:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327273/original/057541200_1787090211-Foto_1.jpg)
Bola.com, Kudus - Di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, 14-23 Agustus 2026, sepak bola putri Indonesia sedang memperlihatkan sebuah proses yang mungkin jauh lebih penting daripada sekadar hasil pertandingan.
Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino menjadi panggung bagi dua tim Indonesia, Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara. Di balik jersey Timnas Indonesia yang mereka kenakan, ada generasi pemain yang mayoritas masih sangat muda, sejumlah debutan di level internasional, hingga para pemain yang baru beradaptasi dari format permainan 9 vs 9 menuju sepak bola 11 vs 11.
Mereka datang dari latar belakang berbeda. Ada yang ditempa mulai dari MilkLife Soccer Challenge yang merupakan turnamen KU10 dan KU12 dan HYDROPLUS Soccer League U-15 dan U-18. Ada pula pemain yang sudah lebih dahulu mencicipi level U-20 maupun senior.
Namun, menurut para pelatih yang terlibat dalam mengantarkan mereka mengarungi turnamen level internasional itu, semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu potensi yang belum selesai dipahat.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Tiga Tahun yang Mengubah Cara Melihat Sepak Bola Putri
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/9330162/original/084467300_1787327583-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_22.28.12-Indonesia_vs_Yordania.jpg)
Bagi Timo Scheunemann, perkembangan yang terlihat di Kudus tidak terjadi dalam semalam.
Pelatih kepala Garuda Pertiwi itu melihat proses yang telah berjalan setidaknya sejak tiga tahun lalu, ketika sejumlah pemain muda mulai mendapatkan pengalaman bermain dan bahkan kesempatan bertanding ke luar negeri setelah mengikuti MilkLife Soccer Challenge All-Stars.
Timo menyebut nama Kesya Arabela Manisya Nian dan Fadilla. Mereka contoh pemain yang menurutnya sudah memiliki potensi untuk mendapatkan kesempatan lebih cepat di level yang lebih tinggi.
Namun, perubahan aturan AFF di kejuaraan U-16 pada 2025 mengenai batas usia membuat rencana tersebut belum terwujud.
Bagi Timo, pengalaman itu justru memperlihatkan pembinaan usia muda merupakan fondasi yang tidak boleh dilewatkan.
"Kita baru tiga tahun, mereka sudah 30 tahun. Tapi, kita ini generasi baru," kata Timo yang menggambarkan perjalanan sepak bola putri Indonesia dibandingkan Thailand yang sudah lebih lama membangun sistem pembinaan.
Kalimat itu menyimpan pesan penting. Indonesia memang belum bisa membandingkan proses tiga tahun dengan perjalanan puluhan tahun negara lain seperti Thailand. Namun, menurut Timo, bukan berarti Indonesia tidak boleh memiliki mimpi besar.
"Ambisinya harus setinggi langit, ke Piala Dunia," ujarnya.
Mimpi itu tentu tidak bisa diwujudkan hanya dalam satu atau dua tahun. Tetapi setidaknya, menurut Timo, fondasinya sudah mulai dibangun.
Timo melihat kolaborasi Bakti Olahraga Djarum Foundation dan PSSI sebagai bagian penting dari proses tersebut. Pembinaan diharapkan terus berjalan dari kelompok usia 8 tahun hingga 18 tahun, bahkan tidak berhenti ketika pemain memasuki usia kuliah.
Bagi Timo, seorang anak perempuan yang jatuh cinta kepada sepak bola harus memiliki jalan untuk terus bermain ketika beranjak dewasa.
Dari 9 vs 9 ke 11 vs 11: Belajar Menjadi Pemain Timnas Indonesia
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/9324590/original/068300400_1786734686-12__1_-Indonesia_vs_Arab_Saudi.jpg)
Jika Timo berbicara tentang perjalanan besar, Coach Dian Nadia Mutiara melihat proses itu dari jarak yang lebih dekat.
Asisten pelatih Garuda Pertiwi itu berhadapan langsung dengan para pemain yang sebagian besar masih belajar memahami tuntutan sepak bola level lebih tinggi.
Banyak pemain Garuda Pertiwi di Srikandi Merdeka Cup bahkan baru mendapatkan kesempatan mengenakan jersey tim nasional.
"Mereka juga baru saja transisi dari yang biasanya bermain 9 vs 9, kini bermain 11 vs 11. Jadi mereka harus adaptasi dulu," ujar Dian.
