Wakil Rektor UI Tak Akan Larang Diskusi Film Pesta Babi

7 hours ago 10

WAKIL Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa dan Alumni Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menyatakan pihaknya tidak akan melarang sivitas akademika jika ingin menggelar diskusi film Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale di lingkungan kampus. 

"Kemarin ditanyain gitu kan, Ini ada yang mau diskusi film Pesta Babi, universitas melarang? Ya enggak lah saya bilang, bagaimana? Orang itu kan kalau diskusi bagian dari kebebasan akademik kan," kata Hamdi.

Menurut Hamdi, sivitas akademika pasti bisa membedakan antara provokasi dan bukan. Sebab, ia menilai warga kampus memiliki nalar dan kritis. "Kita enggak akan terpengaruh gitu. Kalau diputar di SD baru dilarang sama Kodim, kalau universitas ya enggak usah dilarang lah," ujar Hamdi. 

Guru Besar Psikologi Politik Fakultas Psikologi UI ini menjelaskan bahwa diskusi merupakan kebebasan akademik yang biasa dilakukan di universitas. "Biasa aja, tapi intinya itu kebebasan akademik. Kebebasan akademik enggak masalah," kata Hamdi. 

Hamdi mengatakan universitas memiliki mimbar akademik, sehingga kegiatan diskusi harus diletakkan dalam konteks akademik. "Apakah itu film, apakah buku, apakah kejadian, sepanjang itu formatnya adalah diskusi akademik, yaitu bagian dari proses mengasah nalar gitu loh, mengasah nalar," ujarnya. 

Sebelumnya, nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara pada Jumat, 8 Mei 2026 dibubarkan oleh prajurit Kodim 1501/Ternate. Komandan Kodim 1501/Ternate Letnan Kolonel Jani Setiadi beralasan pembubaran dilakukan berdasarkan diskursus dan aduan di media sosial yang menilai film tersebut bersifat provokatif. “Ini bukan pendapat pribadi saya. Jika tidak percaya, saya akan tunjukkan banyak sifat provokatif menurut masyarakat di media sosial,” kata Jani di Ternate, Jumat.

Ketua AJI Ternate Yunita Kaunar mengatakan pembubaran oleh prajurit TNI merupakan bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi masyarakat sipil.

Film dokumenter “Pesta Babi” menggambarkan dampak ekspansi lahan dan industri terhadap hilangnya hutan adat, pangan tradisional, serta kedaulatan warga lokal di Papua. Film berdurasi sekitar 90 menit itu menyoroti perjuangan masyarakat adat di Papua, seperti di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, dalam melawan ekspansi serta keterlibatan militer dalam proyek strategis nasional (PSN).

Pilihan Editor: Tentara, Kok, Merazia Diskusi Film 'Pesta Babi'

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online