Dewan Pers Soroti Fenomena Ledakan Informasi di Ruang Publik, Didominasi Muatan Kurang Berkualitas

1 hour ago 1

loading...

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat memberikan keterangan pada Konferensi Pers Penyampaian Kinerja Dewan Pers di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Foto: Niko Prayoga

JAKARTA - Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyoroti fenomena ledakan informasi di ruang publik yang terus terjadi di era digital saat ini. Hal tersebut lebih mempengaruhi masyarakat dibandingkan dengan produk pers.

Menurut dia, ruang publik saat ini semakin melebar dan bersifat bebas. Salah satunya seperti media sosial. Namun, kondisi itu tidak dibarengi dengan kualitas informasi yang dimuat di dalamnya.

Baca juga: Dewan Pers: Negara Berkewajiban Atas Kemerdekaan Pers

“Misalnya banyaknya hoaks, kemudian kualitas informasi yang tidak bermutu yang saya kira ini ruang publik, wacana publik itu isinya sebagian tidak berkualitas,” ujar Komaruddin dalam Konferensi Pers Penyampaian Kinerja Dewan Pers di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dia mencontohkan salah satunya seperti dalam Pidato Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, informasi yang beredar di ruang publik dari pidato Presiden yang berisi agenda strategis bangsa justru malah didominasi oleh sampiran-sampiran tertentu.

“Bahkan yang viral menjadikan heboh mendominasi itu kan sebagian efek dari sampiran pidato-pidato presiden misalnya. Pidato-pidato yang strategis, yang mendasar secara agenda bangsa itu kadang dikalahkan oleh ucapan-ucapan sampiran-sampiran seperti misalnya gaji pengupas bawang, kemudian hasil penggilingan padi yang dua triliun sebulan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadikan ruang publik justru diisi oleh berbagai hal yang tidak substansial. Maka itu, Komaruddin menilai perlu adanya pembeda antara konteks strategi pembangunan dalam video Presiden Prabowo yang disampaikan.

“Kemudian apa lagi yang ngisi di ruang publik? Petani yang jalan-jalan ke luar negeri. Yang itu semua mendapatkan pujian dari Presiden bahwa MBG sukses. Padahal juga banyak kasus-kasus. Nah, itu sesungguhnya bagi saya perlu dibedakan dari strategi pembangunan visi Presiden Prabowo. Tapi yang dominan di ruang publik ini adalah hal-hal yang tidak substansial,” ujar Komaruddin.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online