KAI Ingatkan Pengguna Jalan Saat Libur Sekolah, Berhenti Sejenak di Perlintasan Bisa Selamatkan Nyawa

14 hours ago 3

Januari hingga 22 Juni 2026, 134 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang; 118 kejadian atau 88 persen dipicu tindakan menerobos

Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat melintas di perlintasan sebidang, terutama pada masa liburan sekolah ketika mobilitas keluarga cenderung meningkat. KAI mengajak pengguna jalan membangun kebiasaan selamat yaitu berhenti sejenak, tengok kanan-kiri, dengarkan sekitar, patuhi isyarat, lalu melintas setelah benar-benar aman.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perlintasan sebidang merupakan titik temu antara jalan raya dan jalur kereta api. Pada titik ini, disiplin pengguna jalan menjadi penentu keselamatan banyak orang.

“Palang terbuka tetap perlu direspons dengan kewaspadaan, jangan langsung melaju. Palang tertutup adalah perintah untuk berhenti. Setiap pengendara wajib berhenti sejenak, tengok kanan dan kiri, dengarkan sekitar, kemudian pastikan jalur benar-benar aman. Bila palang mulai menutup, sirine berbunyi, atau petugas memberi isyarat berhenti, jangan mencari celah,” ujar Anne.

Anne menjelaskan, kereta api memiliki jalur khusus dan jarak pengereman yang panjang. Karena itu, kendaraan yang menerobos perlintasan berada pada risiko sangat tinggi. Satu keputusan terburu-buru dapat berdampak pada keluarga, pengguna jalan lain, petugas, pelanggan kereta api, dan masyarakat di sekitar jalur.

Berdasarkan data KAI hingga 22 Juni 2026, terdapat 134 kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 118 kejadian atau 88 persen dipicu tindakan menerobos. Penyebab lainnya yakni kendaraan mogok sebanyak 7 kejadian serta palang pintu terlambat atau tidak tertutup sebanyak 6 kejadian.

Dampak kecelakaan di perlintasan sebidang juga menyentuh langsung keselamatan keluarga. Pada periode yang sama, tercatat 113 korban, terdiri dari 48 orang meninggal dunia, 29 orang luka berat, dan 36 orang luka ringan. Dari sisi kendaraan, terdapat 134 unit kendaraan terdampak, terdiri dari 77 motor atau 57 persen dan 57 mobil atau 43 persen.

Data tersebut juga menunjukkan kecelakaan dapat terjadi di perlintasan berpintu maupun tanpa pintu. Sebanyak 62 kejadian terjadi di perlintasan berpintu atau 46 persen, sedangkan 72 kejadian terjadi di perlintasan tanpa pintu atau 54 persen. Karena itu, palang pintu harus dipahami sebagai alat bantu keselamatan, sementara keputusan untuk berhenti, melihat, dan menunggu aman tetap berada pada pengguna jalan.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, jumlah kecelakaan di perlintasan sebidang turun dari 138 kejadian menjadi 134 kejadian atau turun 3 persen. Kendaraan terdampak turun dari 144 unit menjadi 134 unit atau turun 7 persen. Jumlah korban turun dari 151 orang menjadi 113 orang atau turun 25 persen. Meski tren membaik, KAI menilai 48 korban meninggal dunia tetap menjadi alarm serius bagi seluruh pihak.

“Angka penurunan menunjukkan upaya keselamatan berjalan, namun satu nyawa saja terlalu berharga untuk dipertaruhkan karena terburu-buru. Lebih baik kehilangan satu atau dua menit di perlintasan daripada kehilangan masa depan keluarga,” kata Anne.

KAI juga terus menjalankan penanganan fisik di perlintasan sebidang melalui penutupan dan penyempitan titik rawan bersama pemangku kepentingan terkait. Hingga 22 Juni 2026 pukul 16.00 WIB, dari program 177 titik, realisasi penutupan dan penyempitan mencapai 226 penanganan atau 128 persen. Rinciannya meliputi 136 penutupan perlintasan liar, 29 penutupan perlintasan terdaftar, 43 penyempitan perlintasan liar, dan 18 penyempitan perlintasan terdaftar.

Dari sisi edukasi, sepanjang Januari–Mei 2026 KAI telah melaksanakan 1.036 sosialisasi keselamatan, 167 kegiatan awareness keselamatan di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat, pemasangan 308 media imbauan keselamatan berupa spanduk atau banner, 44 kegiatan TJSL, 24 penertiban bangunan liar, serta 4 pembuatan palang pintu perlintasan. Edukasi ini diarahkan agar budaya berhenti dan memeriksa kondisi sekitar menjadi kebiasaan harian, terutama bagi anak-anak dan remaja yang sedang menikmati masa liburan sekolah.

Anne menambahkan, kewaspadaan juga berlaku di luar perlintasan sebidang. Hingga 22 Juni 2026, KAI mencatat 260 kejadian temperan atau tertabrak kereta api di jalur nonperlintasan, terdiri dari 242 kejadian terhadap orang atau 93 persen dan 18 kejadian terhadap kendaraan atau 7 persen. Pada kejadian temperan terhadap orang, terdapat 253 korban, terdiri dari 188 meninggal dunia, 46 luka berat, dan 19 luka ringan. Pada kejadian temperan kendaraan di jalur, terdapat 4 korban, terdiri dari 1 meninggal dunia dan 3 luka ringan.

“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak berjalan, bermain, berfoto, memarkir kendaraan, meletakkan barang, atau beraktivitas di jalur kereta api. Jalur kereta api adalah area operasi yang harus steril. Keselamatan perjalanan kereta api dan keselamatan warga sama-sama bergantung pada kepatuhan kita,” ujar Anne.

KAI mengajak pemerintah daerah, aparat kewilayahan, kepolisian, dinas perhubungan, sekolah, komunitas, dan keluarga untuk memperkuat pesan keselamatan di perlintasan sebidang. Orang tua juga diimbau memberi contoh kepada anak-anak dengan berhenti di jarak aman dan menunggu sampai kondisi benar-benar aman sebelum melintas.

“Kebiasaan menerobos harus kita tinggalkan. Budaya selamat dimulai dari keputusan sederhana yaitu berhenti, tengok kanan, tengok kiri, dengarkan sekitar, lalu melintas setelah aman. Liburan sekolah seharusnya menjadi perjalanan yang menyenangkan dan pulang dengan selamat,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online