Jakarta -
Kehamilan katanya dapat menyebabkan perubahan pada asma seseorang. Lantas, apakah ibu hamil penderita asma bisa melahirkan pervaginam?
Perempuan yang hamil dengan asma merasakan kekhawatiran berlebih dengan kondisinya. Hal ini karena mereka khawatir bagaimana kehamilan yang dijalaninya akan memengaruhi pernapasan mereka dan apakah obat asma yang mereka konsumsi akan membahayakan bayi.
Ibu hamil penderita asma
Asma merupakan penyakit kronis yang bisa menyebabkan saluran napas seseorang menyempit sehingga pernapasan menjadi lebih sulit. Pada kehamilan yang normal, sebenarnya sesak napas merupakan gejala kehamilan secara umum, bahkan di antara orang-orang yang tanpa asma sekalipun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pada mereka yang menderita asma, kesulitan bernapas mungkin terasa terasa jauh lebih berat. Apalagi ada gejala tambahan yang mengiringinya seperti mengi, batuk, dan sesak dada. Selain merasakan kekhawatiran tentang kesehatan diri sendiri, ibu hamil dengan asma juga merasa khawatir kesehatan janinnya termasuk kekhawatiran kalau janin tidak mendapatkan cukup oksigen.
Apakah kehamilan dapat memperburuk asma?
Mengutip dari laman Cleveland Clinic, bisa jadi kasus kehamilan dapat memperburuk asma tetapi biasanya tergantung pada kasus pasien tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 40 persen orang mengalami perburukan asma selama kehamilan.
Namun, sebagian besar orang yang kasus gejalanya memburuk tersebut terindikasi memiliki asma berat (bukan ringan atau sedang) sebelum hamil. Serta, sebanyak 60 persen lainnya diketahui tidak merasakan perubahan atau gejala asma mereka justru membaik.
Para peneliti juga menemukan beberapa poin berikut ini terkait asma dan kehamilan:
1. Asma yang memburuk biasanya terjadi antara minggu ke-29 dan ke-36 kehamilan.
2. Asma yang membaik biasanya terjadi secara bertahap selama kehamilan.
3. Gejala asma biasanya tidak memburuk selama persalinan.
Gejala asma yang berubah selama kehamilan biasanya kembali normal dalam tiga bulan pertama setelah bayi lahir. Dan, orang yang mengalami perubahan gejala asma pada kehamilan sebelumnya mengalami perubahan serupa pada kehamilan selanjutnya.
Apakah asma dapat memengaruhi janin selama kehamilan?
Asma memang dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi janin jika tidak dikelola dengan baik. Hal ini sangat penting mengingat mengelola kondisi medis apa pun selama kehamilan sangat penting untuk kesehatan Bunda dan janin.
Keberadaan asma yang tidak dikelola dengan baik dapat mengurangi jumlah oksigen yang tersedia dalam darah untuk janin yang sedang berkembang. Sehingga, hal ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.
Sayangnya, sebagian besar ibu hamil dengan asma yang mengalami komplikasi tidak yakin bagaimana mereka mengelola asma selama kehamilan. Misalnya, mereka khawatir dengan obat asma mereka dapat membahayakan janin sehingga memutuskan berhenti mengonsumsinya. Padahal, tidak mengelola asma dengan baik justru menimbulkan risiko yang jauh lebih besar bagi janin daripada pengobatan apa pun.
Di sisi lain, mengambil langkah yang tepat untuk mengelola asma dengan baik seperti minum semua obat sesuai resep dapat meningkatkan peluang penderita asma untuk memiliki kehamilan normal dan melahirkan bayi yang sehat.
Mengenal penyebab asma selama kehamilan
Kehamilan sedianya tidak menjadi penyebab seseorang terkena asma ya, Bunda. Tetapi, perubahan terkait kehamilan pada tubuh dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi tersebut secara berbeda. Adapun perubahan yang memengaruhi pernapasan meliputi beberapa hal berikut:
1. Peningkatan ukuran rahim
Rahim membesar untuk menampung janin yang sedang tumbuh ketika hamil. Saat itu terjadi, ia memposisikan ulang diafragma (otot yang membantu Bunda menarik udara ke paru-paru dan melepaskannya). Diafragma mungkin tidak dapat bergerak bebas untuk memungkinkan Bunda bernapas penuh.
2. Peningkatan hormon kehamilan
Lonjakan hormon kehamilan dapat mengeringkan sinus dan menyebabkan peradangan. Hal ini dapat membuat hidung terasa "tersumbat," sehingga pernapasan menjadi lebih sulit. Secara khusus, lonjakan progesteron merangsang pernapasan yang lebih cepat.
3. Peningkatan detak jantung
Jantung harus bekerja lebih keras untuk memasok darah kepada Bunda dan janin. Kerja ekstra ini dapat terasa melelahkan dan membuat ibu hamil sesak napas.
