam operasional bisnis mereka, dan 90 persen telah mengadopsi PaaS maupun MaaS.
Dalam operasional harian, prioritas penggunaan AI paling banyak diarahkan untuk analisis data dan pengambilan keputusan (66 persen), layanan pelanggan berbasis chatbot (64 persen), pemasaran serta pembuatan konten (58 persen), dan pengembangan produk atau coding (55 persen).
Sebanyak 64 persen responden menetapkan dorongan inovasi sebagai pendorong utama adopsi AI, diikuti oleh peningkatan efisiensi operasional dan penghematan biaya (63 persen), optimalisasi potensi pertumbuhan pendapatan (48 persen), pencapaian keunggulan kompetitif (45 persen), serta peningkatan pengalaman pelanggan (43 persen).
Kebutuhan Solusi Terintegrasi dan Tantangan Privasi Data
Laporan survei ini juga menguraikan kecenderungan perusahaan dalam memilih arsitektur teknologi.
Sebanyak 45 persen responden lebih memilih solusi terintegrasi AI + Cloud dari satu penyedia untuk memudahkan pengelolaan data secara terpusat dan efisien.
Sementara itu, 34 persen responden memilih model hybrid yang dapat diterapkan di berbagai cloud, dan hanya 16 persen yang menggunakan model AI standalone tanpa integrasi infrastruktur awan.
Meskipun adopsi AI berkembang pesat, perusahaan masih menghadapi sejumlah kendala utama dalam perluasan skalanya.
Isu privasi dan keamanan data menjadi tantangan terbesar yang dikeluhkan oleh 48 persen responden.
Tantangan mendasar lainnya meliputi tingginya biaya implementasi (42 persen), keterbatasan keahlian internal (37 persen), serta hambatan regulasi dan etika (31 persen) terutama pada sektor keuangan, pendidikan, dan publik.
Kebutuhan akan model AI berbahasa lokal juga menjadi perhatian mendasar di pasar seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand.
Penggunaan model AI berbahasa lokal dinilai sangat krusial karena hanya sekitar separuh responden yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam solusi AI mereka.
Model Qwen yang dikembangkan oleh Alibaba Cloud menjadi salah satu model yang memuat dukungan lebih dari 200 bahasa dan dialek untuk menjawab kebutuhan regional tersebut.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang terhadap pengembangan infrastruktur komputasi awan dan AI di kawasan global, grup induk Alibaba Group telah mengumumkan rencana investasi senilai RMB380 miliar atau setara Rp1.012,1 triliun dalam jangka waktu tiga tahun ke depan.
Investasi bernilai besar ini dialokasikan untuk memperkuat kapabilitas full-stack mulai dari IaaS, PaaS, hingga portofolio model AI seperti Qwen dan model pembuat gambar serta video Wan.
Baca Juga:Telkomsigma Raih Growth Partner of the Year 2025 dari Alibaba Cloud
Integrasi infrastruktur yang aman, kemudahan akses bahasa lokal, dan ketersediaan solusi spesifik tiap industri diperkirakan menjadi kunci utama bagi percepatan transformasi digital perusahaan di Asia Pasifik.
.png)

















