Perubahan itu terdengar sederhana. Namun, bagi pemain muda, perbedaan tersebut sangat besar. Lapangan menjadi lebih luas, ruang yang harus dipahami bertambah, komunikasi antarpemain menjadi semakin penting, begitu pula dengan tuntutan taktik dan fisik.
Belum lagi tekanan mental ketika mengenakan seragam tim nasional untuk pertama kalinya. Di sinilah keberadaan pemain yang lebih senior menjadi sangat penting.
Dalam skuad Garuda Pertiwi terdapat pemain dari berbagai kelompok usia, termasuk kelahiran 2011 dan 2012 serta para pemain debutan. Beruntung, mereka tidak harus belajar sendirian.
Para pemain yang sudah memiliki caps senior atau pengalaman di level U-20 menjadi "kakak" bagi pemain yang baru datang.
Mereka berbagi pengalaman, membimbing, dan membantu para pemain muda beradaptasi. Hasilnya bukan sekadar hubungan senior-junior, tetapi chemistry yang tumbuh di dalam tim.
Bagi Dian, proses membangun tim juga tidak berhenti ketika latihan selesai. Ia terbiasa meminta pemain melakukan evaluasi diri setelah latihan maupun pertandingan: apa kelebihan mereka, apa kekurangan mereka, dan apa yang harus diperbaiki.
Yang menarik, evaluasi tersebut bukan komunikasi satu arah. Pemain juga diberi ruang untuk menyampaikan keluhan, mencari solusi, dan berdiskusi bersama.
"Tidak ada pressure dari pelatih, tapi kita bersama-sama mencari kekurangan untuk saling menguatkan," kata Dian.
Pendekatan itu membuat proses belajar menjadi lebih manusiawi. Pemain tidak sekadar diberi tahu apa yang salah, tetapi diajak memahami kesalahan dan menemukan jalan keluar bersama.
Di tengah tekanan pertandingan, cara seperti itu perlahan membentuk sesuatu yang tidak terlihat di papan skor: kepercayaan diri.
Takumi Melihat Potensi yang Mulai Tumbuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328291/original/065334800_1787157388-Foto_6__19_-Putri_Nusantara.jpg)
Proses serupa juga dirasakan Coach Takumi Taniguchi bersama Putri Nusantara.
Pelatih asal Jepang itu baru sekitar tiga hingga lima pekan menangani tim. Namun, ia sudah mulai mengamati pemain sejak sekitar dua pekan sebelum pemusatan latihan.
Dalam waktu yang relatif singkat, perubahan yang dilihatnya cukup besar.
"Saya baru bersama tim ini sekitar 3-5 minggu. Saya sudah melihat para pemain sejak dua minggu sebelum pemusatan latihan dimulai. Dibandingkan saat awal bertemu, pemain pasti sudah sangat berkembang pesat," kata Takumi.
Ia memang enggan menunjuk satu nama tertentu sebagai pemain yang paling menonjol. Namun, Takumi percaya di antara para pemain yang tampil di turnamen ini terdapat individu-individu yang memiliki masa depan menjanjikan.
"Saya merasakan potensi," ujarnya.
Namun, pelatih asal Jepang itu tidak ingin terburu-buru membawa pembicaraan langsung menuju Piala Dunia. Baginya, jalan menuju panggung terbesar sepak bola dunia masih panjang.
Langkah pertama adalah membangun kualitas pemain dan tim agar mampu bersaing di Asia.
"Jalan menuju Piala Dunia tidak mudah dan panjang. Pertama kita harus meningkatkan kualitas kita dan bisa kompetitif dulu di Asia," kata Takumi.
Setelah mampu bersaing di level Asia, barulah Indonesia dapat melangkah lebih jauh menuju level dunia.
Cara berpikir tersebut sejalan dengan filosofi pembinaan: tidak mencari hasil instan, tetapi membangun fondasi yang memungkinkan pemain berkembang secara berkelanjutan.
Dua Tim, Satu Potensi Besar untuk Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326255/original/083789600_1786970931-FOTO_4__33_-Indonesia_vs_Singapura.jpg)
Menariknya, Srikandi Merdeka Cup juga memperlihatkan kekuatan Indonesia tidak hanya berada di satu kelompok pemain.
Coach Dian melihat banyak pemain dari Garuda Pertiwi maupun Putri Nusantara layak diperhitungkan untuk tahap berikutnya.
