KETUA Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Utut Adianto mengatakan legislator tengah mencari waktu untuk mengadakan rapat kerja dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Dalam rapat itu, kata Utut, Komisi I DPR akan membahas sejumlah isu terkini di bidang pertahanan seperti gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia saat bertugas di misi perdamaian Libanon Selatan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Selain itu, Utut menuturkan bahwa rapat bersama Sjafrie juga akan membahas sikap pemerintah perihal kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, yang menyeret nama prajurit Badan Intelijen Strategis atau BAIS TNI.
“Kita semua kan berduka. Mudah-mudahan enggak ada lagi yang gugur. Dan terus juga soal bagaimana sikap kita jangan sampai terulang lagi kasus penyiraman,” kata politikus PDI Perjuangan itu di kompleks DPR, Jakarta, pada Senin, 6 April 2026.
Utut menyampaikan urgensi rapat itu adalah untuk mengungkap bagaimana fakta-fakta peristiwa dan bagaimana rencana pemerintah mengambil kebijakan ke depannya. Menurut Utut, saat ini Komisi I DPR masih mencocokkan jadwal dengan agenda Sjafrie.
Dia meyakini bahwa kesulitan untuk menentukan jadwal rapat bukan disebabkan oleh keengganan Sjafrie, melainkan murni kesibukannya. ”Tapi kita kan juga enggak bisa memaksa, kita kan harus nunggu kesediaan beliau. Kesediaan waktu lah, kalau orangnya pasti bersedia,” ucap dia.
Instansi pertahanan negara tengah disorot lantaran sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan. Serangan artileri mengakibatkan tiga prajurit TNI tewas dan lima prajurit lainnya luka-luka. Insiden pertama terjadi di Libanon Selatan, pada Ahad, 29 Maret 2026, yang mengakibatkan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon gugur.
Lalu tiga prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka, yaitu Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan.
Satu hari setelahnya, ledakan di Libanon Selatan membuat dua prajurit TNI tewas. Keduanya adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Dua prajurit lainnya mengalami luka-luka, yaitu Letnan Satu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
Di sisi lain, Andrie Yunus yang kerap mengkritik UU TNI dan perluasan peran militer di ruang sipil disiram air keras saat berada di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat, Kamis malam, 12 Maret 2026. Andrie disiram larutan berbahaya oleh dua orang tak dikenal. Kedua orang itu mengendarai sepeda motor yang datang dari arah berlawanan dengan Andrie.
Cairan kimia yang bersifat korosif itu mengenai tubuh bagian kanan Andrie, seperti mata, wajah, dada, dan tangan. Sebagian baju korban juga meleleh imbas terkena air keras. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Andrie mengalami luka bakar serius sebanyak 24 persen. Kini Andrie masih menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Polda Metro Jaya mengidentifikasi dua orang penyiram cairan berinisial BHC dan MAK merupakan anggota Bais TNI. Sementara empat pelaku versi TNI berinisial NDP, SL, BHW, dan ES yang berasal dari matra udara dan laut. NDP tercatat memiliki pangkat kapten, kemudian SL dan BHW berpangkat letnan satu, sementara ES masih berstatus sersan dua.
.png)
















































