UBS Perluas Skala dan Cakupan Program Unggulan Asian Investment Conference di Hong Kong dan Singapura

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) – Berlangsung di Singapura dan Hong Kong dari tanggal 25 hingga 29 Mei, program pan-Asia yang diperluas dan diadakan selama sepekan ini menyambut rekor baru dengan lebih dari 6,000 peserta di kedua lokasi tersebut. Forum investasi unggulan UBS ini mempertemukan para pembuat kebijakan global, pemimpin bisnis, dan investor untuk berbagi pandangan mengenai pasar, kebijakan, serta tema investasi jangka panjang.

Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan pemaparannya di hadapan para hadirin dalam UBS Asian Investment Conference (AIC) dan membagikan bagaimana Indonesia memetakan jalan ke depannya di tengah dinamika perdagangan yang terus berubah dalam lingkungan geopolitik saat ini.

Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, menyatakan: "Perekonomian Indonesia terus ditopang oleh faktor penggerak domestik yang kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, manufaktur, dan jasa. Pada saat yang sama, disiplin fiskal tetap menjadi jangkar bagi kredibilitas kebijakan kami. Batas maksimal defisit sebesar 3% bukan hanya aturan fiskal, melainkan sebuah sinyal atas komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan. Bahkan di tengah volatilitas global, pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap tangguh, didukung oleh kredibilitas kebijakan dan basis investor domestik yang stabil. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber), guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi."

Joshua Tanja, Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, menyatakan: "Asian Investment Conference tahun 2026 di Singapura dan Hong Kong mempertemukan lebih dari 6.000 investor global dan memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan dengan perusahaan publik, perusahaan swasta, dan investor. Acara ini menyajikan diskusi makro yang mencakup perdagangan global, komoditas, dan perubahan kebijakan dengan latar belakang dinamika kebijakan dan perdagangan global. Dengan jajaran pembicara internasional yang luar biasa, saya merasa terhormat atas kehadiran Pak Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, yang memaparkan lanskap investasi Indonesia di AIC. Untuk Indonesia, UBS optimis bahwa prospek pertumbuhan akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa. Konsumsi rumah tangga juga mendapat manfaat dari dukungan fiskal yang tepat sasaran, yang diharapkan dapat menopang pertumbuhan dalam jangka pendek."

Sorotan Program di Kedua Konferensi

Agenda utama di kedua konferensi ini mencakup rangkaian dialog utama (keynote conversations) yang kuat, diskusi panel yang mendalam, acara sampingan (side events), serta tur riset yang dipimpin oleh UBS:

● Teknologi, Kekuatan, dan Masa Depan Pertumbuhan – Dialog antara Simon Johnson (Peraih Nobel 2024) dan The Hon Dr Kevin Rudd A.C. (Presiden dan CEO Asia Society; Mantan Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat; Perdana Menteri Australia ke-26), mengenai bagaimana politik dan teknologi membentuk kembali pertumbuhan global, inflasi, dan arus modal.

● Modal Global di Titik Infleksi – David Rubenstein (Co-Founder dan Co-Chairman Carlyle) dalam percakapan dengan Iqbal Khan (Co-President UBS Global Wealth Management dan President UBS Asia Pacific) mengenai pasar, investasi, dan peluang jangka panjang.

● Apa Langkah Selanjutnya untuk Kebijakan Moneter? – Perspektif dari Adrian Orr (mantan Gubernur Reserve Bank of New Zealand periode 2018-2025) dan Charles Evans (mantan Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of Chicago periode 2007-2023).

● Geopolitik: Siapa yang Memegang Kendali? – Wawasan dari para pemimpin politik terkemuka seperti Alastair Campbell (Mantan Juru Bicara, Sekretaris Pers, dan Direktur Komunikasi & Strategi Perdana Menteri Inggris Tony Blair); Dr Ng Eng Hen (Mantan Menteri Pertahanan Singapura periode 2011-2025); dan Carla Sands (Duta Besar AS untuk Kerajaan Denmark periode 2017-2021), mengenai lanskap global yang terus berkembang.

● Menavigasi Pertumbuhan, Stabilitas, dan Reformasi dalam Perekonomian Jepang – Satsuki Katayama (Menteri Keuangan Jepang, Menteri Negara Layanan Keuangan, dan Menteri yang bertugas Meninjau Tindakan Khusus Terkait Perpajakan dan Subsidi) mengenai peran Jepang dalam tatanan ekonomi dan keuangan global yang sedang bergeser.

● Fase Berikutnya dari Perekonomian Tiongkok – Dr Huang Haizhou, pakar ekonomi keuangan makro terkemuka Tiongkok dan anggota Komite Kebijakan Moneter PBoC (Bank Sentral Tiongkok), akan memberikan pandangan mengenai perkembangan ekonomi Tiongkok.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online