Jakarta -
Mastitis merupakan sebuah kondisi yang umum terjadi pada ibu menyusui, terutama saat awal-awal periode tersebut. Karena seringkali disertai infeksi, tak sedikit ibu menyusui yang mengira pemberian antibiotik merupakan solusi utama, Bunda.
Padahal, mastitis memiliki beberapa cara pengobatan yang akan ditentukan dari seberapa parah gejala dan kondisi pasien. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengobatan antibiotik tidak selalu cocok untuk ibu dengan mastitis.
Agar Bunda mengetahui bagaimana cara menangani mastitis dengan tepat dan aman, maka penting untuk memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan sejak gejala awal hingga penanganan medisnya. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Mengenal kondisi mastitis
Mengutip dari berbagai sumber, mastitis merupakan peradangan yang terjadi pada saluran kelenjar susu, alveoli, serta jaringan payudara yang sering kali disebabkan oleh saluran ASI yang tersumbat atau infeksi bakteri. Setidaknya, mastitis akan menyerang 1 dari 4 ibu yang sedang menyusui.
Dapat dikatakan bahwa, mastitis umum dialami oleh ibu menyusui selama 6 sampai 12 minggu pertama setelah melahirkan. Terlebih bila ibu mengalami hiperlaktasi atau produksi ASI berlebih yang disertai dengan penyaluran ASI yang kurang baik.
Mastitis yang tidak ditangani dengan baik dapat menjadi abses, yakni terbentuknya kumpulan nanah dalam jaringan payudara. Oleh karena itu, pengobatan mastitis harus dilakukan dengan segera sebelum kondisinya semakin parah, Bunda.
Terdapat beberapa kondisi mastitis, Bunda. Mulai dari mastitis inflamasi, di mana jaringan payudara yang meradang karena ASI yang tersumbat, hingga mastitis bakteri atau kondisi mastitis yang lebih parah dan terjadi pertumbuhan bakteri dalam jaringan payudara.
Gejala mastitis
Baik mastitis inflamasi ataupun mastitis bakteri, penderitanya akan merasakan beberapa gejala seperti nyeri payudara dan sensitif saat disentuh, kemerahan, bengkak, hingga produksi ASI menurun drastis. Pada beberapa kasus, dapat disertai dengan demam, menggigil, dan badan terasa pegal.
Dalam mendiagnosis mastitis, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terlebih pada perubahan fisik payudaranya. Namun, perlu diperhatikan bahwa tanda kemerahan pada payudara terkadang tidak terlalu terlihat pada kulit yang gelap, Bunda.
Untuk memastikan kondisi tersebut, dokter juga menanyakan apa yang dirasakan di area tersebut, seperti nyeri, ada bagian yang terasa keras, kemerahan, serta rasa hangat pada payudara. Selain itu, pemeriksaan lain seperti tekanan darah, detak jantung, dan demam dapat dilakukan.
Jika gejala tidak membaik atau justru memburuk dalam waktu 24-48 jam, terutama bila muncul benjolan di area tersebut, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan kondisi lain seperti flegmon (peradangan jaringan lunak), abses, atau galaktokel (benjolan berisi cairan ASI) yang terinfeksi.
Bila kondisi tersebut terjadi semakin parah dan mengarah ke dugaan infeksi, dokter akan menyarankan pemeriksaan tambahan seperti USG payudara dan pemberian terapi antibiotik. Selain itu, pemeriksaan ASI juga dapat dilakukan jika mastitis tidak membaik setelah diberi antibiotik yang pertama.
Cara mengatasi mastitis sejak awal, tidak harus pakai antibiotik
Seperti yang sudah kita pahami bahwa pemberian antibiotik pada mastitis dilakukan ketika kondisi tersebut sudah semakin parah dan terdapat indikasi infeksi bakteri. Nah, untuk penanganan yang lebih dini, Bunda dapat terapkan beberapa hal berikut, dikutip dari laman Cleveland Clinic.
- Melanjutkan pemberian ASI: Hindari menghentikan pemberian ASI sebab memberikan ASI dapat menguras sumbatan pada saluran ASI. Jika dihentikan, maka ASI akan menumpuk dan kondisi semakin parah hingga meningkatkan risiko abses.
- Pijat payudara: Bunda dapat lakukan pijatan ringan dengan gerakan menyapu ke arah jaringan kelenjar getah bening di sekitar ketiak dan atas tulang selangka untuk melancarkan aliran. Cukup berikan tekanan yang lembut dan gentle.
- Memerah ASI: Jika payudara sangat bengkak, dokter menyarankan agar Bunda memerah ASI dengan tangan karena jauh lebih efektif untuk meredakan mastitis dibandingkan pumping. Tentunya dilakukan dengan teknik memerah yang benar dan tepat, ya Bunda.
Pengobatan dengan antibiotik untuk mastitis tingkat lanjut
Seperti yang disampaikan sebelumnya, pemberian antibotik dilakukan bila mastitis sudah sangat parah. Meski begitu, Bunda juga perlu mengetahui jenis antiobiotik seperti apa yang akan digunakan selama pengobatan mastitis tingkat lanjut.
Antibiotik pertama kali yang diberikan saat mastitis sudah cukup parah adalah obat dikloksasilin dan sefaleksin. Kedua obat ini dapat diminum sebanyak 4 kali sehari dan rutin selama 10 sampai 14 hari.
Apabila kondisi belum membaik, maka biasanya dokter akan memberikan antibiotik lain seperti klindamisin sebanyak 4 kali sehari dan trimetoprim-sulfametoksazol sebanyak 2 kali sehari. Namun, trimetoprim-sulfametoksazol tidak disarankan untuk beberapa kondisi seperti, kehamilan bayi prematur, bayi kuning, atau defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase.
Demikian penjelasan mengenai penggunaan antibiotik pada ibu dengan mastitis saat menyusui. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
12 hours ago
8
















































