3 Penguasa Lansia yang Menolak Lengser, Salah Satunya Presiden Tertua di Dunia

3 hours ago 6

loading...

Presiden Kamerun Paul Biya, satu dari tiga penguasa lanjut usia yang terus berjuang mempertahankan kekuasaannya meski sudah puluhan tahun menjabat. Foto/Swissinfo

JAKARTA - Kekuasaan bisa sangat menggoda, dan banyak orang yang memilikinya ingin mempertahankannya selama mungkin. Pemimpin China dan Rusia, misalnya, telah membuka jalan bagi masa jabatan tambahan bertahun-tahun lalu. Di Amerika Serikat, presiden juga sesekali berbicara mengenai kemungkinan kembali mencalonkan diri, meskipun Konstitusi AS tidak mengizinkannya.

Namun, dari sudut pandang Presiden Kamerun Paul Biya, sosok Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden AS Donald Trump masih tergolong pendatang baru di pemerintahan.

Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Pamitnya Kunjungan Singkat ke Eropa, tapi Sudah 2 Bulan Tak Pulang

Presiden Biya telah menjadi kepala negara sejak 1982. Pada 2025, Biya memulai masa jabatan kedelapannya, yang secara resmi akan berakhir pada 6 November 2032, hanya beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-100. Dia dikenal sebagai presiden tertua di dunia.

Pria berusia 93 tahun itu tidak memberikan indikasi resmi bahwa dirinya berniat mundur, sementara posisi wakil presiden masih kosong.


3 Penguasa Lansia yang Menolak Lengser

1. Presiden Kamerun Paul Biya

Selama 44 tahun berkuasa, Biya telah membangun jaringan sekutu yang loyal dan stabil, yang membuat roda pemerintahan tetap berjalan meskipun dirinya sering absen dalam waktu lama.

Presiden lanjut usia (lansia ) itu telah menghabiskan dua setengah bulan di Jenewa, Swiss. Dari luar negeri, dia tetap mengeluarkan dekret dan mengambil keputusan terkait pengangkatan pejabat. Pada pertengahan Juni, juru bicaranya membantah rumor bahwa Biya sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan menyatakan bahwa sang presiden dalam kondisi sehat.

“Ada kesinambungan, tetapi itu juga berarti hanya ada sedikit momentum untuk melakukan reformasi di dalam pemerintahan,” kata Beverly Ochieng, analis senior di konsultan Global Risk, kepada DW, yang dilansir Minggu (30/8/2026).

Meskipun perangkat kekuasaan Biya telah membantu meredam dampak dari ketidakhadiran sang presiden dalam waktu lama, hal itu tidak serta-merta berarti para tokoh paling berpengaruh di lapangan bersatu. Bagaimanapun, era pasca-Biya kini mulai terlihat, dan sejumlah sekutunya dikabarkan memiliki ambisi untuk menggantikannya.

“Ketika semua orang mulai bersiap untuk berpotensi menggantikan Biya, itu juga berarti para elite bisa mulai saling menantang,” kata Ochieng. Dia memperingatkan bahwa persaingan tersebut dapat memicu gangguan besar, termasuk kemungkinan kudeta militer.

Analis Levi Mboushou baru-baru ini menyampaikan kekhawatiran serupa dalam podcast AfricaLink milik DW.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online