Sebanyak 11 Gardu Traksi Akan Dibangun untuk Mendukung Operasional Rangkaian 12 Kereta di Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung
Jakarta (ANTARA) - Mobilitas masyarakat di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Untuk mengantisipasi kebutuhan kapasitas layanan yang semakin besar, PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiapkan penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan pada lintas tersebut.
Lintas ini menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta serta sekitarnya.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume pengguna KRL pada lintas Rangkasbitung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 43.317.716 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 62.085.471 pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69.999.362 pelanggan pada 2024, dan kembali naik menjadi 77.552.716 pelanggan pada 2025. Memasuki periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33.397.420 orang.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari. Setiap harinya, layanan ini dimanfaatkan oleh pekerja, pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, hingga masyarakat yang melakukan perjalanan untuk mengakses berbagai layanan di kawasan Jabodetabek. Kehadiran transportasi massal berbasis rel menjadi pilihan yang efisien, terjangkau, dan andal di tengah tingginya mobilitas perkotaan.
Seiring meningkatnya jumlah pelanggan, tingkat okupansi pada jam sibuk juga terus bertambah. Saat ini, okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara lintas Commuter Line lainnya. Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor berada pada kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa tingginya tingkat kepadatan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sarana dan infrastruktur yang saat ini tersedia di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.
“Permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung terus meningkat. Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujar Bobby.
Langkah pertama yang akan dilakukan adalah penguatan sistem Listrik Aliran Atas (LAA) pada lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Saat ini daya listrik pada lintas tersebut berada pada level 3.000 volt, sementara lintas Bogor dan Bekasi telah didukung daya sebesar 4.000 volt. Perbedaan kapasitas tersebut menyebabkan rangkaian dengan stamformasi 12 kereta belum dapat dioperasikan sehingga kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penguatan pasokan daya ini menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional rangkaian 12 kereta. Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat sehingga ruang gerak pelanggan saat jam sibuk menjadi lebih baik.
Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan sebagai regulator perkeretaapian nasional. Kolaborasi ini mencakup perencanaan penguatan sistem kelistrikan, pengembangan kapasitas lintas, hingga modernisasi sistem operasi yang diperlukan untuk menjawab pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat di koridor Tanah Abang–Rangkasbitung.
Manfaat dari penguatan sistem kelistrikan tersebut akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Kapasitas angkut yang lebih besar akan membuka peluang tersedianya layanan yang lebih nyaman, mengurangi tingkat kepadatan pada perjalanan tertentu, serta mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang di wilayah barat Jabodetabek.
Selain penguatan daya listrik, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan juga akan melakukan modernisasi sistem persinyalan. Saat ini sebagian sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Dalam sistem tersebut, satu blok yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta pada waktu yang sama.
Kondisi tersebut berdampak pada headway perjalanan yang saat ini berada pada kisaran 10 menit. Sebagai perbandingan, lintas Bekasi dan Bogor telah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar 3 hingga 4 menit. Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat.
Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan. Dengan pilihan perjalanan yang semakin banyak, distribusi pelanggan dapat berlangsung lebih merata sehingga kualitas layanan secara keseluruhan turut meningkat.
“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik,” tambah Bobby.
KAI memandang peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan. Seiring berkembangnya pusat permukiman, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial di sepanjang lintas tersebut, kebutuhan terhadap transportasi massal yang aman, andal, dan berkapasitas besar akan terus meningkat.
Melalui kolaborasi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan, penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan diharapkan mampu menghadirkan kapasitas layanan yang lebih besar, frekuensi perjalanan yang lebih rapat, serta pengalaman perjalanan yang semakin nyaman bagi masyarakat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
“Kolaborasi antara KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung. Melalui penguatan infrastruktur dan sistem operasi yang dilakukan secara bertahap, kapasitas layanan dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat memperoleh perjalanan yang semakin nyaman, aman, dan andal di masa mendatang,” tutup Anne.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
.png)

















































