Kita Terlalu Sibuk Mendigitalisasi Sekolah, tetapi Lupa Mendigitalisasi Cara Berpikir

8 hours ago 10

INFO NASIONAL - Di tengah percepatan transformasi teknologi global, pendidikan Indonesia bergerak menuju era digital dengan sangat ambisius. Sekolah mulai dipenuhi layar interaktif, platform pembelajaran daring diperluas, kecerdasan buatan mulai diperkenalkan, dan istilah “transformasi pendidikan” semakin sering menjadi bahasa resmi kebijakan negara. Digitalisasi akhirnya diposisikan sebagai simbol kemajuan pendidikan modern.

Di balik seluruh optimisme itu, ada pertanyaan mendasar yang justru jarang dibicarakan secara serius. Apakah pendidikan Indonesia benar-benar sedang mendigitalisasi cara berpikir, atau hanya memindahkan pola lama ke perangkat yang lebih modern?

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pertanyaan ini penting karena sejatinya pendidikan bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan komunikasi dan pembentukan cara berpikir manusia. Sekolah bukan hanya tempat memindahkan informasi, namun juga ruang tempat ide dibangun, nalar dibentuk, perhatian dikelola, dan kesadaran dikembangkan.

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan digital tidak cukup diukur berdasarkan jumlah perangkat elektronik di ruang kelas, tetapi perlu melihat variabel pola pikir; apakah kemampuan pendidikan membentuk pola pikir baru yang lebih kritis, terbuka, dan komunikatif?

Ini merupakan titik paling menarik dalam problematik pendidikan Indonesia sekaligus mengkhawatirkan. Kita tampak sangat sibuk mendigitalisasi fasilitas sekolah, tetapi belum cukup serius membangun transformasi komunikasi pembelajaran. Kebanyakan ruang kelas memang mulai modern secara visual, tetapi masih konservatif dalam hal cara berpikir. Teknologi berubah, tetapi pola interaksi pendidikan tetap sama; guru berbicara satu arah, siswa mendengar, lalu sistem mengukur kemampuan menghafal.

Padahal dunia digital sesungguhnya mengubah cara manusia menerima pengetahuan. Generasi muda hari ini hidup dalam budaya komunikasi yang cepat, visual, interaktif, dan sangat kompetitif terhadap perhatian. Mereka tumbuh di tengah arus informasi yang bergerak setiap detik. Dalam situasi seperti itu, pendidikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola komunikasi lama yang monoton dan administratif.

Di era digital, perhatian menjadi poin sentral dari seluruh proses pembelajaran. Informasi hari ini terlalu banyak. Oleh karena itu, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar menyediakan pengetahuan, tetapi bagaimana membuat pengetahuan mampu menarik perhatian, membangun keterlibatan, dan memengaruhi cara berpikir peserta didik.

Ironisnya, Sebagian besar sistem pendidikan kita masih gagal memahami perubahan mendasar ini. Sekolah sibuk mengejar digitalisasi perangkat, tetapi lupa bahwa revolusi terbesar era digital sebenarnya terjadi pada cara manusia berkomunikasi. Dunia digital telah melahirkan generasi yang lebih responsif terhadap narasi, visualisasi, interaksi, dan pendekatan komunikasi yang hidup. Sementara itu, ruang kelas sering kali masih bertahan dengan pola penyampaian yang monoton dan minim daya retoris. Akibatnya, sekolah perlahan kalah dalam merebut perhatian siswa.

Hari ini guru tidak hanya bersaing dengan rasa malas siswa. Mereka bersaing dengan TikTok, YouTube, media sosial, algoritma digital, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu menyampaikan informasi secara lebih cepat dan menarik. UNESCO dalam berbagai laporan pendidikan digital mengingatkan bahwa teknologi berbasis algoritma dan media sosial telah mengubah pola perhatian, kebiasaan belajar, dan cara generasi muda menerima informasi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan modern sesungguhnya tengah menghadapi krisis komunikasi.

Oleh karena itu, digitalisasi pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pengadaan teknologi. Pendidikan juga harus mulai membangun kemampuan retorika dan komunikasi pembelajaran yang relevan dengan generasi digital, karena secanggih apa pun teknologi pendidikan, semuanya akan kehilangan daya pengaruh jika penyampaian pembelajaran tetap miskin interaksi dan gagal membangun perhatian.

Di sinilah kemampuan retorika menjadi sangat penting dalam pendidikan masa depan. Retorika bukan sekadar kepandaian berbicara, melainkan kemampuan menghidupkan gagasan di hadapan audiens. Dalam ruang kelas modern, guru tidak cukup hanya menguasai materi. Ia harus mampu membangun koneksi emosional, menciptakan ritme komunikasi, mengelola perhatian, dan menghadirkan pembelajaran sebagai pengalaman intelektual yang betul-betul hidup.

