Ilmuwan Temukan Hal Mengkhawatirkan pada Bayi Baru Lahir, Bisa Berdampak Jangka Panjang

10 hours ago 11

Jakarta -

Bayi baru lahir memang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan. Terbaru, ilmuwan temukan hal mengkhawatirkan pada bayi baru lahir, bisa berdampak jangka panjang, Bun.

Menjaga kesehatan bayi dengan maksimal sangatlah penting, terutama sejak mereka lahir. Sebab, bayi masih sangat sensitif terutama pencernaan mereka sehingga bisa membuat gangguan kesehatan tertentu pada mereka.

Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa adanya karakteristik yang mengkhawatirkan pada bayi yang dapat memengaruhi kesehatan mereka di kemudian hari. Meskipun beberapa mikrobioma usus dapat diturunkan dalam kandungan, mikrobioma usus bayi baru lahir sebelumnya yang dianggap hampir steril, sebagian besar diantaranya memperoleh bakteri selama kelahiran atau melalui ASI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Temuan terbaru pada bayi baru lahir

Namun, temuan baru membuktikan sebaliknya, seperti penelitian yang dipresentasikan di The European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases Global 2026.

Mengutip dari laman Nypost, penelitian baru menemukan sifat yang mengkhawatirkan pada bayi yang dapat memengaruhi kesehatan mereka, dan semuanya berkat mikrobioma usus mereka.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis sampel tinja dari 105 bayi yang dirawat di neonatal intensive care unit dalam 72 jam pertama kehidupan mereka untuk menangkap tahap awal paparan mikroba dan genetik.

Antibiotic resistance genes atau ARG merupakan segmen DNA yang membantu bakteri bertahan hidup dari efek antibiotik ditemukan pada bayi baru lahir. Ini merupakan kontributor potensial yang dapat memungkinkan untuk menghindari pengobatan antibiotik.

Temuan ini menunjukkan bahwa mikrobioma usus bayi baru lahir ternyata juga dipengaruhi faktor ibu dan lingkungan, salah satunya paparan bakteri selama kehamilan.

Para peneliti juga menemukan berbagai gen yang terkait dengan resistensi terhadap antibiotik yang umum digunakan, termasuk gen yang memecah obat-obatan yang banyak digunakan.

ARG dalam hal ini ditemukan di mikrobioma usus beberapa bayi baru lahir yang artinya mereka dapat menolak pengobatan di masa mendatang. "Temuan ini menunjukkan bahwa pola ARG sudah terbentuk pada tahap ini," kata peneliti utama Dr Argyro Ftergioti.

“Usus neonatal menyimpan resistom yang beragam, dan keberadaan ARG yang penting secara klinis sejak dini sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Studi ini juga mengidentifikasi hubungan antara gen resistensi dan beberapa faktor ibu dan neonatal. Para peneliti Denmark bahkan mengendus popok kotor bayi untuk lebih memahami susunan mikrobioma usus bayi. Para ilmuwan mengidentifikasi adanya temuan 10 ribu virus baru dalam popok kotor bayi.

Ini termasuk rawat inap ibu selama kehamilan atau pemasangan kateter vena sentral (tabung untuk memberikan obat atau nutrisi) dalam 24 jam pertama kehidupan.

Kumpulan gen resistensi antibiotik sebelum lahir sebagian besar dibentuk oleh penularan ibu (perpindahan bakteri atau mikroba dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui), persalinan, dan paparan rumah sakit yang sangat dini.

“Meskipun beberapa ARG diharapkan, prevalensinya yang tinggi di sebagian besar sampel sangat mencolok,” tambah Ftergioti.

Di sisi lain, bakteri usus pada bayi baru lahir memang menjadi bagian penting yang menunjang perkembangan sistem kekebalan, pencernaan, dan saraf. Sehingga, mikrobioma yang sehat diperlukan untuk perlindungan terhadap infeksi, alergi, dan penyakit kronis di masa depan, seperti asma, hiperaktivitas, dan diabetes.

Studi sebelumnya menemukan bahwa bayi baru lahir memiliki bakteri usus jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya, mengandung sekitar 10.000 spesies virus atau 10 kali lebih banyak daripada jumlah spesies bakteri pada anak secara rata-rata.

“Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana pembawaan gen resistensi sejak dini memengaruhi perkembangan mikrobioma dan risiko infeksi, temuan ini menyoroti pentingnya pengawasan, pencegahan, dan pengendalian infeksi dalam perawatan neonatal,” kata Ftergioti.

Ya, perawatan bayi baru lahir memang cukup menantang, Bun. Menjaga higienitas saja nyatanya tidaklah cukup. Apalagi, paparan bakteri dan virus terindikasi sejak kehamilan. Sehingga, menjaga asupan sehat dan menjaga pola hidup bersih sehat perlu dilakukan dengan maksimal. 

Selain itu, pentingnya melakukan kontrol kehamilan dengan teratur untuk memantau kesehatan bayi secara menyeluruh. Sehingga, gangguan kesehatan bisa terdeteksi lebih dini dan tindakan preventif bisa dilakukan lebih awal sehingga dampak berkepanjangan pada bayi bisa dicegah lebih cepat.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online