Bahkan, ia membayangkan apa yang terjadi jika pemain terbaik dari kedua tim tersebut berada dalam satu skuad.
"Jika pemain-pemain dari kedua tim itu digabung, itu jadi tim yang sangat kuat dan potensial," ujar Dian.
Bagi Dian, turnamen ini bahkan dapat menjadi semacam tryout untuk kebutuhan tim Indonesia menghadapi kualifikasi AFC. Tetapi kualitas pemain tidak hanya diukur dari kemampuan teknis.
Salah satu karakter yang paling dicari Dian adalah pemain yang coachable, mau belajar, mampu menerima arahan, dan memahami apa yang diinginkan pelatih.
Sebab, sepak bola modern tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu. Pemain harus mampu menjalankan organisasi tim ketika bertahan maupun menyerang, memahami skema, serta menyesuaikan diri dengan sistem permainan.
Di titik itulah proses pembinaan mulai menemukan bentuknya.
Bukan Sekadar Juara, tetapi Menyiapkan Mimpi yang Lebih Besar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310408/original/036699200_1785316287-Foto_1.jpg)
Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino pada akhirnya mungkin akan dikenang melalui skor, kemenangan, atau siapa yang menjadi juara.
Namun, bagi sepak bola putri Indonesia, nilai terbesar turnamen ini justru mungkin berada pada hal-hal yang tidak langsung terlihat.
Ada pemain yang untuk pertama kalinya mengenakan jersey tim nasional. Ada pemain yang belajar bermain 11 vs 11 setelah terbiasa dengan format 9 vs 9.
Ada senior yang belajar menjadi kakak bagi pemain yang lebih muda. Ada pelatih yang mengajarkan evaluasi bukan sekadar mencari kesalahan. Dan ada generasi yang mulai berani membicarakan Asia, bahkan Piala Dunia.
Coach Timo mengingatkan, generasi senior seperti Shafira Ika dan rekan-rekannya, termasuk Coach Rudy Eka Priyambada yang dulu pernah menangani Timnas Indonesia Putri, telah berjasa membuat sepak bola putri Indonesia semakin diperhatikan. Perjalanan mereka harus dihargai.
Namun, generasi baru tidak boleh berhenti di sana. Mereka harus memiliki ambisi yang lebih besar. Sebab, perjalanan menuju Piala Dunia memang panjang.
Takumi benar, Indonesia harus terlebih dahulu menjadi kompetitif di Asia. Namun, seperti yang disampaikan Timo, mimpi setinggi langit tetap perlu dimiliki sejak sekarang.
Dari Kudus, mimpi itu sedang mulai dirawat. Satu latihan, satu pertandingan, satu evaluasi, dan satu pemain muda pada satu waktu.
Karena mungkin, generasi yang hari ini berlari di Supersoccer Arena bukan hanya sedang bermain untuk sebuah turnamen, tapi mereka sedang mempersiapkan diri untuk satu hari nanti membawa Timnas Indonesia ke panggung yang lebih besar.
.png)
8 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9294015/original/011064100_1783773960-1000468926.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9331132/original/084809100_1787485316-WhatsApp_Image_2026-08-23_at_18.27.53-Malaysia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9331049/original/087222300_1787473134-jordan-2-.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9331081/original/061168000_1787479638-WhatsApp_Image_2026-08-23_at_16.45.25.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331055/original/091324900_1787474834-Riswan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330829/original/015612300_1787452834-PSJ07216.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4734336/original/041258800_1707038706-bobotoh_gbla_sut_08112023_c576f77d3f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324232/original/071859900_1786695205-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330821/original/057565500_1787452186-kim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475724/original/079826700_1768644724-Saddil_Ramdani_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330820/original/026772900_1787451894-mauro.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330813/original/062963000_1787450538-thai_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9327942/original/002014000_1787129879-1000130658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330432/original/050009200_1787378266-garuda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330804/original/033575400_1787449483-783831396_1627328628750434_1423935292015629128_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330529/original/095983100_1787385940-SaveClip.App_782074285_18390084037205766_7927158814748507082_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330763/original/030902800_1787440847-Milos_Joksic.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330112/original/024941300_1787321071-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330658/original/086198000_1787399047-1787308336526.jpg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255296/original/097406900_1750154745-1.jpg)








:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7772005/original/081016500_1780583504-20260604BL_OT_Timnas_Indonesia_Jelang_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_10.jpg)