Sayangnya, aspek ini masih sangat jarang menjadi perhatian dalam transformasi pendidikan Indonesia. Guru dilatih mengoperasikan aplikasi, tetapi belum cukup dipersiapkan untuk menghadapi perubahan psikologi komunikasi generasi digital. Padahal di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan merebut perhatian jauh lebih menentukan dibanding sekadar kemampuan menyampaikan materi.

Kita perlu menyadari bahwa pendidikan modern pada dasarnya adalah seni membangun pengaruh intelektual. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, karena internet telah mengambil fungsi itu. Yang kini semakin penting adalah kemampuan guru membantu siswa untuk memahami, memaknai, dan mengolah informasi menjadi cara berpikir yang matang.

Itulah sebabnya pendidikan digital tidak cukup hanya melahirkan sekolah yang canggih secara teknologi. Pendidikan harus melahirkan ruang komunikasi yang hidup. Siswa perlu dibiasakan berdialog, berargumentasi, menyampaikan pendapat, dan membangun keberanian berpikir, sebab dunia digital tidak hanya membutuhkan manusia yang cepat menerima informasi, tetapi juga manusia yang mampu mengomunikasikan gagasan secara cerdas.

Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecepatan transformasi teknologi, tetapi juga oleh kemampuan transformasi komunikasi di ruang kelas. Teknologi memang dapat mempercepat pembelajaran, tetapi hanya komunikasi yang mampu menghidupkan pembelajaran.

Negara-negara maju memahami bahwa inti pendidikan modern bukan sekadar modernisasi alat, melainkan modernisasi cara berpikir dan cara berinteraksi. Mereka membangun budaya diskusi, presentasi, komunikasi publik, kolaborasi, dan keberanian menyampaikan gagasan sejak dini. Pendidikan dipahami sebagai proses membentuk manusia yang mampu berpikir sekaligus mampu/berani mengomunikasikan pikirannya.

Pengalaman dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) kepada mahasiswa Australia memperlihatkan bagaimana perbedaan budaya komunikasi pendidikan dapat memengaruhi penerimaan pembelajaran.

Ketika proses belajar berlangsung terlalu satu arah, minim interaksi, dan hanya berpusat pada penyampaian materi, sebagian mahasiswa menunjukkan resistensi secara terbuka. Dalam satu situasi, seorang mahasiswa bahkan menyebut metode pembelajaran tersebut sebagai “rubbish”, lalu meninggalkan kelas sambil membanting pintu. Peristiwa ini tentu bukan semata persoalan etika belajar, melainkan cerminan bahwa dunia pendidikan global telah bergerak menuju pola pembelajaran yang lebih dialogis, partisipatif, dan komunikatif.

Peserta didik di banyak negara maju terbiasa dilibatkan dalam diskusi, dan argumentasi, serta interaksi aktif di ruang dan di luar kelas. Mereka tidak hanya belajar menerima informasi, tetapi juga belajar membangun keterlibatan intelektual dalam proses pembelajaran itu sendiri.

Di Indonesia, kita tampak masih terlalu fokus pada aspek teknis digitalisasi, tetapi belum cukup serius membangun revolusi komunikasi pendidikan. Padahal tanpa perubahan cara berkomunikasi, teknologi hanya akan menjadi dekorasi modern bagi sistem lama yang tetap pasif dan birokratis. Jika ruang kelas masih bertahan pada pola komunikasi yang monoton dan satu arah, maka sekolah akan semakin sulit bersaing dengan dunia digital yang jauh lebih interaktif dalam merebut perhatian generasi muda hari ini.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan sekadar bagaimana menghadirkan teknologi ke sekolah, melainkan bagaimana menghadirkan cara berpikir baru ke dalam ruang kelas. Sebab masa depan tidak hanya dimenangkan oleh mereka yang menguasai teknologi, tetapi oleh mereka yang mampu membangun pengaruh melalui gagasan dan komunikasi.

Jadi, di tengah ambisi besar mendigitalisasi pendidikan nasional, ada satu hal paling mendasar yang justru terlupakan, bahwa pendidikan pada akhirnya selalu tentang manusia yang berbicara kepada manusia lain, lalu mengubah cara berpikirnya.

Penulis: Lusi Komala Sari

Dosen Retorika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sekaligus praktisi public speaking dan peneliti bahasa yang mengkaji retorika, kesantunan, serta komunikasi publik dalam konteks pendidikan dan masyarakat digital.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online