Apakah asma menyebabkan komplikasi selama kehamilan atau persalinan?
Asma yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan tertentu. Selain itu, orang yang didiagnosis menderita asma berat lebih mungkin mengalami komplikasi daripada orang dengan asma ringan atau sedang.
Beberapa komplikasi yang mungkin berisiko dialami ibu hamil dengan asma diantaranya preeklamsia, kelahiran prematur, usia kehamilan kecil atau berat badan lahir rendah.
Apakah ibu hamil penderita asma bisa melahirkan pervaginam?
Sebagian besar perempuan dengan asma dapat melahirkan secara pervaginam, seperti dikutip dari laman Nhs. Tetapi, jika Bunda khawatir apakah asma nantinya akan memengaruhi persalinan pervaginam, diskusikan hal ini dengan bidan atau dokter spesialis Bunda. Jika setelah diskusi, Bunda merasa lebih nyaman dengan melakukan operasi caesar yang direncanakan, Bunda berhak untuk meminta opsi tersebut.
Jika persalinan Bunda harus diinduksi, pastikan Bunda mengingatkan dokter atau bidan bahwa Bunda memiliki riwayat asma sehingga mereka dapat menggunakan obat-obatan teraman sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, menderita asma bukan berarti Bunda harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Tetapi, jika Bunda harus menjalani operasi caesar, ahli anestesi akan berupaya menggunakan blok spinal atau epidural daripada anestesi umum.
Operasi caesar dianggap sebagai pilihan yang lebih aman bagi ibu hamil penderita asma, dan juga lebih aman untuk menggunakan obat pereda asma sebelum, selama, dan setelah operasi jika diperlukan.
Jika Bunda perlu menjalani operasi caesar dengan anestesi umum, yakinlah bahwa ahli anestesi akan memilihkan obat anestesi yang tepat jika Bunda menderita asma.
Mengendalikan asma selama kehamilan
Gejala asma pada ibu hamil bisa membaik, tetap sama, atau bahkan memburuk selama kehamilan. Bahkan, sekitar 45 persen perempuan dengan asma mengalami serangan asma selama kehamilannya. Karenanya, guna mengelola asma secara efektif, ada baiknya Bunda melakukan treatment khusus yang meminimalisir serangan asma baik di siang dan malam hari.
Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan yakni mengendalikan gejala asma siang dan malam hari, mempertahankan fungsi paru-paru dan tingkat aktivitas normal serta mencegah serangan asma. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan bahwa bayi mendapatkan banyak oksigen.
Serangan asma selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan oksigen dalam darah, yang berarti lebih sedikit oksigen yang mencapai bayi. Dengan kondisi tersebut, risiko bayi lebih tinggi untuk lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan pertumbuhan yang buruk.
Selain itu, perempuan dengan asma juga sedikit lebih mungkin daripada mereka yang tanpa asma mengalami tekanan darah tinggi (preeklampsia), dan menjalani persalinan caesar. Bayi yang lahir terlalu kecil dan terlalu dini lebih mungkin mengalami masalah kesehatan bayi baru lahir. Risiko terburuk lainnya, mereka dapat mengalami kesulitan bernapas dan kecacatan permanen, seperti keterbelakangan intelektual dan cerebral palsy.
Untuk menjaga kesehatan ibu dengan asma selama kehamilan tetap terpantau dengan baik, berikut ini tiga langkah yang dapat dilakukan ya, Bunda:
1. Pantau asma dengan rutin
Tim medis perlu memantau paru-paru Bunda selama kehamilan dan menyesuaikan obat asma jika diperlukan. Beritahukan petugas medis jika gejala membaik atau memburuk.
2. Hindari pemicu asma
Dengan membatasi kontak dengan alergen dan pemicu asma lainnya, Bunda mungkin perlu minum lebih sedikit obat untuk mengendalikan gejalanya. Kuncinya ialah mengendalikan gejala asma dengan menghindari pemicu asma dan minum obat asma sesuai petunjuk tim medis.
3. Minum obat asma
Ada banyak obat asma yang aman untuk dikonsumsi selama kehamilan, Bun. Bicarakan dengan dokter terkai pilihan tersebut. Jika Bunda mengonsumsi obat asma sebelum kehamilan, jangan berhenti tanpa membicarakannya dengan dokter terlebih dahulu. Ingatlah bahwa menghentikan obat secara tiba-tiba dapat membahayakan kesehatan Bunda dan bayi.
Demikian penjelasan apakah ibu hamil penderita asma bisa melahirkan pervaginam. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
5 hours ago
4
















































