Jakarta -
Jika Bunda dan keluarga berencana liburan ke Jepang tahun ini, sebaiknya pertimbangkan menyisihkan sedikit anggaran tambahan untuk perjalanan tersebut.
Dengan nilai tukar yen yang berada pada titik terendah sepanjang sejarah, perjalanan ke destinasi yang secara historis merupakan tujuan wisata berbiaya besar ini menjadi jauh lebih terjangkau bagi para pelancong.
Namun, beberapa perubahan signifikan akan terjadi bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepang tahun ini, yang dapat membuat liburan ke Negeri Sakura itu jauh lebih mahal.
Lantas, apa saja yang mengalami kenaikan biaya di Jepang? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Jepang menerapkan pajak hotel di salah satu kota populer
Dilansir dari laman Forbes, pada akhir tahun 2025, Jepang memberikan lampu hijau untuk pajak hotel tertinggi yang pernah ada dalam upaya untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan.
Kyoto dengan cepat menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Jepang, yang memicu frustrasi tentang pariwisata berlebihan.
Pada 2024, kota tersebut membatasi akses ke beberapa gang milik pribadi tempat turis berbondong-bondong untuk melihat geisha dan murid-murid maiko yang mengenakan kimono tradisional dengan hiasan rambut dan makeup, serta menampilkan tarian dan musik.
Jalan-jalan di distrik Gion ditutup untuk pengunjung setelah adanya keluhan tentang perilaku yang tidak pantas.
Pihak berwenang mengatakan bahwa pajak akomodasi baru di Kyoto tidak secara khusus ditujukan untuk menghalangi wisatawan, melainkan untuk memastikan pengunjung menanggung biaya tindakan penanggulangan terhadap pariwisata berlebihan.
Pajak baru ini mulai berlaku pada 1 Maret. Berdasarkan sistem ini, tamu yang menginap di hotel mewah akan dikenakan biaya mulai dari US$66 atau sekitar Rp1 juta per malam, sedangkan mereka yang menginap di akomodasi kelas menengah akan membayar antara US$6.50 dan US$27 (Rp103 ribu dan Rp429 ribu).
“Meskipun biayanya cukup tinggi, hal ini hanya terjadi di Kyoto sebagai upaya untuk mengatasi masalah pariwisata berlebihan di kota kuno tersebut,” ungkap manajer PR untuk operator perjalanan Inside Japan Tours, James Mundy.
Jepang akan menaikkan biaya visa dan keberangkatan
Biaya visa Jepang tetap tidak berubah selama beberapa dekade, sehingga tergolong cukup terjangkau dengan negara lain.
Saat ini, visa sekali masuk berharga US$20 atau Rp320 ribu dan visa beberapa kali masuk US$40 atau Rp640 ribu.
Namun, hal ini masih sedang ditinjau, dengan pemerintah mengusulkan untuk menaikkan biaya menjadi US$100 atau Rp1,6 juta untuk sekali masuk dan US$200 atau Rp3,2 juta untuk beberapa kali masuk, mulai April 2026.
Pihak berwenang juga menaikkan pajak keberangkatan internasional agar sesuai dengan standar. Ini adalah pungutan yang dikenakan kepada semua orang yang meninggalkan negara tersebut, biasanya melalui penerbangan.
Mulai Juli 2026, tarifnya akan naik tiga kali lipat menjadi Rp320 ribu per orang untuk semua pelancong (berusia dua tahun ke atas) yang meninggalkan negara tersebut melalui jalur udara atau laut.
Japan Rail Pass akan menjadi lebih mahal mulai Oktober
Para wisatawan yang bepergian keliling Jepang biasanya menggunakan kereta api, juga akan menghadapi biaya yang lebih tinggi.
Mulai 1 Oktober, harga Japan Rail Pass (JR Pass) akan naik sebesar Rp330 ribu menjadi Rp5,8 juta untuk tiket tujuh hari dewasa di gerbong kereta standar.
Harga tiket mingguan dewasa untuk Green Car premium akan naik sebesar Rp440 ribu menjadi Rp8,1 juta.
Harga tiket terusan 21 hari akan naik sebesar Rp550 ribu menjadi Rp11 juta untuk penumpang dewasa di gerbong biasa, dan sebesar Rp770 ribu menjadi Rp16 juta untuk mereka yang memilih kursi premium.
JR Pass tersedia bagi pengunjung yang memasuki Jepang dengan visa turis 14 hari atau 90 hari. Pass ini memungkinkan perjalanan kereta api tanpa batas di seluruh negeri, termasuk sebagian besar layanan kereta cepat.
Jika ingin menghemat uang, kunjungi platform online resmi, Japan Rail Pass Reservation, di mana harga akan tetap tidak berubah untuk waktu terbatas.
Situs informasi perjalanan Japan Guide mencatat bahwa kenaikan harga tersebut membuat tiket terusan menjadi kurang ekonomis.
“Tiket terusan tersebut sudah mengalami kenaikan harga besar-besaran pada tahun 2023, yang sangat mengurangi daya tariknya,” tulis perusahaan itu di situs webnya.
Nah, itulah daftar biaya yang mungkin akan mengalami kenaikan pada 2026. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
.png)
3 hours ago
7
















































