Selular.ID – Lintasarta melalui Cloudeka mendukung penyelenggaraan OpenClaw Meetup Jakarta #4 sebagai bagian dari upaya mempercepat adopsi Agentic AI di Indonesia.
Acara yang digelar pada 24 Juni 2026 tersebut berhasil menarik lebih dari 500 pendaftar, mencerminkan meningkatnya minat pelaku industri terhadap pemanfaatan AI Agents untuk kebutuhan bisnis dan operasional.
Kolaborasi antara Lintasarta dan komunitas OpenClaw hadir di tengah berkembangnya kebutuhan organisasi terhadap teknologi kecerdasan buatan yang mampu bekerja secara lebih mandiri.
Jika sebelumnya implementasi AI banyak berfokus pada analitik dan otomasi sederhana, kini perhatian mulai bergeser ke Agentic AI, yakni sistem AI yang dapat mengambil tindakan, berinteraksi dengan berbagai aplikasi, serta menjalankan tugas secara otonom berdasarkan tujuan yang telah ditentukan.
Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus, mengatakan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model AI, tetapi juga kesiapan fondasi digital yang mendukungnya.
Menurutnya, organisasi membutuhkan infrastruktur yang mampu menjamin keamanan, integrasi sistem, kedaulatan data, dan kemampuan operasional dalam skala enterprise.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
“Agentic AI menjadi salah satu evolusi paling penting dalam perjalanan transformasi digital. Namun keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi AI itu sendiri, melainkan oleh kesiapan fondasi digital yang menopangnya. Karena itu, Lintasarta terus memperkuat Intelligent Core sebagai fondasi yang mengintegrasikan konektivitas, cloud, cybersecurity, dan AI dalam satu ekosistem yang aman, terintegrasi, dan siap mendukung kebutuhan industri,” ujar Gidion.
OpenClaw sendiri berkembang sebagai komunitas yang mempertemukan AI practitioner, developer, startup, enterprise, hingga technology leaders untuk berbagi pengalaman dalam membangun dan mengoperasikan AI Agents di lingkungan produksi.
Berbagai topik yang dibahas mencakup AI automation, AI engineering, multi-agent systems, hingga implementasi Agentic AI pada berbagai sektor industri.
Tingginya antusiasme terhadap teknologi ini sejalan dengan proyeksi Gartner yang memperkirakan bahwa pada 2028 sekitar 33 persen aplikasi perangkat lunak enterprise akan mengadopsi Agentic AI.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan kurang dari satu persen pada 2024.
Pada periode yang sama, Gartner juga memperkirakan sekitar 15 persen keputusan operasional harian akan dijalankan secara otonom oleh AI Agents.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Agentic AI mulai dipandang sebagai fondasi penting menuju konsep autonomous enterprise, yaitu organisasi yang mampu mengotomatisasi proses bisnis dan pengambilan keputusan secara lebih luas dengan dukungan kecerdasan buatan.
Sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison Group, Lintasarta saat ini mengembangkan Intelligent Core yang mengintegrasikan empat kapabilitas utama, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI atau dikenal sebagai pendekatan 4C.
Platform ini dirancang untuk membantu organisasi mempercepat adopsi AI dengan tetap menjaga keamanan, kepatuhan, serta kebutuhan kedaulatan data.
Lintasarta menyebut Intelligent Core dibangun berdasarkan prinsip Sovereign, Integrated, dan Seamless Experience.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan dan institusi menjalankan berbagai solusi AI pada infrastruktur yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis sekaligus memenuhi tuntutan keamanan data yang semakin ketat.
Di sisi lain, perusahaan juga memperluas pengembangan ekosistem AI nasional melalui inisiatif AI Merdeka.
Program ini mencakup Laskar AI yang berfokus pada pengembangan talenta digital dan kecerdasan buatan Indonesia, serta Semesta AI yang mendukung startup dan pengembangan berbagai use case AI di sektor-sektor strategis.
Menurut Lintasarta, penguatan talenta, teknologi, dan kolaborasi lintas industri menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi digital nasional.
Karena itu, dukungan terhadap komunitas teknologi seperti OpenClaw dipandang sebagai langkah untuk memperluas transfer pengetahuan sekaligus mempercepat implementasi AI yang relevan dengan kebutuhan industri.
Perwakilan OpenClaw, Sofian Hadiwijaya, menilai kolaborasi lintas ekosistem menjadi salah satu kunci dalam mempercepat adopsi Agentic AI di Indonesia.
Ia mengatakan bahwa potensi AI Agents untuk mentransformasi cara organisasi bekerja hanya dapat diwujudkan melalui ruang kolaborasi yang memungkinkan komunitas, industri, dan penyedia teknologi saling berbagi pengalaman implementasi.
“Kami mengapresiasi dukungan Lintasarta yang tidak hanya menyediakan platform diskusi, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dalam membangun ekosistem AI Indonesia,” kata Sofian.
Melalui kolaborasi tersebut, Lintasarta dan OpenClaw menargetkan terciptanya ekosistem AI yang lebih terbuka, berdaulat, dan berkelanjutan.
Fokusnya tidak hanya pada pengembangan teknologi, tetapi juga memastikan pemanfaatan AI mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas, daya saing industri, serta penguatan kedaulatan digital Indonesia di masa mendatang.
Baca Juga: Lintasarta Dorong Investasi Infrastruktur AI untuk Indonesia
.png)
















































