Londo Ireng di Republik Antikritik

19 hours ago 9

loading...

Denny Indrayana. Foto/Tangkapan layar

Denny Indrayana
Advokat Indonesia dan Australia

Bapak Presiden Prabowo, selamat Minggu pagi.

Izinkan saya bersurat lagi. Seperti biasa: apa adanya saja.
Ada dua kegemaran Bapak yang belakangan membuat saya deg-degan. Pertama, sering bepergian ke luar negeri. Kedua, berpidato berjam-jam di dalam negeri—terutama ketika sudah meninggalkan teks resmi.

Setiap Bapak mulai berimprovisasi, saya membayangkan para staf menahan napas. Mereka mungkin tersenyum di barisan depan, tetapi jantungnya berlari ke mana-mana. Takut ada lagi kalimat yang melompat dari podium, lalu menjadi berita sebelum pidatonya selesai.

Yang gembira tentu wartawan dan warganet. Ada bahan baru. Ada potongan video baru. Ada lagi yang membuat kita tertawa—sayangnya, belum tentu membuat kita bangga.

Baca Juga: Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM

Dino Patti Djalal pernah meminta Bapak mengurangi kunjungan ke luar negeri. Saya punya permintaan lain: kurangilah pidato panjang di dalam negeri. Jangan tertipu tepuk tangan relawan yang meminta Bapak terus bicara. Bisa jadi mulut mereka berteriak "lanjutkan", tetapi hati kecilnya berbisik lirih, "berhenti, Pak."

Indonesia memerlukan Presiden yang gesit beraksi, bukan terlalu lama berorasi.

Lalu tibalah pidato pada puncak Hari Lahir ke-28 PKB. Dari podium, Bapak berkata:

"Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM."

Kalimat itu pendek. Gemanya panjang.

Bukan kali pertama kelompok yang kritis kepada kekuasaan diberi cap: pengkhianat, antek asing, tidak nasionalis. Sekarang ditambah satu istilah lama dari gudang kolonial: Londo Ireng .

Saya percaya Bapak bukan orang munafik. Omon-omon tidak antikritik, tetapi kata dan mata justru menghardik.

Baca Juga: Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis

Kalau saya menjadi Bapak, jabatan pertama yang saya angkat adalah Staf Khusus Pembisik—orang yang setiap pagi wajib membawa kabar buruk, menyampaikan kritik paling pahit, dan mengatakan kepada Presiden: "Bapak keliru."

Presiden tidak perlu mencari pujian. Pujian akan datang sendiri, bahkan tanpa diundang. Di sekitar kekuasaan selalu terjadi inflasi pemuja. Kabar baik membanjir dari segala penjuru. Kabar buruk tersangkut di pagar Istana. Yang langka justru suara jujur. Yang langka justru orang yang berkata apa adanya, bukan ada apanya. Yang langka justru orang yang berani berkata: tidak.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online