Tantangan NU Masa Depan, Gus Yahya: Identitas, Konsolidasi hingga Peran Global

8 hours ago 6

loading...

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyoroti perubahan identitas ke-NU-an dan tantangan dalam menentukan arah masa depan. Foto/Ist

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti perubahan identitas ke-NU-an dan tantangannya dalam menentukan arah masa depan. Dia mengatakan, pembahasan mengenai masa depan NU harus diawali dengan pertanyaan mendasar mengenai definisi NU itu sendiri.

"Kalau zaman generasi awal dulu mungkin lebih mudah, walaupun tidak dirumuskan secara eksplisit, orang dengan mudah menandai NU itu apa," kata Gus Yahya dalam acara Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Yayasan Talibuana Nusantara, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Gus Yahya Luncurkan Saadatuna, Tegaskan 5 Prinsip Dasar Membangun Umat Terbaik

Menurut Gus Yahya, saat ini terdapat dua fenomena yang membuat batas-batas ke-NU-an semakin cair. Pertama, batas sosial dan kultural antara warga NU dan bukan NU telah mengalami perubahan yang signifikan.

"Gus Dur tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan sekarang sudah enggak ada karena batas sosial, batas kultural sudah hilang semua, sudah lebur," paparnya.

Fenomena kedua, lanjut Gus Yahya, adalah meningkatnya pengakuan identitas NU di tengah masyarakat. Ia mengaku, telah melihat fenomena tersebut sejak sekitar 2010 ketika masih menjabat sebagai Katib.

Baca juga: KH Ma'ruf Amin: Figur Ketum PBNU Harus Mampu Lakukan Perbaikan dan Mendamaikan

Gus Yahya mengungkapkan, pada 2010 Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari pernah menyampaikan hasil survei yang menunjukkan bahwa 47 persen populasi Muslim Indonesia mengaku sebagai warga NU.

Sementara itu, berdasarkan exit poll Pemilu 2004, sekitar 35 persen pemilih yang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) mengaku sebagai warga NU. Kemudian, survei LSI Denny JA pada 2005 mencatat sekitar 27 persen populasi Muslim mengaku NU. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 56 persen pada 2023.

"Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu hanya 18 tahun," katanya.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online